Umpama Berperang Dalam Posisi Berbaris
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 31 Maret 2014 . in Dosen . 1032 views

Kegiatan baris berbaris bagi tentara adalah hal biasa. Sehari-hari, di kala sedang tidak berperang, kegiatan para tentara atau serdadu adalah berbaris. Kegiatan itu banyak keuntungan yang akan diraih, setidaknya melatih kedisiplinan dan memupuk loyalitas kepada setiap pimpinannya. Seorang tentara harus loyal penuh kepada komando atasannya.

Sekalipun sehari-hari berbaris, tatkala sedang dalam keadaan berperang, kiranya tidak ada serdadu yang berani berbaris secara terbuka, apalagi di hadapan musuh. Tentara yang sedang berbaris dan diketahui musuhnya, maka akan sangat mudah ditembak. Agar menang dalam peperangan, maka mereka harus memiliki strategi. Tentara tidak boleh lugu, menampakkan apa adanya. Rahasia berperang harus dimiliki oleh tentara manapun.

Tentara, di mana saja, selalu berbeda tatkala sedang tidak berperang dan tatkala sedang berperang. Tatkala tidak sedang berperang, sebagaimana dikemukakan di muka, mereka selalu kelihatan baris rapi. Semua geraknya tampak seragam, demikian pula pakaiannya. Namun ketika sedang berada di medan perang, bisa jadi pakaian itu diserupakan daun-daunan, dan wajahnya dicorang coreng, agar tidak tampak sebagaimana tentara.

Hal demikian itu mestinya juga dilakukan oleh para birokrat. Dalam hal-hal tertentu, tatkala sedang memberikan pelayanan kepada masyarakat, birokrat seharusnya menunjukkan kedisiplinannya, bekerja tepat waktu, efisien, menunaikan tugas sesuai dengan tupoksi, dan petunjuk operasional. Akan tetapi dalam hal-hal tertentu lainnya, apalagi birokrat yang memiliki kewenangan mengambil kebijakan, seharusnya diperbolehkan untuk keluar dari prosedur normal. Pemimpin birokrasi mestinya diberi space atau ruang gerak untuk mengambil kebijakan.

Para pengambil kebijakan itu, sebagaimana tentara tatkala sedang berperang, seharusnya diberi ruang atau keleluasaan untuk berinisiatif, mengembangkan kreatifitas, dan kecerdasannya. Namun sayangnya, birokrasi yang dikembangkan oleh pemerintah pada saat sekarang ini, hampir-hampir tidak diberi ruang gerak untuk mengembangkan kreatifitasnya itu. Menyimpang dari tupoksi, sekalipun strategis dan menguntungkan pemerintah, dianggap keliru, dan manakala berhubungan dengan anggaran, maka akan dianggap sebagai penyimpangan, dan uang yang digunakannya harus dikembalikan atau yang bersangkutan diadukan ke kejaksaan.

Padahal masyarakat yang dilayani selalu bersifat dinamis, sementara itu birokrasi harus dijalankan secara kaku. Itulah sebabnya, apa saja yang terkait dengan birokrasi pemerintah selalu terasa ketinggalan zaman dan bahkan juga dianggap korup. Seorang pejabat pemerintah tatkala berhadapan dengan masyarakat yang selalu bersifat dinamis itu, tidak banyak pilihan, kecuali mengikuti peraturan birokrasinya. Akibatnya, pelayanan dirasakan kaku, lalu orang yang dilayani menyebutnya terlalu berbelit-belit dan birokrastis. Hal yang sedemikian itu sebenarnya sebagai akibat dari perilaku pejabat yang tidak ingin dianggap menyimpang dan beresiko pada dirinya.

Sayangnya, birokrasi yang kaku seperti itu juga diterapkan di perguruan tinggi. Institusi yang seharusnya memiliki karakteristik, yaitu selalu memiliki kebebasan, terbuka, berani tetapi bertanggung jawab, sebagai prasarat bagi siapapun yang bertugas mengembangkan ilmu pengetahuan, juga tidak diberikan. Birokrasi perguruan tinggi pun juga harus dijalankan secara kaku. Tentu, akibatnya fungsi yang diemban sebagai pusat pengembangan ilmu dan perubahan akan tidak mungkin bisa dijalankan.

Manakala birokrasi seperti itu tetap dipertahankan, kiranya kecil kemungkinannya, perguruan tinggi di Indonesia akan mengalami kemajuan sebagaimana yang banyak diharapkan selama ini. Padahal untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju, perguruan tinggi di Indonesia seharusnya dimanage sedemikian rupa, hingga dimungkinkan melakukan lompatan-lompatan panjang. Akan tetapi, lompatan itu tidak akan mungkin dilakukan oleh karena, ternyata kakinya dibelenggu oleh aturan birokrasi kaku itu.

Agar bangsa ini berpeluang memenangkan kompetisi yang semakin keras seperti yang dihadapi sekarang ini, --------apalagi lembaga pendidikan tinggi, maka birokrasinya harus diperlonggar. Boleh-boleh saja misalnya, pada saat-saat tertentu berdisiplin tinggi, seperti tentara, yaitu selalu berbaris dengan rapi, tentapi pada suasana menghadapi keadaan tertentu, juga sebagaimana serdadu di medan perang, seharusnya diberi peluang dan bahkan didorong untuk memilih strategi, agar menang dalam berkompetisi. Sebaliknya, manakala birokrasi justru diperkaku, apalagi birokrasi perguruan tinggi, maka tidak akan mungkin berhasil memenangkan pertandingan. Apa saja yang dijalankan dengan lugu atau kaku, maka akan mudah dijatuhkan dan akibatnya ya kalah. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up