Problem Umat
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 13 Februari 2014 . in Dosen . 9146 views

Mencermati realitas masyarakat Muslim, maka kekayaan yang menonjol sekarang ini adalah justru problem yang tidak mudah dipecahkan. Oleh karena itu, tatkala kita mau berbicara perihal problem umat Islam, maka yang sulit adalah memilih mana yang perlu diperbincangkan dan kalau mungkin yang dapat dipecahkan. Hampir semua bidang kehidupan, baik persoalan politik, ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan, budaya, lingkungan hidup, dan lain-lain, pada umumnya, umat Islam masih tertinggal.

Islam dilihat dari ajarannya yang bersumber dari al-Qur'an dan hadits memuat konsep kehidupan yang amat ideal. Al-Qur'an dan hadits memberikan tuntunan tentang bagaimana membangun komunikasi dengan Tuhan. Al-Qur'an memberikan tuntunan hidup agar kehidupan manusia dipenuhi oleh suasana berkeadilan, kejujuran, kesetaraan dan kesamaan; keharusan berpeduli kepada orang miskin dan anak yatim. Islam juga mengajarkan bagaimana hidup hemat, selalu bersyukur atas nikmat dan karunia Allah, sabar, selalu menjaga hawa nafsu, memperkukuh silaturrahmi, menjauhi tingkah laku yang merusak (mungkar).

Islam juga mengajarkan agar umatnya mengembangkan ilmu pengetahuan seluas-luasnya. Manusia diperintah untuk berfikir tentang ciptaan-Nya pada lingkup yang tidak terbatas. Hanya Dzat Allah saja yang diberikan sinyal untuk tidak dijamah oleh manusia. Manusia tidak akan mungkin dapat memahami dzat Allah itu. Al-Qur'an juga mengajarkan hidup selamat lewat iman, amal shaleh dan akhlak yang mulia. Islam mengajarkan untuk memelihara agama, akal, keturunan, jiwa dan harta benda. Di samping itu, Islam juga memberikan pelajaran tentang hal-hal yang mulia dan luhur yang tidak mungkin disebutkan satu per satu pada kesempatan yang terbatas ini.

Persoalan yang muncul kemudian adalah mengapa umat Islam selalu tertinggal? Bukankah umat Islam disebut-sebut dalam Al-Qur'an sebagai umat yang terbaik (khoirul ummah), umat yang beruntung, dan yang terpilih. Tetapi pada kenyataannya, dari sisi ekonomi saja, banyak negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim tetapi masih diliputi oleh suasana kemiskinan dan ketertinggalan. Negara-negara Islam masih banyak disebut sebagai negara berkembang (under development country) dan belum sampai pada taraf sebagai negara maju.

Begitu juga dalam bidang pendidikan, sampai saat ini, negara muslim harus mampu melahirkan lembaga pendidikan yang dianggap unggul sehingga dibanjiri oleh anak-anak dari negara-negara non muslim misalnya, untuk menimba ilmu di sana. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, anak-anak muda dari negara mayoritas muslim bermigrasi ke negara-negara barat yang pada umumnya non-muslim untuk menempuh pendidikan dengan jumlah yang tidak terhitung banyaknya.

Demikian juga dalam hal pengelolaan lingkungan hidup, umat Islam masih ketinggalan jauh dari yang lain. Hal ini tidak perlu kita lihat jauh-jauh, di Indonesia, negara kita sendiri, sebagai sebuah negara yang mayoritas penduduknya muslim dan memiliki kekayaan alam yang melimpah, tanahnya yang amat subur, tumbuh-tumbuhan apa saja dapat ditanam dan hidup subur, ternyata penduduknya tak san ggup memelihara dengan baik. Kita saksikan sekarang ini, hutan menjadi gundul, gunung-gunung menjadi gersang, hutan ditebang habis, mata air menghilang, sungai-sungai menjadi mati. Akibatnya, yang terjadi adalah serba bermala petaka. Tatkala datang musim hujan, maka selalu banjir. Sebaliknya, jika datang musim kemarau, maka di mana-mana kekeringan dan tanamanpun mati dan tidak dapat dipanen.

