Mengukur Kualitas Keber-Islaman Dari Cara Mengasihi Sesama
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 20 Februari 2014 . in Dosen . 1481 views

Untuk mengukur keber-Islaman seseorang bisa lewat beberapa cara, tetapi yang lebih umum adalah melihat dari keaktifan seseorang dalam menjalankan kegiatan ritual, seperti shalat, puasa, zakat, dan juga haji. Orang yang sehari-hari telah menjalankan beberapa jenis kegiatan ritual itu, maka disebut telah menjalankan Islam dengan baik.

Hal demikian itu sebenarnya tidak salah, oleh karena kegiatan ritual adalah bagian penting dari Islam. Bahkan ada hadits nabi yang intinya mengatakan bahwa, segala amal akan dilihat dari kualitas shalatnya. Manakala shalatnya baik, maka kegiatan yang lain akan menjadi baik, dan demikian pula sebaliknya. Sebagai seorang muslim, maka dalam sehari semalam harus menjalankan kewajiban shalat lima waktu.

Akan tetapi bahwa sebenarnya shalat yang dijalankan oleh seseorang harus memberi dampak positif pada perilaku yang bersangkutan. Shalat harus membuahkan bekas kebaikan, di antaranya adalah kesediaan mencintai atau menyayangi sesama. Dalam hadits nabi juga disebutkan, bahwa tidak sempurna iman seseorang hingga yang bersangkutan sanggup mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

Kegiatan shalat akan memberi bekas kepada pelakunya sendiri manakala dijalankan oleh orang yang beriman. Semua kegiatan ritual, tidak terkecuali shalat, harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, benar, tulus dan ikhlas hanya karena Allah. Shalat tidak boleh dilakukan hanya sebatas formalitas, atau sekedar memenuhi kewajiban. Diajarkan bahwa shalat harus dijalankan dengan khusu'.

Sebagaimana disebutkan di muka, bahwa kegiatan ritual seharusnya membuahkan perilaku mulia, di antaranya ialah kesanggupan untuk menyayangi sesama. Sementara itu, kasih sayang atau saling mencintai, adalah perbuatan hati, ialah bagian manusia yang paling dalam. Namun demikian, perbuatan itu seharusnya selalu diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari. Seseorang disebut telah menjalin kasih sayang atau saling mencintai dengan sesama, tetapi tidak memberi dampak apa-apa kepada yang disayangi, maka artinya kasih sayang itu hanyalah palsu belaka.

Oleh karena itu, konsep kasih sayang ini seharusnya diimplementasikan dalam berbagai kegiatan, misalnya kegiatan ekonomi, pendidikan, sosial, politik, ilmu pengetahuan, teknologi, dan lain-lain. Atas dasar kasih sayang misalnya, maka kegiatan ekonomi tidak boleh merugikan orang lain, dan bahkan seharusnya adalah sebaliknya, yaitu justru menguntungkan. Manakala konsep Islam ini dijadikan pegangan, maka praktek-praktek ekonomi liberal, kapitalis, dan semacamnya tidak boleh tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat muslim. Praktek ekonomi semacam itu jauh dari nilai-nilai kasih sayang dan bahkan menjauhkan antar sesama.

Praktek ekonomi kapitalis, liberalis, dan semacamnya yang hanya akan memberikan kepuasan kepada sekelompok orang dan mensengsarakan terhadap kelompok lain yang lebih besar jumlahnya akan melahirkan kesenjangan. Selanjutnya, kesenjangan itu sendiri akan menumbuh-kembangkan sifat-sifat tercela yang tidak dikehendaki oleh Islam. Kasih sayang atau saling mencintai antar sesama semestinya dijadikan dasar dalam membangun perekonomian bersama. Sebaliknya, bukan berebut, dan apalagi perebutan yang berdampak mensengsarakan orang lain.

Contoh lainnya adalah dalam berpolitik. Politik diartikan sebagai cara manusia untuk meraih kesejahteraan bersama. Tujuan itu lagi-lagi akan gagal manakala tidak didasari oleh suasana kasih sayang atau saling mencintai. Berebut pengaruh atau kekuasaan, dan apalagi dilakukan dengan menggunakan segala cara, seperti suap menyuap, sogok menyogok, memanipulasi, membeli suara, dan seterusnya, maka justru akan menjadi perusak kehidupan bersama. Sekalipun politik itu berlabel Islam, tetapi manakala dijalankan atas dasar nilai-niali yang jauh dari kasih sayang dan atau saling mencintai, maka sebenarnya hal itu bukanlah cara Islam. Keber-Islaman seharusnya diukur dari adanya kasih sayang atau saling mencintai sesama. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up