Masjid, Perpustakaan, Dan Laboratorium
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 13 Maret 2014 . in Dosen . 859 views

Beberapa hari terakhir ini, saya terlibat diskusi tentang posisi umat Islam dibanding umat lain. Semua orang dalam diskusi itu menyadari bahwa ternyata umat Islam mengalami ketertinggalan, baik dalam bidang ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, dan kekuatan lainnya. Ketertinggalan itu tidak saja dapat dilihat di Indonesia, tetapi juga di negara-negara Islam lainnya.

Disebutkan bahwa masyarakat di negara-negara Islam masih banyak yang miskin, kekurangan pangan, pendidikan dan kesehatan belum diurus secara maksimal, dan apalagi menyangkut ilmu pengetahuan dan teknologi, masih sangat tertinggal. Mereka telah menyadari persoalan itu semua dan ingin mengejar ketertinggalan itu. Namun selama ini belum memperoleh jalan yang dianggap strategis.

Sebenarnya negara-negara Islam sudah memiliki keunggulan, terutama dalam hal yang terkait dengan kegiatan ritual. Mereka sudah sangat kaya masjid, atau tempat ibadah. Kita bisa lihat, bahwa masjid-masjid itu, selain berjumlah banyak, berukuran besar dan bahkan juga indah. Ke mana saja, di negara Islam, kita pasti melihat masjid yang berukuran besar dan berarsitektur indah itu.

Sebaliknya, belum banyak negara-negara Islam yang sudah mengembangkan pusat-pusat riset atau laboratorium dan perpustakaan yang hebat. Oleh karena itu, masih sedikit sekali kabar tentang adanya temuan-temuan ilmiah dan produk teknologi baru yang berasal dari negara-negara Islam. Dulu Prof. Habibie pernah mengembangkan teknologi modern dengan membuat pesawat terbang. Prestasi itu tentu akan sangat membanggakan. Tetapi juga agaknya aneh, prestasi itu tidak dikembangkan lebih lanjut, malah sebaliknya, dikritik dan diangap prakarsa itu kurang strategis.

Mestinya dengan petunjuk ajaran Islam, yaitu al Qur'an dan hadits nabi, umat Islam tidak saja mengembangkan masjid, tetapi juga mengembangkan pusat-pusat riset, laboratorium, dan perpustakaan. Anak-anak muslim tidak saja cukup mengkaji fiqh, tauhid, akhlak, dan tasawwuf, tetapi juga seharusnya mengembangkan sains dan teknologi. Selain itu, umat Islam harus mengembangkan universitas-universitas yang unggul dengan membuka berbagai jenis cabang ilmu. Tatkala ulama-ulama Islam berkumpul dan berdiskusi, maka tidak saja membahas fiqh, tetapi juga mendiskusikan hasil-hasil temuan dari kegiatan riset terkait sains dan teknologi.

Sebenarnya, bahwa yang dimaksudkan dengan ketertinggalan itu adalah pada aspek-aspek yang erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bidang-bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, teknologi dan sejenisnya adalah erat kaitannya dengan riset, laboratorium, dan perpustakaan itu. Manakala hal-hal yang disebutkan terakhir ini lemah, maka hasilnya juga akan lemah dan konsekuensinya kalah bersaing dengan negara-negara lain yang secara gigih telah terlebih dahulu mengembangkannya.

Oleh karena itu, untuk mengejar ketertinggalan selama ini, maka umat atau negara-negara Islam harus ada keberanian mengubah cara berpikir, mindset, atau bahkan langkah-langkah strategis yang diperlukan. Perguruan tinggi Islam yang hanya sibuk mengembangkan ilmu syari'ah, ushuluddin, tarbiyah, adab, dan dakwah harus disempurnakan dengan mengembangkan sains dan teknologi tanpa meninggalkan al Qur'an dan hadits nabi. Untuk kasus di Indonesia, lembaga pendidikan Islam yang sementara ini hanya berupa sekolah tinggi dan institut harus diubah semuanya menjadi bentuk universitas, agar berkewenangan membuka berbagai jenis cabang ilmu pengetahuan.

Memperlambat perubahan cara berpikir dan dalam mengambil langkah-langkah strategis hanya akan mempertahankan ketertinggalan umat Islam. Lembaga pendidikan Islam harus mampu mengantarkan lulusannya menjadi kaya ilmu, menjadi pribadi unggul, memperjuangkan keadilan, tekun dan istiqomah di dalam menjalankan ritual, dan selalu bekerja secara profesional atau beramal shaleh. Hanya dengan cara-cara itu, maka umat Islam akan segera bangkit dan akhirnya akan memenangkan dalam berkompetisi dengan umat lainnya. Masjid, laboratorium, pusat-pusat riset, dan perpustakaan harus dibangun secara serius dan bersama-sama. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up