Catatan Mengikuti Pelatihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 7 Maret 2014 . in Dosen . 1446 views

Setiap mengetahui mahasiswa yang tampak kesulitan menyusun thesis atau disertasi, saya teringat pengalaman saya sewaktu belajar penelitian ilmu-ilmu sosial di Universitas Hasanuddin, Makasar, pada tahun 1980-an. Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial yang dipimpin oleh Prof. Selo Sumardjan, pernah mengembangkan tiga pusat pelatihan penelitian ilmu social di Indonesia, yaitu di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, di Universitas Indonesia, di Jakarta dan di Universitas Hasanuddin, di Makasar. Saya yang pada waktu itu sebagai dosen melamar untuk menjadi peserta, dan akhirnya diterima di Universitas Hasanudin, Makasar.

Sekalipun kegiatan itu saya ikuti sudah cukup lama, yaitu pada tahun 1980, saya masih terkesan dan saya rasakan cukup efektif. Pelatihan itu dilaksanakan selama 11 bulan, jumlah pesertanya amat terbatas, yaitu hanya 12 orang. Semua peserta berasal dari daerah yang berbeda-beda, mulai dari Aceh, Palembang, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Banjarmasin, Surabaya, Kupang, dan saya sendiri dari Malang. Rupanya kegiatan itu tidak mengambil peserta dari daerah tempat pelatihan, -------Makasar, agar semua peserta memiliki wawasan yang sama tentang daerah tempat penelitian.

Semua peserta yang berjumlah 12 orang diasramakan di kampus Universitas Hasanudin Makasar. Mereka harus berdisiplin, tidak boleh pulang, kecuali hanya sekali selama satu minggu selama masa pelatihan. Pelatihan ilmu social ini dibimbing oleh dua orang, yaitu Prof. Dr. Hasan Waninono, ditunjuk sebagai tenaga ahli dari dalam negeri dan Jacky Linton, seorang tenaga ahli dari Australia. Kedua orang tenaga ahli itu, sehari-hari bertugas memberikan arahan, membimbing, melatih, dan bahkan sehari-hari menunggui para peserta pelatihan.

Pelatihan ang dilaksanakan selama 11 bulan itu dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap mempelajari teori-teori ilmu social, dan selanjutnya peserta diharuskan melakukan penelitian langsung di lapangan. Dalam mempelajari teori-teori ilmu sosial, peserta dibimbing langsung oleh tenaga ahli ataupun juga sesekali waktu mendatangkan nara sumber dari Jakarta atau dari kota-kota lain. Beberapa orang yang didatangkan misalnya Prof. Selo Sumardjan dikenal sebagai ahli sosiologi, Prof. Kuntjaraningrat ahli antropologi, Dr. Taufiq Abdullah, ahli sejarah, Melly G. Tan, ahli antropologi, Dr. Parsudi Suparlan, ahli sosiologi, Prof. Masri Singarimbun, Prof. Santoso Hamidjoyo, Prof. Mattulada, Prof. Mulyanto Sumardi, dan masih banyak lagi lainnya.

Selain itu, pada saat-saat lainnya, para peserta pelatihan ditugasi membaca buku-buku ilmu-ilmu social, menyusun makalah, dan mepresentasikannya secara bergantian di antara sesama teman. Setiap kegiatan selalu ditunggui oleh pembimbing secara disiplin. Kedua orang tenaga ahli, baik yang berasal dari dalam negeri sendiri maupun tenaga asing, pada setiap kegiatan selalu menunggui, memberikan catatan, mengkritik hasil kerja peserta, dan memberikan bimbingannya.

Kegiatan pada fase awal yang bermaksud mengenalkan keppada para peserta pelatihan tentang teori ilmu-ilmu social berlansgung selama kurang lebih 4 bulan. Kegiatan itu, sebagaimana saya sebut di muka, sangat efektif oleh karena seluruh peserta diasramakan di satu tempat. Oleh karena itu, interaksi antar peserta dan konsultasi dengan tenaga ahli bisa dilakukan pada setiap saat. Pada saat itu, pembimbing atau tenaga ahli tidak merangkap tugas lain, sehingga perhatiannya hanya khusus mengurus peserta pelatihan yang berjumlah 12 orang tersebut.

