Bisa saja orang membayangkan bahwa partai politik Islam di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, seperti di Indonesia ini, pasti menang. Akan tetapi pada kenyataannya tidak selalu demikian. Partai politik Islam di Indonesia seperti PKB, PAN, PBB, PKS, dan PPP belum termasuk partai politik yang tergolong besar. Partai politik ini masih kalah suara dibanding dengan Partai Golkar, PDIP, dan yang besar lainnya.
Orde baru pimpinan Presiden Soeharto ternyata berhasil mengubah pandangan masyarakat secara mendasar, yaitu terkait antara berpatai politik dan beragama. Sebelum itu, antara berpatai politik dan beragama tampak berkorelasi. Orang yang beragama Islam, sekalipun tidak selalu, maka dapat diduga akan mendukung partai politik Islam. Orang Islam taat, secara politis, akan mendukung partai politik Islam seperti Parmusi, NU, PSI, dan lainnya.
Sejak awal Presiden Soeharto berkuasa, ia melakukan restrukturisasi partai politik, dari multi partai menjadi dua partai politik, yaitu PPP dan PDI, serta Golongan Karya. Memang ketika itu agaknya aneh, Golongan Karya tidak mau disebut sebagai partai politik, tetapi ikut pemilu. Hal itu bisa terjadi dan dilakukan, oleh karena Golongan Karya, ketika itu, adalah merupakan partai milik penguasa.
Pemerintah pada waktu itu tidak saja menjadikan Golongan Karya sebagai kekuatan pendukungnya, tetapi juga berusaha membesarkan dan memperkokohnya. Oleh pemerintah yang sedang berkuasa ketika itu, Golongan karya dijadikan sebagai partai mayoritas. Kebijakan itu dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya adalah mengupayakan agar elite agama (Islam) menjadi bagian dari kekuatan partai pendukung pemerintah ini.
Ketika itu, para elite agama bukan dengan suka rela masuk pada Golkar tetapi dengan berbagai caranya, mereka dimasukkan ke partai pemerintah ini. Secara organisatoris, untuk mewadahi para elite agama, maka di internal Golkar didirikan organisasi dakwah, seperti MDI, GUPPI, Al Hidayah, dan lain-lain. Secara individual, pemerintah dalam mendekati para elite agama, juga melakukan kegiatan yang mendatangkan simpatik, seperti mereka ikut tarweh keliling, berbuka puasa bersama di bulan ramadhan, sema'an al Qur'an, haji dan atau umrah bersama.
Berbagai proses pendekatan penguasa atau birokrat kepada para elite agama (Islam) ternyata berdampak luas. Terjadi komunikasi yang semakin dekat antara para elite agama dengan penguasa yang hal itu sebelumnya tidak pernah terjadi. Korelasi antara pemeluk agama dan dalam berafiliasi politik sebagaimana masa sebelumnya menjadi berubah total. Kalau dahulu, elite agama selalu menjadi bagian atau pemimpin partai politik Islam, maka sejak itu banyak elite agama menjadi pemimpin partai politik yang didukung oleh pemerintah, yaitu Golkar.
Hubungan yang sedemikian dekat antara elite agama dan partai politik pendukung pemerintah juga membawa dampak yang tidak sederhana. Kegiatan keagamaan di kalangan pemerintah, seperti lewat MDI, GUPPI, al Hidayah, tarweh keliling, buka puasa bersama, semaan al Qur'an, umrah dan atau haji, dan lain-lain, maka agama menjadi masuk di wilayah birokrasi pemerintah. Adalah menjadi hal biasa di istana atau di kantor-kantor pemerintah diselenggarakan kegiatan pengajian, membaca al Qur'an bersama, dan lain-lain. Kegiatan keagamaan menjadi akrab di kantor-kantor birokrasi.
Lebih dari itu, bisa saja yang pada awalnya, kegiatan itu sekedar sebagai upaya mendekatkan diri kepada para elite agama, para birokrat ikut tarweh keliling, semaan al Qur'an, berbuka bersama, dan juga haji atau umrah, ternyata kebablasan menjadi, -------paling tidak, dianggap sebagai penganut agama yang taat. Setelah para birokrat itu, melaksanakan umrah atau naik haji, maka secara otomatis, mereka kemudian menjadi terlibat atau paling tidak dilibatkan pada urusan masjid atau kegiatan keagamaan lainnya. Selain itu, masyarakat Indonesia yang bersifat primordian, atau cenderung mengikut perilaku para atasannya, maka gerakan menjadi Islam taat semakin luar biasa besarnya.
Sebagai bagian dari dampak masyarakat yang berciri khas primordial itu, maka ketika Pak Harto dan Ibu Tien naik haji, maka terjadi gerakan naik haji dari kalangan pejabat di bawahnya yang luar biasa besarnya. Para menteri, gubernur, bupati, wali kota, anggota DPR, pengusaha, dan bahkan di kalangan perguruan tinggi yang beragama Islam menjadi bersemangat naik haji. Berhaji menjadi terasa elite. Bahkan suasana keberagamaan itu kemudian disusul dengan kegiatan yang bernuansa keagamaan lainnya seperti kegiatan vestifal istiqlal, kodifikasi hukum Islam, dan bahkan juga lahir organisasi cendekiawan muslim, yaitu ICMI. Maka kemudian, terjadilah apa yang mungkin tepat sebut sebagai proses santrinisasi yang luar biasa di Indonesia.
Akibat dari proses perubahan itu, Islam menjadi tidak saja tergambar di partai politik Islam, organisasi sosial keagamaan, di lembaga pendidikan Islam, dan semacamnya, melainkan juga terjadi di kantor-kantor pemerintah, dan bahkan juga di partai politik yang tidak menamakan diri sebagai partai politik Islam. Islam menjadi ada dan tumbuh di mana-mana, dan hal itu persis dengan gejala berhaji. Kalau sebelumnya, orang berhaji hanya dilakukan sebatas oleh para elite agama, pimpinan pesantren, dan semacamnya, maka setelah itu para birokrat, pimpinan perguruan tinggi, dan bahkan elite partai politik apa saja, asalkan beragama Islam, juga naik haji.
Kebijakan Presiden Soeharto dalam membangun politik tersebut berakibat luas terhadap kehidupan partai politik Islam. Partai politik yang berbasis Islam akhirnya menjadi seperti kehilangan nilai jualnya. Mereka, tatkala misalnya, akan mengkliam diri sebagai partai politik yang lebih Islami telah kehilangan relevansinya. Sebab partai politik yang tidak menggunakan identitas Islam pun, juga ternyata dipimpin oleh orang-orang yang telah berhaji, pandai memimpin doa, dan bahkan juga menjadi khotib dan imam masjid.
Gambaran tersebut itulah kiranya, yang menjadikan sebagian sebab dari partai politik Islam pada akhir-akhir ini sangat sulit meraih kemenangan. Akan tetapi, umpama saja, mereka mampu bersatu, yakni semua partai politik yang beridentitas Islam menyatukan diri, maka nilai jual itu akan tertolong, dalam arti masih bisa naik. Tokh, Islam juga mengajarkan tentang persatuan dan melarang bercerai berai. Namun itu semua sangat tergantung kepada elitenya sendiri. Maka, ya terserahlah. Wallahu a'lam.



