Islam tidak saja mengajarkan umatnya agar melakukan camping, outbond, berkemah, mendaki, atau sejenisnya, tetapi lebih dari itu adalah menjelajah. Manusia dianjurkan untuk menjadi travelling, atau penjelajah. Ibnu Batutah, seorang kelahiran Maroko, dalam sejarahnya berkeliling dari satu benua ke benua lainnya untuk memenuhi ajaran tentang penjelajahan itu. Dalam kitab suci al Qur'an disebutkan bahwa berjalanlah kamu sekalian di muka bumi untuk mendapatkan karunia Allah.
Nabi Muhammad saw., juga mengajarkan hijrah. Semula rasul ini berdakwah di Makkah oleh karena dilahirkan di tempat itu. Namun kemudian, beliau pindah ke Madinah untuk membangun masyarakat berperadaban unggul dan ternyata berhasil gemilang. Selain itu sejak sebelum diangkat oleh Allah swt., menjadi rasul, Muhammad juga sudah terbiasa travelling, melakukan perjalanan jauh, membantu Siti Chadidjah, untuk berdagang.
Tradisi penjelajahan yang dilakukan oleh orang-orang Arab itu menjadikan Islam segera menyebar ke mana-mana. Dalam waktu singkat, Islam menyebar hingga ke Irak, Iran, Mesir, Yaman, bahkan ke negara-negara bagian di Rusia. Tidak terkecuali itu, ke bagian timur adalah hingga ke Asia, termasuk Indonesia. Jiwa penjelajah itulah sebenarnya, yang menjadikan Islam segera berkembang sampai ke mana-mana.
Melakukan penjelajahan atau perjalanan jauh di masa awal perkembangan Islam, bisa dibayangkan sedemikian berat. Mereka itu harus berjalan kaki atau sekedar dengan berkendaraan unta, menempuh jarak yang jauh dalam keadaan panas dan atau sebaliknya dingin. Padang pasir, ditambah dengan di sana sini berbatuan, menjadikan suasana panas dan atau sebaliknya di musim dingin juga sangat dingin. Wilayah padang pasir itu hingga beratus-ratus dan bahkan ribuan kilometer.
Betapa beratnya perjalanan di padang pasir, saya pernah mengalami dalam perjalanan antara Yordan ke Baghdad, berjarak sekitar 1000 km. Perjalanan bertiga, bersama Prof. Amien Rais dan Prof. Syafi'i Maarif, dengan berkendaraan mobil, --------oleh karena jarak yang jauh dan keadaan jalan belum terawat, hingga menjadi terasa sangat berat. Di tengah padang pasir yang juga berbatu itu, secara mendadak datang angin kencang. Debu dan pasir yang bertaburan di tengah padang pasir menjadikan keadaan gelap, hingga kendaraan terpaksa harus berhenti.
Kedaan semacam itu pasti dialami oleh siapapun, para penjelajah di padang pasir. Cerita perjalanan saya dari Yordan ke Baghdad, yang saya rasakan sedemikian berat itu, tentu dialami, dan bahkan lebih berat lagi, oleh para penjelajah yang hidup sebelum ada kendaraan bermesin atau mobil. Betapapun beratnya apa yang dialami oleh orang bermobil pasti jauh lebih enak dibanding berkendaraan dengan unta atau kuda. Akan tetapi, keadaan yang berat dan bahkan menyiksa itu tidak menghalagi niat penyebar Islam melakukan mobilitas dari satu tempat ke tempat lain, atau bahkan dari satu negara ke negara lain, yang harus melewati gurun pasir yang panjang.
Di zaman modern seperti sekarang ini, jarak yang jauh sudah tidak menjadi halangan lagi. Pada saat ini telah tersedia kapal laut, kendaraan darat, dan bahkan juga pesawat udara. Dengan teknologi modern, siapapun bisa melakukan travelling atau penjelajahan, tidak saja antar negara, tetapi bahkan juga antar benua. Menangkap bahwa Islam menganjurkan agar umatnya bertebaran di muka bumi, melakukan travelling atau menjelajah, maka pada saat sekarang, -------secara teknis, sudah tidak ada halangan lagi. Umpama anjuran itu tidak dilakukan, maka hambatannya bukan bersifat eksternal, melainkan terletak pada wilayah internal yakni pada diri yang bersangkutan.
Perasaan takut, ragu-ragu, khawatir, atau selalu memilih zone aman, adalah hambatan utama untuk melakukan travelling atau penjelajahan itu. Padahal Islam mengajarkan agar jangan menjadi penakut, peragu, dan atau selalu khawatir. Keberanian disebut sebagai bagian dari keimanan seseorang. Hanya orang-orang yang lemah imannya saja yang selalu takut, khawatir, dan peragu itu. Umpama saja, anjuran untuk bertebaran di muka bumi ini berhasil menjadi watak, perilaku, atau jiwa umat Islam, maka mereka akan majadi maju dan lebihj unggul dibanding umat lain yang tidak melakukannya.
Penyebaran Islam, dalam waktu singkat, ke barat hingga ke Maroko, spanyol, dan negara-negara di sekitarnya itu, dan agak ke utara ke wilayah Rusia, ke timur hingga ke Indonesia, adalah merupakan buah dari semangat dan jiwa penjelajah itu. Pada saat sekarang ini, umat Islam, asalkan mau dan memiliki kesungguhan saja, maka akan dengan mudah melakukan penjelajahan untuk berdakwah, atau menyebarkan kebaikan dan kemuliaan ajaran Islam hingga ke mana-mana. Umat yang memiliki tradisi menjelajah ternyata lebih unggul dan berhasil memberi manfaat bagi kehidupan dalam jangkauan yang lebih luas, hingga akhirnya akan menjadi umat terbaik, karena memberi manfaat lebih. Wallahu a'lam



