Menyaksikan Pedagang Durian Di Tengah Hutan Tersenyum Gembira
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 21 Maret 2014 . in Dosen . 981 views

Pedagang durian bisa ditemukan di mana-mana. Pada musim buah seperti sekarang ini, di pinggir-pinggir jalan, banyak pedagang berbagai jenis buah termasuk durian menawarkan dagangannya. Hal itu lebih-lebih di daerah pegunungan yang banyak menghasilkan berbagai jenis buah-buahan.

Dalam perjalanan saya bersama Prof. Azyumardi Azra dan Prof. Masykuri Abdillah dari Palopo ke Toraja, banyak orang menjajakan buah-buahan seperti pisang, langsat, rambutan, dan juga durian di pinggir jalan. Perjalanan sekitar 3 jam yang menghubungkan dua kabupaten tersebut merupakan pegunungan dan berupa hutan yang masih lebat. Jalannya sempit dan berkelok-kelok di tebing gunung, di kanan dan kiri jalan tampak banyak sekali pohon-pohon penghasil buah-buahan.

Suasana pegunungan yang indah dan hutan lebat itu menjadikan rasa lelah hilang dengan sendirinya. Sehari-hari di kota menyaksikan jalan macet, banyak orang lalu lalang di jalan raya dengan berbagai jenis kendaraan bermotor hingga suara sangat bising, maka sebaliknya yang ada di jalan antara Palopo dan Toraja. Kendaraan bermotor sudah banyak, tetapi belum padat. Suasana yang diliputi oleh hutan yang masih terawat dengan baik mendatangkan suasana damai, sejuk, dan indah.

Bagi para sopir mungkin tidak leluasa menikmati pemandangan di kanan kiri jalan, oleh karena ia harus berhati-hati tatkala melewati jalan yang sempit dan berkelok-kelok itu. Sedikit saja kurang hati-hati, kendaraan yang dikemudikannya, sangat berbahaya, jatuh ke jurang atau menabrak tebing. Namun biasanya, di jalan yang penuh resiko seperti itu justru tidak banyak kendaraan yang mengalami kecelakaan. Para sopir dalam keadaan seperti itu selalu berhati-hati dan atau wasapada dalam menjalankan pekerjaannya.

Melihat banyak pedagang durian itu, Dr. Abdul Pirol, dosen STAIN Palopo yang sebentar lagi akan dilantik sebagai ketua perguruan tinggi itu, -------baru terpilih, menawarkan kepada saya apakah masih sanggup mencicipi buah yang berduri itu. Saya katakan bahwa sekalipun usia saya sudah mencapai 64 tahun berjalan, masih belum memiliki pantangan berbagai jenis makanan. Asalkan halal, saya masih bisa menikmati, termasuk durian.

Mendengar jawaban saya tersebut, calon ketua STAIN Palopo yang masih kelihatan sangat muda itu, segera meminta driver mobil yang sedang dikendarai untuk berhenti di pinggir jalan, tempat para pejual durian menjajakan dagangannya. Sebegitu mudah mendapatkan tempat yang dimaksud, oleh karena pedagang buah-buahan di tengah hutan dan berbentuk pegunungan itu begitu banyak jumlahnya. Di tempat-tempat itu, rupanya buah sedemikian melimpah. Gambaran tentang kemakmuran menyertai keindahan tempatnya.

Di tempat pemberhentian kendaraan itu, Dr. Abdul Pirol, segera memilih di antara banyak durian yang ditawarkan. Tampaknya dengan uang Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) sudah mendapatkan beberapa buah durian dan masih ditambah beberapa bungkus plastik berisi langsat. Pada saat itu, saya kurang memperhatikan buah yang dibeli, tetapi justru kepada penjualnya. Saya melihat tatkala dagangannya laku, orang yang sudah cukup tua sebagai penjualnya itu tersenyum gembira. Kegembiraan secara spontan itu, mungkin oleh karena pembelinya tidak perlu harus melakukan tawar menawar atau mungkin juga oleh karena saat-saat yang ditunggu, dagangannya laku.

Menyaksikan kebahagiaan pedagang durian yang sudah itu, membawa pikiran saya untuk berkalkulasi. Berapa kira-kira untung yang diperoleh pedagang buah-buahan itu. Beberapa butir durian dan masih ditambah lagi beberapa bukus langsat hanya berharga Rp. 50.000,- ( lima puluh ribu rupiah). Mendapatkan uang sebanyak itu, dan tentu masih akan dikurangi modalnya, ia sudah sedemikian bergembira dan tersenyum berlama-lama. Saya lihat, kegembiraan itu menggambarkan rasa syukurnya yang mendalam.

Para pedagang buah-buahan itu untuk memperoleh keuntungan yang tidak seberapa harus berhari-hari atau bahkan selamanya bertempat tinggal di pinggir jalan yang berada di wilayah hutan lebat dan pegunungan. Namun, mereka itu masih tersenyum sebagai tanda gembira dan rasa syukur. Gambaran itu tampak kontras dibandingkan dengan banyak orang di kota-kota yang sehari-hari mendapatkan penghasilan ratusan ribu dan bahkan jutaan rupiah, namun tidak selalu menunjukkan kegembiraannya.

Merenungkan pemandangan dan membanding-bandingkan banyak orang dalam mensikapi rizki, maka bisa ditangkap pemahaman bahwa Tuhan dalam memberikan rizki kepada banyak orang ternyata dalam jumlah dan bentuk yang berbeda-beda. Adakalanya, seseorang dikaruniai rizki yang begitu banyak, tetapi kurang dirasakan hingga tidak bersyukuri, dan sebaliknya. Tuhan dalam membagi rizki ternyata tidak sama jumlahnya. Akan tetapi tatkala membagi nikmat, sungguh merata. Pedagang durian di tengah hutan antara Palopo-Toraja memperpoleh rizki tidak seberapa jumlahnya, tetapi tampak menikmati dan mensyukuri. Buktinya mereka tersenyum gembira. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up