Pelajaran Dari Datangnya Musibah
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 27 Februari 2014 . in Dosen . 2514 views

Berbagai jenis musibah akhir-akhir ini datang silih berganti. Banjir terjadi di berbagai wilayah, tidak terkecuali di Jakarta. Akibatnya, banyak orang kehilangan tempat tinggal, atau setidaknya harus mengungsi dalam beberapa hari. Gempa bumi juga terjadi di mana-mana. Selain itu, akhir-akhir ini juga terjadi gunung meletus, salah satu di antaranya di Jawa Timur, yakni Gunung Kelut.

Musibah akibat gempa dan juga gunung meletus tidak bisa dihindari. Hal itu berbeda dengan banjir, orang masih bisa berdiskusi untuk mengatasinya. Misalnya membuat sudetan baru, atau melakukan reboisasi hutan atau gunung yang gundul. Sekalipun demikian, mengatasi banjir ternyata juga tidak pernah sukses. Banjir di Jakarta saja misalnya, hingga sekarang masih belum bisa diatasi.

Berbagai kejadian di alam ini, tidak terkecuali musibah, sebenarnya banyak sisi-sisi penting yang dapat ditangkap sebagai pelajaran untuk menjalani kehidupan ini. Kata orang arif dan bijak, bahwa hidup ini harus diisi dengan belajar secara terus menerus, termasuk belajar dari datangnya musibah. Orang yang mau belajar, maka akan mengetahui hakekat kehidupan ini yang sebenarnya.

Peristiwa Gunung Kelut yang meletus beberapa hari yang lalu, memberikan pelajaran yang luar biasa besar dan mendalamnya. Begitu mendengar kabar bahwa gunung itu meletus, maka orang-orang yang berada di sekitarnya berusaha menyelamatkan diri dengan cara mengungsi. Menyelamatkan jiwa, dalam suasana seperti itu, oleh siapapun harus dilakukan. Keselamatan diri menjadi sedemikian penting dari sekedar menunggu rumah, sapi, kerbau, atau jenis kekayaan lainnya. Prioritas utama adalah keselamatan. Harta boleh hilang, tetapi nyawa atau jiwa harus diselamatkan.

Pada hari-hari biasa, mungkin orang tidak menyadari bahwa jiwa atau keselamatan adalah segala-galanya. Sementara orang, pada keadaan normal, lebih membela harta dan pangkatnya dibanding jiwa. Sekalipun jiwanya terancam dianggap tidak mengapa asalkan memperoleh uang atau jabatan. Padahal bisa jadi, orang yang lebih memprioritaskan harta atau jabatan itu akhirnya tidak selamat dan sekaligus juga tidak mendapatkan apa-apa.

Pada saat musibah datang orang lebih memilih untuk menyelamatkan jiwa atau nyawanya daripada yang lain. Mereka mengungsi hanya membawa kelengkapan seadanya, dan sebaliknya meninggalkan apa saja yang dimiliki. Pada saat seperti itu, harta benar-benar dianggap tidak penting dibanding nyawa atau jiwa. Buktinya, tanpa ragu mereka meninggalkan rumah, toko, sapi, kerbau, dan semua jenis hartanya yang lain. Seolah-olah mereka ikhlas tatkala kehilangan hartanya, asalkan jiwa dan raganyanya masih bisa diselamatkan. Musibah itu memberikan pelajaran bahwa, nyawa atau keselamatan jiwa adalah lebih mahal dari apapun lainnya.

Pelajaran penting lainnya, musibah juga menyadarkan bahwa manusia itu sebenarnya adalah lemah dan terbatas. Menghadapi musibah seperti banjir, gunung meletus, gempa bumi, puting beliung, dan lain-lain manusia tidak berdaya. Salah besar manakala manusia menganggap dirinya hebat, memiliki kekuatan, dan apalagi congkak atau sombong. Memang dengan ilmu pengetahuan, manusia berhasil membuat kapal laut, pesawat terbang, peralatan perang yang mampu menghancurkan kekuatan musuh, tetapi ternyata mereka tidak mampu mengatasi musibah yang datang dari lingkungannya sendiri.

Umpama saja musibah itu dijadikan pelajaran dalam menjalani hidupnya, maka orang tidak lagi terlalu mementingkan dirinya sendiri, menjadikan keselamatan bersama lebih diutamakan dari sekedar menyelamatkan harta dan jabatannya. Namun aneh, kebanyakan orang lebih menyelamatkan harta, uang, atau kekayaan daripada jiwa dan atau martabatnya. Seolah-olah harta menjadi lebih penting dari segalanya. Sebagai contoh sederhana, dalam penyelesaian kasus korupsi pada akhir-akhir ini sangat tampak jelas, bahwa orang lebih mengutamakan harta daripada keselamatan orang.

Bahkan terasa lebih aneh lagi, bahwa tidak sedikit orang tatkala melihat saudaranya merasa malu, menderita, dan bahkan celaka justru gembira dan merasa sukses. Mereka senang tatkala melihat orang lain susah. Bukankah fenomena ini semua sebenarnya merupakan pertanda bahwa akhir-akhir ini banyak orang yang pikiran dan jiwanya sedang sakit. Semoga musibah demi musibah yang datang silih berganti pada beberapa waktu terakhir ini mampu memberikan pelajaran bagi siapapun, bahwa jiwa dan keselamatan seharusnya lebih diutamakan dari apapun lainnya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up