Orang-Orang Terpilih
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 11 Maret 2014 . in Dosen . 2178 views

Dalam kehidupan ini ternyata setiap orang tidak memiliki nasip yang sama. Ada orang-orang yang dianggap memiliki kelebihan, dan sebaliknya menjadi orang biasa-biasa, dan bahkan ada juga yang serba berkekurangan. Orang-orang yang dianggap memiliki kelebihan dipilih menjadi pemimpin di antara orang-orang kebanyakan. Kelebihan itu bisa berupa kepintaran, kemampuan berkomunikasi, banyak ide, ketulusan atau selalu peduli kepada orang lain, dan atau komulasi dari berbagai kelebihan itu.

Dalam kehidupan berpolitik, orang-orang yang memiliki kelebihan itu dipilih menjadi pemimpin, seperti menjadi anggota DPRD, DPR, bupati, walikota, gubernur, menteri, direktur bank, kejaksaan, hakim, rektor, kepala sekolah, lurah atau kepala desa, dan lain-lain. Mereka itu adalah orang-orang terpilih. Untuk menjadi anggota DPRD atau DPR misalnya, tidak mudah. Yang bersangkutan harus dipilih oleh sekian ribu pemilih.

Demikian pula untuk menjadi bupati, wali kota, gubernur, menteri, dan lain-lain. Mereka harus dipilih secara langsung oleh rakyat. Jabatan menteri ditunjuk oleh presiden, tetapi tidak sembarang orang bisa dipilih oleh presiden. Sementara itu presiden sendiri dipilih oleh rakyat. Oleh karena itu, menteri sebenarnya secara tidak langsung juga dipilih oleh rakyat pula.

Jabatan penting dan strategis lain, di antaranya adalah pimpinan kepolisian, hakim, jaksa, dan lain-lain. Mereka itu adalah orang-orang pilihan. Hingga berhasil menduduki posisi-posisi terhormat itu, mereka mampu menunjukkan bahwa yang bersangkutan bukan sembarang orang. Semua pejabat itu, baik dari aspek integritas, jiwa nasionalisme, ketaqwaan, kecerdasan, dan tanggung jawab, dan lain-lainnya tidak diragukan. Mereka adalah orang-orang terpilih di antara sekian banyak orang lainnya yang tidak masuk hitungan.

Namun hal yang sangat menyedihkan, sementara orang-orang terpilih itu ternyata tatkala ada gerakan pemberantasan korupsi, tidak sedikit jumlahnya yang menjadi tersangka dan bahkan sudah dipenjarakan. Menurut sumber yang patut dipercaya hampir separo bupati, wali kota, dan gubernur ternyata telah tersandung kasus korupsi. Fenomena seperti itu manakala menggunakan teori gunung es untuk memahami siapa sebenarnya orang-orang terpilih itu, maka bisa ditebak bahwa sebenarnya hanya sedikit saja di negeri ini orang-orang yang memiliki keunggulan yang sebenarnya.

Tidak bisa dibayangkan, bahwa seorang menteri, ketua mahkamah konstitusi, gubernur, bupati, wali kota, direktur bank, anggora DPR, dan lain-lain ternyata masih jatuh tergoda oleh rayuan uang atau harta kekayaan. Orang-orang pilihan seperti itu ternyata masih belum mampu menjaga dirinya sendiri. Di tengah-tengah gencarnya pemberantasan korupsi, ternyata mereka itu masih berani melakukan kejahatan itu. Oleh karenanya, bisa dipahami bahwa menghindar dari tindakan korupsi bukan perkara gampang. Orang-orang terpilih saja ternyata tidak mampu mencegah dirinya sendiri dari melakukan perbuatan dosa itu.

Kenyataan itu bisa dijadikan pelajaran, bahwa menghindar dari perbuatan korup adalah bukan perkara mudah. Bisa saja orang yang pada awalnya dengan nada keras mengatakan sebagai pembenci korupsi, tetapi tidak lama kemudian yang bersangkutan sendiri ternyata tertangkap KPK. Pelaku korupsi itu juga tidak tanggung-tanggung, bahkan orang yang sehari-hari bertugas mengadili koruptor pun ada juga melakukan korupsi. Kita lihat ada oknum polisi, jaksa, hakim, bahkan KPK, ternyata juga ada yang terlibat kasus itu.

Melihat kenyataan itu, maka memberantas korupsi hanya dengan menangkap dan mengadili pelakunya tidaklah cukup. Usaha itu hanya akan berhasil memenjarakan orang-orang pilihan rakyat yang semula dianggap terbaik. Selain itu, pemberantasan korupsi juga tidak cukup hanya lewat menaikkan gaji atau tunjangan. Sebab mereka yang melakukan korupsi itu ternyata juga bukan orang-orang yang bergaji atau bertunjangan rendah. Oleh karena itu, untuk memahami perilaku korupsi dan cara menyelesaikannya, maka perlu melihat aspek-aspek kemanusiaan secara lebih dalam lagi. Misalnya, jangan-jangan bangsa ini sudah terkena penyakit berbahaya yang belum pernah disadari, yaitu 'terlalu mencintai harta'.

Boleh-boleh saja orang mencintai harta, akan tetapi manakala kecintaan itu berlebihan, maka akan menjadi penyakit. Orang yang terlalu mencintai harta akan berakibat lupa segala-galanya. Mereka akan lupa terhadap keluarga, jabatan, dan bahkan juga terhadap keselamatan dirinya sendiri. Orang yang terlalu mencintai harta, maka keluarga atau saudaranya sendiri terkadang tidak dihiraukan. Mereka itu akan lebih mementingkan hartanya daripada harkat dan martabat keluarga, saudara, dan bahkan juga harkat dan martabat dirinya sendiri. Oleh karena penyakit di dalam hatinya itu, mereka menjadi lupa bahwa dirinya adalah termasuk orang terpilih. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up