Jiwa-Jiwa Merdeka
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 16 Maret 2014 . in Dosen . 5579 views

Betapa bahagianya, orang-orang yag telah meraih jiwa merdeka. Orang yang merdeka jiwanya, maka mereka tidak akan merasa takut dengan siapapun, kecuali kepada Tuhannya. Dalam melakukan sesuatu, dirinya tidak akan merasa takut, khawatir, ragu, terancam oleh siapapun. Jiwa mereka merasa merdeka.

Seseorang yang secara jasmani terbelenggu atau terjajah, tetapi secara psikis atau kejiwaan merdeka, maka yang bersangkutan masih bisa merasakan kebahagiaan. Begitu pula sebaliknya, orang yang secara fisik merdeka, tetapi tatkala jiwanya terjajah atau terbelenggu, maka kenikmatan justru tidak bisa dirasakannya. Para pejuang yang sedang dipenjarakan, ------bisa jadi, fisiknya terbelenggu, tetapi jiwanya merdeka. Mereka berjuang hanya ingin memperoleh cinta dari Tuhannya.

Kita melihat banyak penyanyi, pembaca puisi, dalang, penceramah, penulis, dan berbagai peran lainnya menampakkan kualitas yang berbeda-beda adalah oleh karena di antaranya memiliki suasana batin yang berbeda-beda pula. Seorang penyanyi yang mampu tampil maksimal hingga suaranya sedemikian indah, di antaranya adalah oleh karena yang bersangkutan berhasil meraih jiwa merdeka.

Umpama jiwa penyanyi itu terbelenggu, merasa takut, khawatir akan mengalami kekeliruan atau kesalahan, maka ia tidak akan bisa tampil maksimal. Kemampuannya tidak akan tampak sempurna oleh karena hatinya terbelenggu rasa khawatir, takut, ragu atau was-was. Bagi penyanyi, jiwa merdeka menjadi sangat penting. Penyanyi yang jiwanya merdeka akan mampu menghayati apa yang sedang dilakukannya.

Tidak berbeda dengan penyanyi adalah pembaca puisi, dalang atau juga penceramah. Seseorang penceramah bisa tampil sempurna, uraian-uraiannya sedemikian mudah ditangkap oleh pendengarnya, lantaran ia menghayati betul apa yang diceramahkan, pikiran dan hatinya tidak sedang terganggu. Umpama saja, penceramah dimaksud tidak merasa bebas atau merdeka, maka ceramahnya akan terasa kacau dan tidak menarik.

Demikian juga adalah penulis. Seorang penulis yang hatinya sedang dalam keadaan galau, tidak percaya diri, takut salah atau dikritik orang lain, maka hasil tulisannya akan terasa kacau, atau bahkan tidak jadi menulis. Orang yang sedang menulis pun memerlukan jiwa merdeka. Oleh karena itu, agar bisa menyanyi dengan sempurna, mendalang, berceramah atau menulis yang baik, maka harus berbekalkan jiwa merdeka.

Tulisan ini sebenarnya ingin mengajak untuk merenungkan, mengapa orang-orang yang sudah lulus sekolah menengah, sarjana S1, dan bahkan juga S3 tidak selalu kelihatan kehebatannya. Ijazah yang diperolehnya belum menjadikan hati mereka merdeka. Bahkan sebaliknya, mereka justru terbebani oleh berbagai ijazah dan gelar akademiknya itu. Padahal yang bersangkutan menempuh pendidikan hingga tingkat puncak itu, sebernarnya adalah agar jiwanya merdeka.

Manakala gambaran tersebut itu yang benar-benar terjadi, maka pendidikan justru kontra produktif. Pendidikan seharusnya berhasil menjadikan seseorang memiliki jiwa terbuka, bebas, berani, dan bertanggung jawab. Manakala suasana batin yang diperlukan untuk menjalani hidup itu semua tidak berhasil diperoleh dan dikembangkanb, maka sebenarnya pendidikan itu gagal.

Pendidikan tidak boleh melahirkan rasa takut, khawatir, terbelenggu, terjajah oleh apa dan sispapun. Pendidikan seharusnya mampu menumbuh-kembangkan sikap berani, terbuka, bebas atau merdeka, lebih-lebih kemerdekaan jiwanya. Suasana batin seperti Itulah sebenarnya merupakan pintu sukses bagi siapapun dalam menjalani atau menunaikan tugas-tugas hidupnya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up