Cermin, Kitab Suci, Dan Sejarah Kehidupan Nabi
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 5 Maret 2014 . in Dosen . 2743 views

Ketiga hal berikut, yaitu Cermin, kitab suci, dan sejarah hidup rasulullah adalah penting sekali bagi siapapun untuk mengetahui tentang dirinya sendiri. Umpama di dunia ini tidak ada cermin, pasti setiap orang tidak akan mengetahui bagaimana wajah dirinya sendiri. Mereka akan mengetahui orang lain, tetapi sebaliknya, tidak akan mengetahui bentuk dan rupa wajahnya sendiri. Cermin menjadi sangat penting bagi setiap orang.

Sekalipun demikian pentingnya, cermin hanya bisa memberikan informasi tentang hal yang tampak, atau yang bisa dilihat dengan mata kepala. Sementara itu, manusia tidak cukup dipahami dari yang tampak. Maka artinya kemampuan cermin masih terbatas. Cermin tidak bisa memberikan informasi tentang manusia dari aspek yang tidak kelihatan. Padahal justru pada aspek yang tidak bisa dilihat itulah sebenarnya merupakan hakekat dari makhluk yang oleh Allah disebut sebagai khalifah itu.

Untuk melihat aspek dalam pada diri seseorang bisa diperoleh dari bantuan orang lain. Seseorang bisa mengetahui tentang pribadi orang lain tetapi juga terbatas dan juga bersifat subyektif. Bisa saja seseorang oleh orang lain disebut pemarah, periang, adil, jujur, beriman, sebagai orang baik, dan seterusnya. Akan tetapi penyebutan itu sangat subyektif dan terbatas pada sudut pandang yang bersangkutan. Bisa saja seseorang disebut adil, tetapi orang lain mengatakan justru sebaliknya.

Untuk mengetahui aspek terdalam dari kehidupan manusia maka terdapat piranti yang tepat, yaitu kitab suci dan sejarah kehidupan rasulullah. Di dalam kitab suci disebutkan konsep yang menggambarkan perilaku manusia beserta ciri-cirinya. Misalnya, konsep tentang taqwa, kafir, munafiq, beriman, sabar, ikhlas, tawakkal, orang beruntung, orang yang merugi, dan lain-lain. Disebutkan juga dalam kitab suci itu ciri-ciri orang-orang yang dimaksudkan itu.

Konsep-konsep yang menggambarkan tentang pribadi seseorang yang berada di dalam al Qur'an itu, khususnya yang terpuji, telah dicontohkan atau diimplementasikan oleh rasulullah dalam kehidupannya sehari-hari. Sebagai seorang penyabar misalnya, nabi telah menunjukkan dan memberikan contohnya. Demikian pula tentang ikhlas, tawakkal, beriman dan sebagainya. Manusia bisa melihat kepribadian dirinya dengan membandingkan konsep yang ada pada al Qur'an dan perilaku sejarah kehidupan rasulullah itu.

Melalui cermin manusia berhasil mengetahui penampilan fisiknya, sementara itu melalui al Qur'an dan sejarah kehidupan rasulullah bisa melihat dirinya dari aspek yang terdalam. Sudah barang tentu, apakah hasil penglihatan yang didapatkan itu tepat atau tidak, maka juga masih tergantung dari ketajaman alat yang digunakan dan kemampuan yang bersangkutan dalam menjaga obyektifitasnya. Semakin tajam dan obyektif, maka seseorang akan mengetahui tentang dirinya sendiri. Orang yang mengetahui tentang dirinya sendiri maka menjadi pintu untuk mengetahui Tuhannya.

Selanjutnya, manakala diamati secara saksama, bahwa masyarakat modern mengalami paradog. Mereka semakin kaya pengetahuan tentang apa saja di luar dirinya, sementara itu semakin miskin pengetahuan tentang dirinya sendiri. Atas dasar pengetahuanya itu, mereka mampu menciptakan berbagai teknologi modern untuk mempermudah kehidupannya. Manusia menciptakan alat transportasi agar bisa bergerak bebas tanpa terhalang oleh jarak dan waktu. Selain itu, manusia juga menciptakan alat komunikasi sedemikian canggih, alat-alat kedokteran dan pengobatan, termasuk juga alat-alat perang berupa senjata pemusnah yang dahsyat.

Boleh-boleh saja manusia kaya ilmu pengetahuan, tetapi seharusnya juga paham tentang dirinya sendiri. Pengetahuan tentang dirinya sendiri itu misalnya terkait dengan asal muasalnya, sedang berada di mana, dan apa yang akan terjadi pada dirinya sesudah mengakhiri kehidupannya ini. Jangan sampai semua persoalan itu tidak pernah terpikirkan. Manusia modern ternyata banyak dilanda oleh problem itu, ialah menjadi tidak mengetahui tentang apa yang ada pada dirinya. Mereka tidak mengetahui bahwa dirinya sudah serba berkecukupan, dan bahkan berlebihan, namun tidak pernah dirasakannya. Maka sebenarnya pada diri orang modern telah terjadi krisis yang bersumber dari diri manusia sendiri.

Keadaan sebagaimana digambarkan itu sebenarnya sangat membahayakan. Boleh saja seseorang tidak tahu tentang orang lain, tetapi seharusnya tahu tentang dirinya sendiri. Sementara itu, justru yang terjadi pada masyarakat modern adalah mereka tidak tahu diri itu. Orang yang tidak tahu diri biasanya berperilaku serba salah, sehingga mereka disebut sebagai pribadi yang buruk, ialah tidak tahu diri. Pahal di lingkungan masyarakat modern sudah tersedia cermin, kitab suci, dan juga sejarah kehidupan nabi. Mungkin semua itu tidak digunakannya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up