Selesai shalat, lengkap dengan dzikir dan doa, menjelang meninggalkan tempat sujud itu, saya melihat bahwa sajadah yang saya gunakan, sebagaimana terdapat pada labelnya terbaca buatan China. Tertulis pada sajadah itu made in China. Ketika itu, saya percaya bahwa alas shalat itu memang benar-benar bukan buatan Indonesia, tetapi diimport dari luar negeri.
Tentang siapa yang membuat kelengkapan shalat itu sebenarnya tidak ada kaitannya dengan sah atau tidaknya kegiatan ritual itu, sehingga sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan. Persoalan itu baru muncul jika dihubungan dengan pertanyaan, mengapa benda yang sesederhana itu saja, -----sajadah, harus import dari luar negeri. Bukankah sebenarnya umat Islam, termasuk umat Islam Indonesia, sudah mampu membuat peralatan shalat itu.
Pertanyaan saya selanjutnya, sekalipun juga tidak perlu dijawab, ialah apa sebenarnya yang sudah bisa dibuat sendiri oleh umat Islam. Jangan-jangan selama ini, umat Islam belum berpikir untuk bisa memberi sesuatu untuk orang lain. Sebaliknya, umat Islam masih menjadi pasar atau tergantung pada pihak lain. Umat Islam dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata masih kalah bersaing atau bahkan belum mampu bersaing.
Padahal ajaran Rasulullah yang amat populer mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia lainnya. Umat Islam diharapkan menjadi khalifah, umat terbaik, dan mampu memberi manfaat bagi umat lainnya. Harapan seperti itu kiranya perlu segera dijawab, lewat karya-karya umat Islam sendiri.
Erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh umat Islam. Lembaga pendidikan Islam harus berhasil melahirkan orang-orang yang mampu membuat sesuatu, sehingga berhasil memberi manfaat terhadap orang lain, siapapun orangnya. Bukan sebaliknya, sebagaimana dikemukakan di muka, sajadah saja masih harus dibuatkan atau diimport.
Sebagai orang yang cukup lama terlibat dalam mengembangkan pendidikan Islam, saya membayangkan bahwa seharusnya umat Islam menjadi pelopor, tidak saja dalam kegiatan ritual, melainkan juga kegiatan yang terkait dengan pengembangan ilmu pengetahuan atau sains dan juga teknologi. Sedemikian tinggi al Qur'an dan hadits nabi menghargai kepada orang-orang yang mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan, maka seharusnya penghargaan itu mendorong umatnya untuk membangun lembaga pendidikan, laboratorium atau pusat riset, dan perpustakaan di mana-mana.
Berkali-kali berkunjung ke beberapa negara Islam, saya belum berhasil menemukan lembaga pendidikan, pusat-pusat riset, dan perpustakaan yang tergolong hebat. Pada umumnya lembaga-lembaga pendidikan di negara-negara Islam belum beranjak dari tradisi yang telah lama dikembangkan. Pusat-pusat riset dan apalagi pengembangan teknologi, masih kalah dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan oleh para ilmuwan di negara-negara maju yang penduduknya bukan muslim. Sebaliknya, banyak perguruan tinggi Islam di negara-negara Islam masih saja sibuk berbicara tentang madzhab, aliran, dan bahkan juga pertentangan yang terkait dengan hal itu.
Bukan berati bahwa perbincangan yang terkait dengan aliran atau madzhab tidak penting, namun menurut hemat saya, di zaman yang semakin modern seperti sekarang ini, umat Islam, sebagai umat terbaik, khalifah, dan agar selalu memberi manfaat lebih, maka perlu segera ikut mengembangkan sains dan teknologi, sehingga mampu bersaing dan bahkan diperhitungkan oleh umat lainnya. Umat Islam kiranya juga seharusnya mampu menciptakan alat-alat transportasi, komunikasi, kesehatan, dan bahkan juga peralatan lain yang lebih canggih. Dengan demikian umat Islam berhasil membuktikan kelebihannya dan berperan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan modern sekarang ini.
Saya pernah pergi ke Baghdad. Dalam kesempatan itu, saya melihat beberapa peninggalan beradaban bangsa itu yang disebut-sebut pernah sedemikian maju, berhasil mengalahkan bangsa-bangsa lain. Saya ketika itu menyaksikan, di kota itu terdapat perguruan tinggi yang yang dibangun pada tahun 1222 M, bernama al jama'ah al Musytansiriyah. Ketika menyaksikan bangunan tua lembaga pendidikan tinggi itu, saya membayangkan bahwa ternyata benar bahwa dalam sejarahnya umat Islam Islam sudah pernah berhasil merumuskan model pendidikan yang menjadikan bangsanya maju.
Sayangnya, kampus tua yang saya lihat itu sudah tidak berkembang lagi. Namun dari melihat apa yang masih tersisa, saya mendapatkan pelajaran bahwa universitas Islam tidak saja mengajarkan fiqh, tarekh, bahasa, dan sejenisnya, tetapi juga mengajarkan tentang bagaimana bertani, berdagang, membuat kerajinan, dan bahkan juga mengajarkan strategi berperang. Dalam pikiran saja, umpama perguruan tinggi Islam juga mengembangkan sains dan teknologi, termasuk ilmu kedokteran, pertanian, pertambangan, dan lain-lain, maka Islam akan semakin maju.
Demikian pula, tatkala belajar Islam tidak hanya sebatas dari aspek fiqh, tauhid, akhlaq dan tasawwuf, tetapi lebih dari itu bahwa selain mendalami al Qur'an dan hadits nabi juga mengkaji ilmu-ilmu yang bersumber dari ayat-ayat kawniyah, sehingga identitas sebagai umat terbaik, khalifah di muka bumi, dan pemberi manfaat bagi orang atau bahkan umat lain akan benar-benar dapat dibuktikan. Wallahu a'lam.



