STAIN Dan Perubahan Masyarakatnya
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 4 Februari 2014 . in Dosen . 760 views

Pada hari Sabtu, tanggal 30 Janurai 2014, saya diundang oleh Pimpinan STAIN Pamekasan untuk berceramah di hadapan para pimpinan perguruan tinggi Islam itu. Kebetulan mereka mengadakan rapat kerja dengan mengambil tempat di Batu. Dengan demikian, saya tidak terlalu sulit untuk menghadirinya.

Pada kesempatan itu, oleh panitia, saya diminta berceramah tentang apa saja yang terkait dengan pengembangan STAIN Pamekasan di masa depan. Demikian tentang waktunya, juga tidak dibatasi. Diterangkan oleh salah seorang yang kebetulan ditunjuk memimpin acara itu, bahwa malam itu hendaknya dianggap sebagai malam perenungan bersama untuk mencari jalan keluar yang tepat, agar STAIN Pamekasan semakin maju dan berkembang di masa mendatang.

Kekeluasaan yang diberikan itu, tentu saya manfaatkan sebaik-baiknya. Saya mengajak kepada semua pimpinan yang hadir untuk melakukan perenungan mendalam terhadap keberadaan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri di Pamekasan itu. Secara sederhana, saya mulai mengajak bertanya, bahwa keberadaan perguruan tinggi Islam yang seluruh pembiayaannya dipenuhi oleh pemerintah itu sebenarnya untuk melahirkan sosok lulusan seperti apa.

Selain itu, saya juga mengajak untuk mempertanyakan jenis karya apa yang seharusnya diberikan oleh Perguruan Tinggi Islam itu untuk kepentingan masyarakatnya. Manakala kegiatan kampus Islam itu sehari-hari hanya bersifat rutin mengajarkan sesuatu yang belum tentu relevan dengan kebutuhan masyarakat, maka akan terjadi pemborosan dan bahkan juga tidak terlalu Islami. Oleh karena itu perlu dipertanyakan secara kritis, apakah keberadaan STAIN Pamekasan selama ini memang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Selanjutnya, saya mencoba memberikan alternatif jawaban atas pertanyaan tersebut. Menurut hemat saya, lembaga pendidikan tinggi Islam di mana saja, keberadaannya harus mampu menjadi kekuatan pengubah masyarakatnya. Islam adalah agama perubahan, yaitu perubahan masyarakat dari yang tidak maju menjadi maju dan modern. Perubahan dari masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat beradab sebagaimana hal itu dicontohkan sendiri oleh pembawa agama ini, ialah Muhammad saw.

Oleh karena itu, saya sampaikan bahwa, keberadaan STAIN Pamekasan seharusnya mampu melakukan perubahan bagi masyarakat Madura dalam berbagai aspeknya ke arah yang lebih sejahtera, adil, jujur, dan penuh dengan kedamaian. Identitas sebagai perguruan tinggi Islam seharusnya tergambar sebagaimana idealitas ajaran Islam ini sendiri. Islam menggambarkan kehidupan yang bertauhid, kaya ilmu, berkualitas unggul, berkeadilan, dan memegang teguh amal shaleh atau profesionalisme.

STAIN Pamekasan seharusnya mendidik mahasiswanya agar secara konsisten mengikuti jejak Nabi. Sebagai pewaris Nabi, mereka harus mengetahui dan bahkan memahami apa sebenarnya yang dituntut oleh agama yang pelajarinya itu. Tatkala berbicara tentang Nabi di dalam melakukan perubahan dan membangun peradaban, maka STAIN Pamekasan tidak cukup hanya bekerja secara rutin mengimplementasikan kurikulum yang dirumuskannya itu. STAIN pamekasan harus sanggup memberikan bekal kepada mahasiswanya tentang bagaimana menjawab tantangan masyarakat Madura ke depan dalam berbagai aspeknya, mulai dari pengembangan ilmu pengetahuan, membangun pribadi unggul, menata keadilasen, spiritual, dan jiwa profesionalisme yang tangguh.

Perguruan tinggi Islam di mana saja berada, tidak terkecuali di Pamekasan, harus mampu memberi inspirasi dan bahkan pengetahuan tentang bagaimana meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, menyelesaikan problem pengangguran, kependudukan, kesehatan, pendidikan yang berkualitas, keadilan, dan hal-hal lain yang lebih luas sebagaimana yang nyata-nyata dihadapi oleh masyarakat Madura. Kampus tidak cukup hanya menjalankan program-program rutin, dan seolah-olah tidak peduli dengan hiruk pikuk persoalan dan perkembangan masyarakatnya. Singkat kata, perguruan tinggi Islam harus mampu melakukan peran-peran pencerahan, atau menjadi obor penerang bagi masyarakat di lingkungannya.

Manakala hal-hal seperti itu yang diharapkan, maka STAIN Pamekasan harus berani membuka diri untuk melakukan langkah-langkah strategis dan perubahan mendasar baik terkait dengan konsep-konsep Islam tentang masyarakat ideal, penyesuaian kelembagaannya, ketenagaan, maupun lainnya. STAIN Pamekasan harus berani berubah dan mengubah diri. Tanpa melakukan perubahan, maka keberadaan dan peran yang diberikan kepada masyarakatnya akan sama dengan masa sebelumnya. Apapun tidak akan mungkin diharapkan melakukan perubahan manakala yang bersangkutan sendiri tidak memiliki jiwa dan kekuatan pengubah.

Pada saat itu, saya melihat STAIN Pamekasan sudah jauh lebih maju dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Informasi yang saya dapatkan bahwa, pada saat ini sudah memiliki sekitar 80 an dosen tetap, sedangkan 13 di antaranya sudah bergelar Doktor (S3). Saya melihat para pimpinan terdiri dari generasi muda, yang tentu memiliki potensi untuk melakukan berubahan. Dalam kesempatan itu, saya mengingatkan bahwa manakala konsisten dengan ajaran yang dipelajari dan dikembangkan, maka STAIN Pamekasan harus mengikuti jejak Nabi Muhammad, yakni menjadi kekuatan pengubah. Muhammad saw., berhasil mengubah masyarakat Makkah dan Yatsrib, maka STAIN Pamekasan setidaknya mampu mengubah masyarakat Madura agar menjadi semakin lebih bermartabah, adil, dan sejahtera. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up