Antara Bermental Singa Dan Bermental Bebek
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 7 April 2014 . in Dosen . 14830 views

Dua jenis binatang yang tersebut dalam judul tulisan ini memang tidak sebanding. Di antara keduanya, jelas sekali, jauh berbeda. Singa adalah binatang buas yang ditakuti oleh siapapun. Satu-satunya yang berani mendekati singa, dan itupun singa yang sudah dijinakkan, adalah pawang singa. Tatkala mendekati binatang buas itu, seorang pawang singa pun juga harus waspada, harus mampu menyelamatkan diri manakala sewaktu-waktu akan diterkam.

Begitu hebatnya sosok binatang buas dimaksud. Membaca atau mendengar sebutan singa saja, maka akan mendatangkan gambaran tentang sosok binatang yang menakutkan dan tidak mudah ditaklukkan. Badan binatang buas itu berukuran besar dan tegap, sehingga selalu mendatangkan kewibawaan, angker, rasa takut. Binatang buas ini tidak mengkonsumsi sembarang makanan. Singa hanya mau mengkonsumsi jenis daging pilihan yang masih segar.

Singa juga tidak mudah dibujuk dan direkayasa. Sebagai pemilik sebutan raja hutan, ia ditakuti oleh berbagai jenis binatang lainnya. Binatang buas dengan karakteristik seperti itu biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki mental yang kuat sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh siapapun. Orang yang bermental singa, maka tidak akan mudah dibujuk oleh dan dengan apapun.

Seorang yang bermental singa akan menjadi sosok pemberani dalam menghadapi dan bahkan melawan siapapun. Siapa saja yang akan mengganggu akan diterkam dan bahkan akan dijadikan mangsanya. Oleh karena itu, di mana dan kapan saja tidak akan ada orang yang berani dengan singa atau orang yang bermental singa.

Bertolak belakang dengan singa, satu di antaranya adalah bebek. Bebek adalah binatang yang tergolong amat jinak. Memeliharanya juga tidak sulit. Anak kecil, umur belasan tahun saja sanggup diberi tugas menggembala bebek. Binatang yang memberi keuntungan ekonomi tidak seberapa itu biasanya dipelihara dalam jumlah banyak. Menggembala bebek ratusan ekor mampu dilakukan oleh seorang, dan itupun cukup dengan senjata sederhana, yaitu berupa tongkat kecil.

Bebek sangat mudah dihalau ke mana saja tergantung kepada kemauan penggembalanya. Penggembala bebek sesukanya sendiri bisa mengarahkan bebeknya dari satu tempat ke tempat lain. Bebek juga tidak memerlukan makanan yang mahal. Satu kantong berisi jagung sudah mencukupi untuk sekian puluh bebek. Penggembala bebek juga tidak perlu berlatih hingga disebut sebagai orang yang menyandang sebutan profesional.

Di tengah tahun politik seperti sekarang ini, dan apalagi menjelang pelaksanaan pemilihan umum, baik pilek atau pilpres, maka yang diperlukan adalah orang-orang yang bermental singa dan bukan bermental bebek. Umpama saja rakyat pemilih di alam demokrasi seperti sekarang ini sudah bermental singa, yaitu sudah tidak mau lagi dipengaruhi oleh siapapun dengan cara-cara murahan, misalnya dengan money politics, maka pemilu akan benar-benar menghasilkan pemimpin yang kuat dan berwibawa, yaitu bagaikan singa. Pemimpin bermental singa hanya akan dihasilkan dari pilihan orang yang cerdas dan kuat, yaitu bermental binatang buas itu.

Namun sayangnya, mendapatkan pemimpin seperti digambarkan itu tidak mudah. Orang-orang yang semula bermental singa pun digiring dan diubah menjadi bermental bebek. Pada setiap menjelang pemilihan umum, ternyata dengar-dengar, banyak kegiatan penggiringan suara. Dan, sebenarnya kita tidak boleh tergesa-gesa menyalahkan rakyat dengan sebutan, bahwa mereka masih berpendidikan rendah, sehingga belum mandiri dan semacamnya.

Menuduh rakyat pemilih sebagai belum dewasa, kiranya tidaklah tepat. Sebab di kalangan kaum elite, tidak terkecuali di kampus saja misalnya, ternyata menggiringan suara, persis bagaikan menghalau bebek itu, dengar-dengar juga selalu masih terjadi. Makanya, dalam setiap pemilihan calon pemimpin yang terjadi adalah gambaran yang serba tidak jelas, yaitu apakah singanya menjadi bebek, dan apalagi bebeknya, sudah barang tentu, akan menjadi semakin membebek. Namun, semoga tidak selalu begitulah. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up