Menggerakkan Para Penyandang Gelar Doktor
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 5 Februari 2014 . in Dosen . 4598 views

Mungkin oleh orang-orang tertentu, judul tulisan ini bisa saja dianggap aneh. Sebab semestinya, seorang Doktor atau orang yang telah berpendidikan S3, tugasnya adalah menggerakkan orang, dan bukan sebaliknya, yaitu justru harus digerakkan. Jika Dktor saja harus digerakkan, maka apa jadinya untuk mereka yang berpendidikan S1 atau jugaS2.

Namun juga menjadi tidak terasa aneh, manakala melihat kenyataan sehari-hari bahwa seseorang menjadi penggerak tidak harus berpendidikan S3. Apalagi, setiap komunitas selalu muncul seseorang atau beberapa orang sebagai pemimpinnya. Sementara itu tidak semua komunitas selalu ada orang yang berpendidikan, tetapi tokh selalu ada yang muncul sebagai pemimpinnya. Maka pemimpin itu biasanya menjadi kekuatan penggerak, sekalipun misalnya tidak pernah mengenyam pendidikan.

Pertanyaan tentang bagaimana menggerakkan para Doktor, saya dapatkan dari banyak pimpinan kampus. Lembaga yang saya maksudkan itu rupanya sudah memiliki banyak dosen yang berpendidikan S3. Akan tetapi, mereka yang bergelar Doktor itu ternyata belum mampu berbuat maksimal sebagaimana diharapkan. Bahkan ada yang memberikan informasi bahwa, setelah lulus pendidikan Doktor, mereka ternyata masih sama dengan sebelum mendapatkan gelar akademik tertinggi itu.

Para Doktor dimaksud sehari-hari hanya memberi kuliah, membimbing penulisan karya ilmiah, dan sejenisnya sebagaimana tugas-tugas di kampus pada umumnya. Bagi yang memperoleh tugas tambahan, seperti menjadi ketua dan sekretaris jurusan, dekan atau wakil dekan, rektor atau wakil rektor, mereka melaksanakan tugas administrasi kampus. Sehari-hari mereka memiliki tugas yang jelas sebagaimana tugas tambahan itu. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana bagi mereka yang sama sekali tidak memiliki tugas tambaha. Mereka yang berposisi seperti disebutkan terakhir ini yang dipertanyakan adalah bagaimana memberdayakan mereka itu.

Memang semestinya, seseorang menempuh pendidikan Doktor atau S3 bukan hanya sekedar agar bisa menduduki jabatan tertentu dan strategis di kampus, melainkan agar menjadi seorang ilmuwan. Tugas para ilmuwan adalah mengembangkan ilmu, melakukan kegiatan penelitian, penulisan karya ilmiah, dan semacamnya. Tugas para Doktor adalah berpikir, meneliti, dan memberikan ilmunya kepada mereka yang memerlukan, baik di kalangan mahasiswa, teman sejawat, atau juga masyarakat luas. Beberapa hal yang di antaranya disebutkan itulah yang menjadi tugas pokok mereka yang sebenarnya.

Status sebagai rektor, dekan, ketua jurusan dan seterusnya adalah disebut tugas tambahan. Tugas pokok mereka sebagai seorang Doktor dan atau profesor masih tetap, yaitu agar bekerja dalam kaitannya dengan pengembangan ilmu. Mereka masih harus meneliti, menulis buku, mengikuti seminar-seminar dalam pengembangan keilmuan, memberikan kuliah, membimbing penulisan karya ilmiah dan semacamnya. Oleh karena itu sebenarnya, menggerakkan para lulusan S3 atau dosen yang bergelar Doktor adalah cukup memberi suasana agar mereka secara maksimal bisa berhasil mengembangkan ilmu yang disandangnya itu.

Namun rupanya tugas itu tidak mudah dilakukan. Keterbatasan dana dan daya dukung lainnya pasti menjadikan alasan yang mudah diterima. Biasanya dosen bergelar Doktor tidak bisa melakukan penelitian dan membuat karya-karya ilmiah lainnya dengan alasan tidak tersedia dana untuk menunjang kegiatannya itu. Akibatnya, semangat dan rencana-rencana yang dilandasi oleh idealisme yang tinggi pun gagal dilaksanakan. Maka itulah sebabnya, disebutkan bahwa tidak gampang menggerakkan dosen bergelar Doktor agar lebih produktif. Kendalanya adalah ketersediaan dana yang biasanya terbatas itu.

Akan tetapi sebenarnya, manakala para lulusan S3 itu mau mencari peluang-peluang sendiri dengan memanfaatkan ilmu dan kreatifitasnya, sekedar mendapatkan pendanaan, ----------sekalipun tidak mudah, kemungkinan itu masih ada. Komunikasi atau jaringan di antara mereka yang memiliki kesamaan bidang keilmuan bisa dijadikan pintu masuk untuk mendapatkan peluang-peluang pendanaan itu. Memang hal itu tidak selalu mudah dilakukan, tetapi keluasan jaringan komunikasi, sesuatu yang semula sulit berubah menjadi mudah.

Maka sebenarnya, para penyandang gelar Doktor tidak perlu digerakkan. Tugas para lulusan S3 adalah menggerakkan orang lain. Pertemuan-pertemuan rutin di kampus untuk melakukan kajian bersama, akan melahirkan suasana penggerak, melahirkan inspirasi, dan bisa dijadikan modal untuk mencari jalan keluar itu. Yang diperlukan oleh para Doktor adalah iklim untuk mengembangkan diri. Memang, perguruan tinggi yang bertaraf masih sedang berkembang, atau belum menyandang nama besar, maka kesulitan itu selalu dirasakan. Berbeda dengan itu adalah perguruan tinggi yang sudah memiliki nama dan reputasi tinggi, peluang pengembangan diri para dosen sudah tidak dirasakan sebagai masalah. Itulah sebabnya, membangun kepercayaan dan juga menjaga nama besar kampus menjadi sangat penting dilakukan secara terus menerus. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up