Masjid adalah sesuatu yang biasa, di mana-mana ada. Bangunannya seperti itu, tidak pernah berubah-ubah. Masjid ya masjid. Tidak ada sesuatu yang istimewa. Bangunan itu digunakan untuk tempat ibadah, sholat berjama'ah, i'tikaf, membaca al Qur'an, pengajian, atau apa saja di seputar itu.
Kesan biasa itu menjadi berubah menjadi tidak biasa tatkala seseorang bersedia sedikit saja melakukan perenungan dan membedakan dari bagunan lainnya. Bangunan masjid adalah khas. Di mana-mana sama.Tempat ibadah, apapun jenis agamanya, rupanya dibuat khas. Umpama bangunan masjid dibuat seperti mall, kantor, atau perumahan, mungkin tidak terasa nuansa spiritualnya.
Nuansa spiritual itu penting, hingga siapapun yang datang ke masjid berhasil membangun suasana berbeda, ialah khusu'. Bangunannya dibuat berwibawa termasuk suasana di dalamnya. Begitu orang masuk masjid, maka perasaan keberagamaan tumbuh. Memang, suasana khusu' tidak mudah dibangun atau ditumbuhkan. Masjid membantu mengembangkan suasana itu.
Setiap orang yang datang ke masjid harus dalam keadaan suci. Hati, pikiran dan jasmani harus bersih dan suci. Bahkan siapapun tatkala mau masuk ke masjid untuk sholat harus bersuci terlebih dahului, baik suci dari hadats besar maupun kecil. Orang yang mau masuk masjid hatinya harus bersih, dan demikian pula pikiran maupun jasmaninya. Kebersihan dan kesucian itu diingatkan oleh masjid.
Masjid juga mengingatkan tentang kebersamaan dan kesamaan derajad. Semua orang tatkala shalat di masjid secara berjama'ah tidak dibeda-bedakan. Siapapun yang datang ke masjid lebih awal dipersilahkan duduk di shaf paling depan. Tidak peduli, apakah tukang parkir, pedagang kaki lima, pencari barang bekas, atau siapa saja, asal datang lebih awal, boleh menempati tempat paling depan. Begitu pula sebaliknya, sekaya apapun, pejabat, atau bangsawan, manakala mereka itu datang terlambat, dipersilahkan duduk di barisan yang masih kosong di belakang.
Masjid tidak mengenal stratifikasi sosial. Semua orang di dalamnya dianggap sama. Di dalam masjid tidak berlaku kesenjangan, perbedaan, atau jarak sosial. Pada waktu shalat, bacaan yang diucapkan sama. Demikian pula gerakan-gerakan dalam ibadah itu, berdiri, ruku', sujud, dan duduk, semuanya adalah sama. Tatkala sedang bersujud, baik yang gemuk, kurus, tua, muda, atau keadaan apa lainnya, wajahnya harus menempel di tempat sujud. Ketika sedang bersujud wajah seseorang diletakkan lebih rendah dari posisi pantatnya masing-masing. Pengercualian hanya diberikan kepada orang yang tidak mampu, tidak sehat, atau tidak kuat. Mereka boleh shalat sambil duduk saja.
Umpama pelajaran dari masjid itu diimplementasikan dalam kegiatan di luar masjid, misalnya dalam berekonomi, berpolitik, hukum, sosial dan lain-lain, maka Islam, tentu saja akan menjadi kelihatan sangat indah. Sayangnya, apa yang terjadi di masjid berbeda dengan yang tampak di luar masjid. Di luar masjid orang mengeluh, telah terjadi kesenjangan sosial yang luar biasa lebarnya. Ada orang yang rumahnya besar, indah, dan juga jumlahnya banyak, tetapi sebaliknya, ada yang hanya menempati ruangan sempit, kumuh, dan bahkan ada pula yang tidak punya sama sekali.
Padahal ada hadits nabi yang sangat populer, yang kurang lebih mengatakan bahwa, tidak sempurna iman seseorang yang tidur nyenyak karena kekenyangan, sementara itu saudara-saudaranya tidak bisa tidur oleh karena kelaparan. Hadits lain mengatakan bahwa tidak sempurna iman seseorang hingga bersedia mencintai orang lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Menurut tuntutnan Islam, di antara kaum muslimin diumpamakan bagaikan sebuah bangunan, di antara bagian satu dengan bagian lainnya supaya saling memperkukuh. Tatkala sebagian merasa sakit maka hendaknya yang lain ikut merasakan semuanya.
Ajaran Islam yang sedemikian indah, dan pada setiap saat diingatkan oleh bangunan masjid dimaksud ternyata belum ditangkap dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Berlebih-lebihan di tengah-tengah yang lain berkekurangan masih dianggap sebagai hal biasa. Padahal perasaan biasa itu sebenarnya bukan datang atau bersumber dari ajaran Islam yang mulia. Islam mengajarkan kesucian, kedamaian, kebersamaan, tolong menolong secara lahir maupun batin di antara sesama. Ketika mengingat gambaran kehidupan yang indah seperti itu, maka perasaan yang muncul adalah, seolah-olah kita semua sudah ber-Islam, namun sebenarnya, menurut ukuran-ukuran ideal dimaksud, keber-Islaman itu ternyata belum sempurna. Wallahu a'lam.



