Saya pernah ditanya dengan pertanyaan yang saya rasa aneh oleh salah seorang teman lama yang kebetulan ketemu di Bandara Soekarno Hatta. Pada waktu itu, kami berdua sama-sama menunggu keberangkatan pesawat. Saya akan pulang ke Malang, sedangkan teman saya itu akan pulang ke Semarang.
Pertanyaan teman yang saya anggap aneh itu adalah, bagaimana caranya agar menjadi pemimpin itu tidak bosan. Mungkin dia pada waktu itu tahu, bahwa saya sudah sekian lama memimpin perguruan tinggi, yaitu sejak di Universitas Muhammadiyah Malang dan berlanjut memimpin STAIN yang kemudian berubah menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Teman saya ini mengaku baru beberapa lama menjadi Rektor Universitas Diponegoro Semarang, namun sudah merasa tidak membayangkan, atau tidak berkeinginan untuk berlanjut hingga menjadi sekian lama sebagaimana yang saya alami. Sebelum menjawab, saya menangkap bahwa di balik pertanyaan itu ada pengakuan bahwa menjadi pemimpin itu tidak mudah dan karena itu membosankan.
Menanggapi pertanyaan tersebut, saya mengatakan bahwa pemimpin itu sebenarnya menyenangkan dan oleh karena itu tidak akan pernah membosankan. Setiap orang tidak akan bosan dengan sesuatu yang menyenangkan. Manakala memimpin itu dirasa berat, tentu akan segera membosankan dan juga melelahkan. Maka hal yang perlu direnungkan adalah, bagaimana memimpin yang menyenangkan itu.
Tugas pemimpin itu sebenarnya hanya mengajak dan mengarahkan orang pada tujuan yang diinginkan. Manakala keinginan itu sudah diketahui oleh semua yang dipimpin dan mereka juga sudah menyetujui dan mau melaksanakan, maka apa yang sulit. Apalagi semua orang yang dipimpin juga sudah mengetahui cara mengerjakannya, tahu hambatan dan mengerti cara menghilangkanya, maka semua pekerjaan itu sangat mudah ditunaikan.
Apapun beratnya, pekerjaan itu akan menjadi semakin mudah diselesaikan manakala semua orang berhasil disenangkan atau digembirakan. Oleh karena itu, modal utama seorang pemimpin adalah kemampuan menyenangkan orang. Manakala orang sudah menyenangi pekerjaannya dan apalagi bangga dengan posisinya, maka artinya selesailah tugas pemimpin itu. Pekerjaan pemimpin itu sudah selesai sebelum selesai dikerjakan oleh anak buahnya.
Agar semua orang mau bekerja dengan tulus dan menjalaninya dengan gembira, maka cara tepat adalah gembirakan semua anak buahnya. Supaya mereka itu gembira, maka caranya juga tidak terlalu sulit. Yaitu, mereka harus merasa dipercaya, dihargai, diorangkan atau diakui akunya, digembirakan, dan atau dianggap mampu. Suasana yang menyenangkan itu akan tumbuh dengan sendirinya manakala sillaturrahmi dihidupkan. Itu saja sebenarnya tugas pemimpin, yaitu sederhana dan juga tidak membosankan. Wallahu a'lam.



