Memperhatikan Penampilan Para Bhiksu
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 6 Maret 2014 . in Dosen . 2775 views

Setiap ketemu dengan bhiksu, saya selalu tertarik untuk memperhatikan melebihi ketika ketemu dengan pemimpin agama selainnya. Mereka itu selalu menggunakan pakaian khas, yakni kain berwarna coklat muda. Kemana saja dan di mana saja, pakaian itulah yang dikenakan. Selain itu, mereka juga selalu gundul atau potong rambut hingga habis, termasuk bhiksu wanita.

Hal yang saya perhatikan adalah konsistensi dalam menjalankan ajaran agamanya. Mereka itu di mana saja, baik di tengah perjalanan, di pertemuan-pertemuan penting yang dihadiri banyak orang yang berbeda-beda agamanya sekalipun, dan atau di tempat lain di mana saja, selalu mengenakan pakaian seragamnya itu. Demi mentaati dan melaksanakan ajaran agamanya, mereka mau berbeda dengan yang lain.

Baru-baru ini, tepatnya pada tanggal 26 Pebruari 2014, saya diundang untuk menjadi pembicara dalam acara bedah buku yang mengupas pemikiran Dr. Suryadharma Ali tentang pendidikan dan kerukunan umat beragama, di Jakarta. Ketika itu, sama-sama menjadi pembicara, di antaranya adalah Dr.KH. Hasyim Muzadi, mantan Ketua PBNU. Dalam acara itu, hadir pula beberapa orang bhiksu dan tokoh-tokoh berbagai agama.

Sebagaimana saya kemukakan di muka, bahwa setiap ada bhiksu, saya selalu tertarik untuk memperhatikan dan bahkan juga merenungkan atas konsistensinya di dalam menjalankan ajaran agamanya itu. Menjadi bhiksu menurut pendapat saya sedemikian berat. Bagaimana tidak, mereka selamanya harus mengenakan pakaian khas. Saya mengatakan berat, oleh karena saya sendiri merasakan, yaitu sekedar beberapa hari saja mengenakan baju ikhram ketika umrah dan atau haji sudah terasa lama. Lebih berat lagi, para bhiksu harus selalu memotong rambutnya hingga habis.

Di sela-sela acara bedah buku itu, saya menyampaikan isi hati saya tentang para biksu yang duduk di tengah para peserta diskusi kepada KH Hasyim Muzadi. Ternyata tidak saja saya, KH Hasyim Muzadi pun juga memberikan perhatian yang sama. Beliau juga demikian, membayangkan betapa berat menjadi seorang bhiksu. Sepanjang hidupnya, mereka harus melakukan sesuatu yang harus berbeda dengan orang lain.

Bahkan menurut KH.Hasyim Muzadi, ada hal lagi yang lebih menarik dari tatkala melihat para bhiksu. Beliau mengatakan bahwa, dulu bangsa Indonesia ini beragama Hindu dan Budha. Sekalipun pemeluk kedua agama itu sedemikian disiplin dalam menjalankan etika, sopan santun, tatakrama, dan nilai-nilai kemanusian lainnya, ternyata mereka masih merasa kalah dibanding dengan pemeluk agama Islam yang datang kemudian. Akhirnya, dalam waktu yang tidak terlalu lama, mereka lebih tertarik dengan Islam, ---------yakni agama yang dibawa oleh para pedagang, dan berganti agama menjadi muslim.

Menurut pendapat KH Hasyim Muzadi, rupanya sejarah dakwah Islam yang sedemikian indah itu terlupakan. Para pendakwah Islam sekarang ini tidak lagi selalu menampakan perilaku lembut, yakni mengedepankan kasih sayang, peduli, menghargai orang, empati, dan sejenisnya, malah justru sebaliknya. Kadangkala Islam ditampakkan dalam wajah keras, seolah-olah ingin menangnya sendiri, dan atau agar mengalahkan pihak yang lain.

Padahal sesungguhnya benar, bahwa keindahan dalam pergaulan hingga orang lain justru menjadi tertarik adalah terletak pada kelembutan perilaku, karakter, dan atau keagungan akhlak. Oleh karena itu semestinya, sejarah berdakwah lewat cara yang lembut dan indah itu ternyata berhasil maka tidak boleh dilupakan. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up