Sehari-hari orang membaca al Qur'an, tetapi mengapa bacaan itu tidak melahirkan semangat atau jiwa berubah. Padahal al Qur'an, kitab suci yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. Lewat malaikat Jibril, adalah sarat dengan pesan-pesan perubahan. Nabi Muhammad sendiri diutus untuk melakukan perubahan, yaitu merubah dari masyarakat jahiliyah yang tidak beradab menjadi masyarakat yang beradab. Orang menyebutnya, al Qur'an mengubah masyarakat yang sedang mengalami kegelapan menjadi masyarakat yang terang benderang.
Sebelum Nabi Muhammad diangkat sebagai rasul, masyarakat Arab adalah memiliki kebiasaan menyembah berhala, menindas terhadap kelompok yang lemah, memberlakukan perbudakan, tidak menghormati kaum perempuan, dan lain-lain. Keadilan dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan diabaikan. Masyaraat yang digambarkan secara singkat seperti itu diubah dengan kehadiran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad.
Mengubah masyarakat tidak selalu mudah dilakukan, tidak terkecuali yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Setiap gerakan perubahan selalu muncul orang-orang yang menentang dan bahkan melawan dengan berbagai cara. Mereka yang melawan itu takut manakala gerakan yang dilakukan oleh Muhammad akan menghancurkan tatanan social yang sudah dianggap mapan dan menguntungkan dirinya. Mereka yang penentang perubahan, bukan karena konsep yang dibawa oleh Muhammad tidak benar, melainkan oleh karena mengancam posisinya yang sudah lama dinikmati.
Putra Abdulllah dan Cucu Abdul Munthalib itu sejak kecil dikenal sebagai orang jujur, berkarakter mulia, adil, dan lain-lain. Akan tetapi, perubahan yang akan diperkenalkan oleh Muhammad saw., sekalipun mulia, akan merugikan mereka. Itulah sebabnya, Muhammad dimusuhi oleh kaum Quraisy. Orang baik dan pembawa kebaikan, di mana dan kapan saja, tidak selalu diterima oleh masyarakat, manakala yang bersangkutan tidak menguntungkan. Dalam kehidupan ini, tidak setiap orang bersedia menerima kebaikan, tetapi semua orang selalu menginginkan keberuntungan.
Sekalipun sedemikian berat tantangan itu, ternyata perjuangan Nabi Muhammad berhasil. Utusan Allah itu berhasil membangun masyarakat di Madinah hanya dalam waktu singkat, yakni sekitar 10 tahun saja. Di antara cara yang ditempuh adalah membangun pusat kegiatan bersama berupa masjid. Di Masjid itu setiap orang diperlakukan secara sama. Muhammad saw., mengajak dan membimbing umatnya membangun hubungan, baik vertikan maupun horizontal. Hubungan dibangun, baik vertical maupun horizontal. Hubungan vertical dengan Tuhan, dilakukan secara intensif, paling tidak lima kali dalam sehari semalam, lewat menjalankan shalat berjama'ah. Sedangkan secara horizontal dijalin hubungan sillaturrakhiem dan tolong menolong di antara sesama tanpa sekat-sekat atau batas.
Masih terkait dengan masjid, bahwa tempat ibadah itu juga difungsikan sebagai tempat untuk menyelesaikan persoalan bersama, mulai dari pengembangan ilmu pengetahuan, berdiskusi atau bermusyawarah untuk menyelesaikan persoalan ekonomi, social, hokum, keamnan, dan lain-lain. Masjid, selain digunakan sebagai tempat shalat berjama'ah, juga digunakan sebagai pusat kegiatan bersama. Masyarakat digerakkan lewat masjid.
Nabi mempersatukan kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Dua kelompok masyarakat yang semula tidak saling kenal mengenal, dan berasal dari tempat, kultur, kebiasaan yang berbeda sengaja dipersatukan. Persatuan adalah dipandang sebagai modal utama untuk meraih cita-cita bersama. Hubunag-hubungan kasih saying antar sesame dibangun. Mereka yang kuat diajak untuk menolong yang lemah, yang pintar diajurkan mengajari yang tidak pintar, hukum dan keadilan ditegakkan, dan demikian pula kejujuran.
Semua gerakan itu mengacu kepada kitab suci al Qur'an dan contoh yang diberikan langsung oleh Nabi Muhammad. Perlawanan dari orang-orang Quraisy Makkah masih terjadi, akan tetapi oleh karena kesatuan dan persatuan berhasil dibangun secara kokoh, maka semua perlawanan itu berhasil dipatahkan. Nabi tidak pernah sengaja mengobarkan peperangan, melainkan sekedar mempertahankan diri dari serangan musuh. Oleh karena itu, peperangan bukan didorong oleh semangant ekspansif, melainkan bersifat depensif.
Sepanjang hidupnya, Rasulullah atas petunjuk al Qur'an, mempelopori dan memimpin gerakan perubahan masyarakat. Maka seharusnya, umat Islam di mana dan kapan saja, sebagai orang yang mencintai rasul dan mengikuti jejaknya maka seharusnya juga melakukan hal yang sama. Menjadi Islam mestinya menyandang jiwa pengubah, dari masyarakat yang statis menjadi dinamis, dari masyarakat yang tertinggal menjadi masyarakat yang maju.
Kaum muslimin seharusnya menjadi pelopor dalam berbagai kegiatan perubahan, baik terkait dengan pengembangan ilmu pengetahuan, peningkatan kualitas manusia, pelopor kejujuran dan tegakknya keadilan, meramaikan masjid dan memberi contoh dalam beramal shaleh. Sayangnya, keber-Islaman belum sepenuhnya menjadi kekuatan penggerak diri yang bersangkutan dan orang lain. Keber-Islaman baru sebatas dijadikan identitas, mewarisi tradisi, mengikuti lingkungan, dan belum lebih dari itu, menjadi penggerak perubahan hingga menjadi lebvih mulia. Wallahu a'lam.



