Jika kia mau mengkaji secara seksama isi kandungan Al-Qur'an dan juga hadits Nabi SAW, sesungguhnya ajaran ini memiliki lingkup yang sedemikian luas dan oleh karenanya disebut sebagai ajaran yang bersifat universal. Sebagai sifatnya yang universal itu tentu Al-Qur'an dan hadits tidak akan memberikan tuntunan hal-hal yang bersifat detail, melainkan yang bersifat garis besar kecuali hal-hal tertentu. Hal-hal tertentu yang dimaksudkan itu misalnya Al-Qur'an juga berbicara tentang waris, tentang siapa yang boleh dan yang tidak boleh dinikahi.
Al-Qur'an dan hadits yang bersifat universal tersebut kemudian dikatakan bahwa Islam bukan semata-mata agama melainkan juga peradaban (Islam is indeed much more than a theology, its complete civilization). Pandangan seperti ini dapat dikaji di dalam Al-Qur'an dan hadits. Al Qur'an dan hadits memberi informasi tentang ketuhanan, tentang penciptaan, tentang manusia, tentang alam, tentang bagaimana manusia agar selamat, baik selamat di dunia maupun di akhirat.
Tentang konsep ketuhanan, Islam memberikan tuntunan secara jelas. Islam hanya menuhankan Allah yang Esa. Manusia dilarang menuhankan makhluk-Nya. Manusia, dengan pemahaman konsep ini, memiliki kedudukan yang sederajat atau setara yaitu sama-sama sebagai mahluk penyembah Tuhan. Tentang penciptaan, Al-Qur'an menjelaskan baik penciptaan manusia maupun penciptaan jagad raya. Tentang manusia, Al-Qur'an menjelaskan secara luas, baik terkait aspek fisik, akal, jiwa maupun nafsu. Al-Qur'an juga berbicara tentang alam, mulai dari bumi, langit, matahari, bulan, bintang, gunung, tumbuh-tumbuhan, hewan, samudera/lautan, angin, petir, air, tanah dan seterusnya.
Al-Qur'an juga bicara tentang keselamatan, ialah sesuatu keadaan yang didambakan oleh seluruh manusia kapan dan dimanapun mereka hidup. Agar mencapai keselamatan, dunia dan akhirat, maka Islam mengajarkan agar manusia beriman, beramal shaleh, ikhsan, dan akhlak yang mulia (akhlaq al-karimah). Penglihatan Islam seperti ini menjadikan lingkupnya sedemikian luas, seluas kehidupan itu sendiri. Hanya lagi-lagi, Islam baru dipahami dari aspek ritual belaka sehingga menjadikan Islam terkesan sempit, bahkan hanya memuat ajaran yang sekedar menyiapkan kehidupan akhirat dan tidak menjamah pada persoalan keduniaan. Cara pandang seperti ini sesungguhnya berdampak luas, yang bisa jadi, persoalan-persoalan umat Islam yang muncul saat ini bersumber dari cara memandang Islam yang serba terbatas ini.
Pemahaman Islam yang parsial seperti dikemukakan di muka, disadari atau tidak sebenarnya menjadi salah satu sumber persoalan umat Islam selama ini. Cara pandang dikotomis sebagaimana dikemukakan tersebut melahirkan pribadi terpecah (split personality). Seseorang yang memandang agama seperti itu, ia bisa jadi rajin menjalankan agamanya dalam pengertian beribadah ritual, tetapi sehari-hari masih menampakkan perilaku yang tidak sejalan dengan pandangan agamanya itu, seperti korupsi, nepotisme, kolusi maupun penyimpangan sosial yang sesungguhnya dilarang oleh Islam. Orang seperti ini beragama sebatas tatkala di masjid, di masa-masa acara kelahiran, khitanan, perkawinan dan kematian. Sedangkan tatkala berekonomi, berpolitik, menyelenggarakan pendidikan, kegiatan sosial dan lain-lain tidak merasa perlu menghadirkan Tuhan baik dalam pikiran maupun perasaannya.
Sikap mendua tersebut itulah sesungguhnya yang perlu diupayakan untuk dibenahi secara serius. Saya berkhayal, bahwa seseorang sedang bekerja di pasar, di sawah, di kantor, di perusahaan, danb lain-lain, tatkala berangkat dengan mengucap basmallah dan mengakhiri kerja dengan hamdallah, mereka bekerja dengan penuh tanggungjawab, mengedepankan kualitas agar tidak merugikan konsumen, di sela-sela bekerja tatkala masuk waktu sholat, mendengar adzan dikumandangkan segera berhenti memenuhi panggilan sholat berjama'ah. Jika demikian itu halnya, maka suasana kehidupan menjadi saling mengenal, saling kasih sayang antar-sesama, saling menghargai dan membantu. Semua itu dilakukan untuk membangun kehidupan yang damai, sejahtera dan menyelamatkan dalam rangka menuju ridha Allah SWT.
Saya berkeyakinan, jika kehidupan ini sudah diwarnai oleh nilai-nilai sebagaimana yang ditawarkan dalam Al-Qur'an dan hadits, maka berbagai problem umat ini dapat terselesaikan dengan sendirinya. Akan tetapi pertanyaan besar yang ada di depan kita adalah, bagaimana mewujudkan keadaan yang amat ideal itu. Muhammad SAW. memberikan tuntutan dengan sabdanya: ibda' binafsika, mulailah dari dirimu sendiri. Untuk mengubah masyarakat di manapun dan kapanpun harus dimulai dari siapa saja yang memiliki ide perubahan itu. Oleh karena itu, jika kita sebagai seorang Muslim menginginkan nilai-nilai Al-Qur'an dan tauladan Nabi yang kita cintai mewarnai kehidupan keluarga kita, kantor kita, lingkungan kita, maka tidak ada cara lain kecuali kita mulai dari diri kita sendiri. Wallahu a'lam