Potensi alam yang melimpah ternyata itu ternyata dihuni oleh orang yang tidak mampu mengelolanya secara baik. Bahkan, sebagian justru dirusak sehingga akibatnya mendatangkan malapetaka itu. Persoalan itu tidak hanya terbatas sampai di sini, akan tetapi juga menyangkut perilaku, watak, dan sikap hidup masyarakatnya. Lagi-lagi di Indonesia juga dikenal banyak korupsi, kolusi, nepotisme dan perilaku rendah lainnya yang tidak seharusnya terjadi. Pertanyaan yang seringkali diajukan adalah mengapa hal itu semua terjadi ?

Jawaban atas pertanyaan tersebut tentu tidak tunggal, tetapi banyak variabel yang dapat digunakan untuk menjelaskannya. Pada kesempatan yang sempit dan terbatas ini mungkin hanya bisa kita lihat dari aspek bagaimana pemahaman umat Islam terhadap ajaran agamanya. Selama ini, Islam lebih banyak hanya dipahami dari aspek spiritualnya. Baru akhir-akhir ini mulai berkembang kajian Islam dari aspek ekonomi, sehingga muncul konsep-konsep ekonomi Islam, manajemen Islam, bank syari'ah, dan lain-lain. Akibat keterbatasan pemahaman seperti itu, menjadikan Islam tidak lebih hanya dipahami sekedar sebagai tuntunan spiritual.

Gambaran tersebut bisa dilihat secara jelas, tidak saja dalam kehidupan keagamaan sehari-hari, melainkan juga tampak dalam bentuk kelembagaan dan materi pendidikan agama Islam yang diajarkan di sekolah-sekolah dan bahkan hingga di perguruan tinggi Islam. Lembaga pendidikan tinggi Islam yang disebut sebagai modern seperti IAIN/STAIN/PTAIS juga lebih banyak hanya mengembangkan keilmuan yang bernuansa spiritual itu. Kajian-kajian di luar itu dipandang bukan berada pada lingkup Islam, dan menyebutnya sebagai fakultas atau ilmu umum.

Begitu pula mata pelajaran agama di sekolah, biasanya diformat menjadi pelajaran tauhid, fiqh, akhlak/tassawuf, tarikh dan Bahasa Arab. Selain mata pelajaran itu sekalipun sesungguhnya merupakan implementasi dari perintah Al-Qur'an, semisal biologi, fisika, kimia, berhitung dan lain-lain belum disebut sebagai lingkup ajaran Islam. Melalui cara berpikir yang dikotomis seperti ini kiranya tidak perlu berharap berbagai proyek dan perusahaan yang sebenarnya memenuhi kebutuhan umat sendiri dianggap masuk bagian dari beramal shaleh dan dianggap menjadi bagian dari implementasi ajaran Islam.

Cara pandang terhadap Islam sebagaimana dikemukakan tersebut, disadari atau tidak, sesungguhnya akan berakibat mempersempit lingkup ajaran Islam itu sendiri. Islam hanya akan berada di masjid-masjid, di tempat-tempat kegiatan spiritual, di seputar upacara kelahiran, pernikahan dan kematian. Tokoh Islam dipersonifikasi sekedar sebagai ahli do'a, dan bukan sebagai penemu berbagai bidang ilmu pengetahuan dari kegiatan risetnya, bukan pengusaha besar, bukan orang yang berada di kancah politik yang sehari-hari memikirkan dan memperjuangkan umat dan kemanusiaan, serta lainnya. Akhirnya, Islam seolah-olah memiliki lingkup yang terbatas dan hal ini sebenarnya merupakan kesalah-pahaman yang serius. (bersambung)

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up