Sekilas Tentang Penulisan Disertasi
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 3 Maret 2014 . in Dosen . 5301 views

Setiap calon sarjana, baik S1, S2, dan S3 dipersyaratkan menyusun karya ilmiah yang ditulis dari hasil penelitiannya sendiri. Seringkali orang bertanya, apa beda antara karya ilmiah untuk S1, S2, dan S3. Dilihat dari tebal tipisna, karya ilmiah itu memang beda. Skripsi biasanya lebih tipis dibandng dengan thesis, sedangkan disertasi lebih tebal lagi. Sebenarnya perbedaan itu bukan terletak di jumlah halamannya itu, melainkan pada tingkat kedalaman dan atau keluasan kajiannya.

Sementara orang menyebut bahwa skripsi hanya sekedar meneliti apakah teori yang dipelajari di ruang kuliah atau dari buku yang dibaca benar-benar terjadi atau ditemukan di lapangan. Sementara itu thesis lebih mendalam lagi, yaitu dituntut mengembangkan teori yang telah ada. Sedangkan disertasi sebisa-bisa bisa berhasil mendapatkan teori baru. Oleh karena itulah maka tatkala ujian disertasi, penguji menanyakan tentang teori apa yang baru dari disertasi yang dibuatnya itu.

Urutan yang mudah seperti ini, ternyata masih dirasakan sulit oleh sementara orang yang akan menyusun disertasi. Padahal tatkala mereka akan menyusun disertasi, pasti sebelumnya telah menulis karya ilmiah berupa skrpsi atau thesis. Dengan demikian seharusnya, pengalaman di dalam menyusun karya ilmiah untuk S1 dan S2 cukup dijadikan bekal untuk menyusun karya ilmiah sebagai syarat memperoleh gelar Doktor atau lulus S3. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak selalu demikian. Tidak sedikit orang yang sedang memulai menulis disertasi masih mengalami kesulitan.

Anehnya, kesulitan yang dialami itu masih berada pada tataran yang amat sederhana, yaitu tatkala merumuskan research quention yang selalu dituntut dalam penulisan karya ilmiah. Pertanyaan akademik sebuah disertasi tentu tidak sebagaimana pertanyaan biasa yang bisa dijawab oleh seseorang secara spontan. Pertanyaan akademik yang saya sebut sebagai research question itu memiliki bebarapa alternative jawaban. Sedangkan alternative jawaban itu selalu mengundang diskusi dan bahkan debat di lingkungan akademisi.

Jenis pertanyaan tentang apa, di mana, dan siapa, tentu bukan masuk kategori pertanyaan akademik, oleh karena itu jawabannya pasti dan mudah diperoleh. Untuk menjawab pertanyaan siapa rector UIN Malang, Dekan Fakultas Terbiyah, Dekan Fakultas Psikologi, dan mereka itu rumahnya di mana, maka tidak perlu berdebat berkepanjangan. Jawabnya cukup diperoleh dari menanyakan kepada orang yang mengetahuinya. Berbeda misalnya dengan pertanyaan, mengapa sejak tahun 1980-an gelombang masyarakat menjadi santri sedemikian besar. Contoh lain misalnya, mengapa pusat kekuatan yang melahirkan gelombang besar itu bukan berasal dari elite agama sendiri melainkan justru dari luar .

Pertanyaan tersebut itu perlu dijawab, dan menjawabnya tidak sederhana. Diperlukan logika yang kuat untuk berargumen dan juga data yang cukup untuk mendukung argumentasi itu. Selain itu tentu jawaban akan melahirkan debat dan jawaban yang akan memperoleh tidak akan pernah tunggal. Sedangkan jawaban yang paling benar adalah yang mendasarkan logika atau argumen yang paling kuat serta didukung oleh data yang diperoleh dari penelitiannya di lapangan.

Proses penelitian itu memerlukan waktu lama. Di-tengah-tengah proses mencari jawab lewat kegiatan penelitian itu, biasanya peneliti menemukan hipotesis-hipotesis yang selanjutnya akan diuji, baik oleh logika yang selalu dikembangkan maupun data di lapangan. Tatkala hipotesis sudah ditemukan, maka penelitian selanjutnya menjadi relative mudah, sebab kegiatannya sudah terbimbing oleh hipotesis dimaksud.

Kembali kepada contoh di muka, dengan meneliti tentang terjadinya gelombang besar berupa orang-orang semakin menjadi santri, maka misalnya ditemukan hipotesis bahwa kejadian itu sebagai akibat dari restrukturisasi partai politik yang dilakukan oleh pemerintah orde baru. Kebijakan itu menjadikan perubahan besar menyangkut hubungan antara elite agama dengan elite birokrasi. Kedekatan kedua elite agama dan elite politik itulah yang menjadikan terjadinya gelombang besar santrinisasi itu.

Menyaksikan kesulitan yang dialami oleh para mahasiswa di dalam neyusun disertasi, baik tatkala menjadi dosen pembimbing, berdiskusi, dan juga pada waktu bertindak sebagai penguji, saya menyimpulkan sementara, bahwa kesulitan itu setidaknya diakibatkan oleh dua hal sebagai berikut : (1) keterbatasan mereka di dalam penguasaan konsep dan teori-teori yang sebenarnya sangat diperlukan. Mestinya, pada batas-batas tertentu, para penulis disertasi khususnya untuk ilmu-ilmu social harus mengenal konsep dan teori sosiologi, psikologi, sejarah dan antropologi. Sedangkan ke (2) mereka masih memiliki kelemahan dalam metodologi.

Keterbatasan penguasaan metodologi yang saya maksudkan bukan sebatas terkait dengan teknik-teknik pengumpulan data, penentuan sample, dan cara-cara menganalisisnya, melainkan lebih luas dan mendalam dari sebatas itu. Tatkala mau meneliti tentang terjadinya gelombang perubahan masyarakat misalnya, maka tentu memerlukan logika untuk menjelaskan kejadian itu, data yang diperlukan, dan cara pengujiannya. Peneliti harus memiliki kerangka berpikir dan memahami teori sosiologi, sejarah, dan ilmu politik yang kuat sehingga mampu mempertanggung-jawabkan atau sanggup berdebat dengan siapapun terkait dengan hasil-hasil yang diperolehnya. Manakala hal-hal seperti ini dikuasai, kiranya tidak ada yang sulit dalam menyusun disertasi, dan apalagi thesis atau skripsi. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up