Setelah pengenalan terhadap teori ilmu social dianggap cukup, maka peserta pelatihan dengan bimbingan tenaga ahli pula, diajak untuk berkunjung ke berbagai wilayah di Sulawesi Selatan. Kunjungan ke semua kabupaten di wilayah Sulawesi Selatan itu cukup lama, memakan waktu tidak kurang dari satu bulan. Dalam kunjungan itu, para peserta difasilitasi untuk berdialog dengan para bupati dan pejabat yang dikunjungi. Lewat kegiatan itu diharapkan masing-masing peserta berhasil menangkap persoalan yang menarik dan selanjutnya untuk diteliti pada tahap berikutnya.

Sepulang dari kunujungan itu, para peserta diwajibkan menyusun proposal penelitian. Oleh karena penelitian yang dikembangkan oleh Pusat Penelitan Ilmu-Ilmu Sosial di Universitas Hasanuddin Makasar adalah penelitian kualitatf, maka proposal dimaksud tidak perlu terlalu detail. Penelitian kualitatif atau orang menyebutnya sebagai grounded research, maka justru di mulai dari lapangan. Persoalan yang diteliti didapatkan dari kegiatan di lapangan itu.

Observasi partisipasi dalam waktu lama dan mendalam di lapangan akan menghasilkan hipotesis-hopotesis. Selanjutnya hipotesis itu diuji kembali secara terus menerus dengan data yang diperoleh dari hasil pengamatan atau wawancara mendalam dalam waktu yang lama itu. Bisa saja hipotesis yang dibangun dipertahankan oleh karena ditemukan data pendukungnya, atau sebaliknya diubah oleh karena tidak sesuai dengan persoalan yang ingin dijawab lewat penelitian itu. Penelitian kualitatif memerlukan waktu lama. Kegiatan pengumpulan data itu dianggap selesai manakala peneliti sudah betul-betul merasa menguasai atau memperoleh data yang cukup yang diperlukan.

Selama di lapangan, sekitar 5 bulan, kegiatan peneliti sehari-hari adalah mencari informasi, lewat observasi, berdiskusi, wawancara mendalam dengan masyarakat yang diteliti. Selain itu, pada saat-saat lain, kesempatan digunakan untuk menulis apa saja yang diperoleh dari hasil wawancara, dialog, atau lainnya, yang terkait dengan penelitian itu. Lewat kegiatan seperti itu, saya tidak saja belajar bagaimana cara mengumpulkan data untuk penelitian kualitatif, berpikir untuk menjawab persoalan penelitian, tetapi juga membiasakan menulis pada setiap hari.

Selanjutnya, data yang terkumpul, saya gunakan sebagai bahan untuk menulis laporan akhir. Sudah barang tentu, laporan yang saya maksud bukan berupa catatan harian yang saya dapatkan selama pengumpulan data di lapangan itu, melainkan berupa karya ilmiah berupa laporan penelitian. Sejumlah data dalam penelitian kualitatif, saya gunakan untuk menjelaskan konsep-konsep yang saya bangun sejak kegiatan di lapangan maupun untuk membuktikan hipotesis yang saya ajukan.

Setelah laporan itu selesai disusun, maka tahap berikutnya adalah seminar hasil penelitian. Hasil penelitian itu harus diseminarkan secara berulang-ulang, mulai dari seminar dengan sesama teman peserta, seminar tingkat regional yaitu di tingkat propinsi dengan para akademisi atau pakar ilmu sosial, hingga seminar pada tingkat nasional yang diselenggarakan oleh LIPI di Jakarta. Seminar hasil penelitian pada tingkat akhir itu diikuti peserta secara selektif dari tiga pusat pelatihan ilmu sosial, yaitu dari Syah Kuala, Aceh, UI, Jakarta, dan Hasanuddin, Makassar. Selain itu, juga dihadirkan para ilmuwan sosial dari berbagai kampus di Indonesia.

Akhirnya saya berpikir, umpama para penulis thesis atau disertasi itu, sebelumnya mendapatkan pelatihan penelitian sebagaimana yang saya kemukakan itu, maka saya yakin, mereka tidak akan mendapatkan kesulitan dalam menyelesaikan tugas akhirnya itu. Mereka itu mengalami kesulitan, mungkin oleh karena belum terlalu menguasai teori-teori ilmu sosial, dan juga bisa jadi, karena belum terlalu banyak memiliki pengalaman meneliti, kecuali penelitian yang sedang dijalani untuk menyusun thesis dan atau disertasinya itu. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up