Saya mengenal nama Mudzakir Manaf sudah lama. Namun, fotonya saja baru saya lihat di majalah tempo terbitan 28 April 2014. Ia menjadi terkenal karena jabatannya sebagai panglima besar Gerakan Aceh Merdeka atau GAM. Orang penting di Aceh itu, setelah perjanjian Helsinki ditanda tangani, keluar dari hutan, dan sekarang menjadi wakil gubernur.
Sebagai seorang panglima GAM, sebelumnya saya bayangkan bahwa, ia orangnya gagah dan tinggi besar. Ternyata gambaran saya itu tidak tepat. Mudzakir Manaf, ternyata penampilan orangnya biasa saja, tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu tinggi. Juga kelihatan, orangnya pendiam, sangat sedikit berbicara. Rupanya, ia lebih suka mendengarkan daripada agresif menyampaikan ide-idenya.
Menurut informasi temannya, Dr. Hafifuddin, ketua STAIN Malikul Saleh, yang dulu pernah belajar dalam satu kelas di madrasah, Mudzakir Manaf adalah seorang yang tawadu', lembut dengan siapapun, dan dikenal sangat sederhana. Dr. Hafifudin sendiri tidak membayangkan bahwa temannya itu kemudian tumbuh dan berkembang menjadi seorang Panglima GAM. Setelah belajar ke Malaysia, kemudian ia meneruskan belajar ke Libia dalam waktu cukup lama.
Saya bertemu Wakil Gubernur Aceh itu di Jakarta, setelah sebelumnya bersepakat tentang waktu dan tempat pertemuan itu. Pertemuan itu membicarakan tentang pengembangan pendidikan Islam di Aceh. Beberapa waktu sebelumnya, saya diundang untuk berbicara dalam sebuah acara seminar di Universitas Islam Tamiyang, Langsa, dan kemudian diteruskan kegiatan di STAIN Loghseumawe.
Diawali dari pertemuan di kedua kota itulah, selanjutnya ada inisiatif dari beberapa teman di Aceh, agar saya bertemu dengan Mudzakir Manaf. Mereka itu berharap, agar pikiran-pikiran saya terkait dengan pengembangan pendidikan Islam diketahui oleh Wakil Gubernur Aceh sehingga pandangan itu kiranya bisa diimplementasikan untuk pengembangan pendidikan Islam di wilayah itu.
Kira-kira setahun yang lalu, saya juga pernah dipertemukan dengan dr. Zaini Abdullah, Gubernur Aceh. Pada waktu itu, saya diundang oleh Rektor IAIN Ar Raniry, -----sekarang sudah berubah menjadi UIN Ar Raniry, untuk berceramah di kampus dan sekaligus bertemu dengan Gubernur. Sama pertemuan dengan Mudzakir Manaf, pertemuan dengan Gubernur Aceh juga membicarakan tentang pendidikan Islam. Hanya pertemuan dengan dr. Zaini Abdullah pada waktu itu lebih terfokus pada pengembangan IAIN Ar Raniry ke depan.
Dalam pertemuan dengan Mudzakir Manaf, pada hari Senin, tanggal 28 April 2014 yang lalu, saya menyampaikan tentang konsep pendidikan Islam. Menurut hemat saya, pendidikan Islam harus menghasilkan generasi ke depan yang memiliki kekuatan dari berbagai aspeknya, baik intelektualnya, spiritualnya, akhlaknya, maupun profesionalitasnya. Lulusan pendidikan Islam, -------menurut hemat saya, tidak saja tekun dan aktif di masjid, tetapi juga mampu memimpin kegiatan ekonomi, pendidikan, sosial, ilmu pengetahuan, teknologi, pertahanan dan lain-lain.
Pendidikan Islam harus berhasil mengantarkan lulusannya menjadi manusia ideal atau ulul albab, sehingga mampu mengemban tugas-tugas kepemimpinan, sebagaimana disebutkan di dalam al Qur'an, yaitu sebagai khalifah fil ard. Selain mampu memahami dan menghayati al Qur'an dan hadits, lulusan pendidikan Islam juga memahami ciptaan Allah yang terhampar luas, yang kini terumuskan dalam biang ilmu alam, ilmu sosial, humaniora. Dengan demikian, Islam tidak saja dimaknai sebatas sebagai agama tetapi juga ilmu pengetahuan, teknologi, dan peradaban.
Dari diskusi itu, Mudzakir Manaf juga menghendaki agar pendidikan, mulai tingkat dasar atau madrasah dikembangkan kualitasnya. Ia menyebut bahwa banyak madrasah di Aceh yang berstatus swasta dan keadaannya masih banyak yang belum layak. Ke depan, ia menginginkan agar lembaga pendidikan Islam berkembang hingga menghasilkan lulusan sebagaimana yang diinginkan oleh masyarakat. Dalam dialog informal itu, juga terlontar keinginannya, agar sekolah tinggi agama Islam di Aceh bisa berubah menjadi universitas sehingga berkewenangan mengembangkan keilmuan yang semakin luas untuk memenuhi harapan dan kebutuhan masyarakatnya. Wallahu a'lam.



