Berkumpul, Bersama-sama, Dan Bersatu
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 1 April 2014 . in Dosen . 4405 views

Sejenak tatkala sedang merenungkan kehidupan bangsa ini, saya teringat tiga kata, yaitu berkumpul, bersama-sama, dan bersatu. Para pemimpin bangsa ketika berpidato selalu menganjurkan agar kita semua selalu menjaga dan memelihara persatuan. Dikatakan bahwa persatuan adalah pintu dan bahkan kunci adanya kemajuan. Tidak akan mungkin bangsa ini menjadi besar, berwibawa, hingga menyamai bangsa-bangsa maju lainnya, manakala tidak mampu membangun persatuan.

Anjuran para pemimpin bangsa tersebut memang benar sekali. Tidak pernah ada bangsa yang bercerai berai, terlibat konflik, dan bahkan perang di antara sesama bangsanya sendiri berhasil mengalami kemajuan. Bangsa-bangsa di dunia yang sedang mengalami perang di dalam negerinya akan berantakan dan bahkan hancur. Mereka tidak akan berpikir maju dan sejahtera, sebaliknya yang dipikirkan hanyalah bagaimana selamat dari konflik atau perang sehingga bertahan hidup.

Bersatu memang menjadi hal yang amat penting. Para pemimpin bangsa agar berhasil mempersatukan rakyatnya harus kuat, adil, dan jujur. Bersatu tidak saja berkumpul dan juga bersama-sama. Bisa saja banyak orang berkumpul, tetapi belum tentu bersatu. Para pemain judi berkumpul di suatu tempat, tetapi sebenarnya mereka tidak bersatu. Bahkan sebagian berusaha mengalahkan dan mengambil kekayaan orang yang menjadi lawannya. Mereka itu berkumpul di suatu tempat untuk saling berebut kemenangan.

Demikian juga adalah istilah bersama-sama. Beberapa orang sedang bersama-sama naik bus, kereta, atau pesawat terbang. Mereka bersama-sama dalam perjalanan dan di dalam kendaraan yang sama. Akan tetapi di antara mereka tidak saling tahu atau kenal mengenal. Di antara mereka tidak perlu harus menyamaan persepsi, pikiran, cita-cita, dan semacamnya. Mereka memang memiliki kesamaan, tetapi kesamaan itu hanya terletak pada keinginan atau harapan yang terbatas, yaitu dpat nyampai di tujuan tepat waktu dan selamat.

Konsep bersatu, apalagi dalam kaitannya berbangsa, maka tidak saja sebatas diartikan berkumpul dan atau bersama-sama, tetapi lebih dari itu. Penyebutan Indonesia sebagai bangsa seharusnya tidak sekedar merupakan kumpulan atau kebersamnaan dari orang-orang yang menempati kepulauan nusantara ini, tetapi lebih mendalam dari sekedar itu. Sebagai bangsa, kita telah memiliki cita-cita, idiologi yang sama, sejarah, bendera yang sama, lagu kebangsaan, lambang berupa burung garuda, dan dipimpin oleh sebuah pemerintahan yang diakui secara bersama-sama.

Hal-hal sebagaimana disebutkan itu, maka menjadikan perasaan bersatu di antara warga bangsa ini tumbuh. Sebagai orang yang dipersatukan oleh nilai-nilai yang jelas, mulia, dan dijunjung tinggi bersama, maka seharusnya membuahkan suasana ingin saling mengenal, memahami, menghormati, membela, saling mencintai, saling tolong menolong, dan bahkan saling membanggakan. Bangsa-bangsa besar di dunia ini selalu menunjukkan kemampuannya untuk membangun rasa atau kesadaran berbangsa itu hingga benar-benar disebut bersatu yang sesungguhnya. Bangsa seperti itulah yang disebut kuat atau bahkan kokoh.

Rasa-rasanya bangsa Indonesia belum meraih suasana yang seharusnya dibangun itu. Bangsa ini kadangkala antar kelompok, partai politik, daerah yang berbeda, antar golongan, agama, dan lain-lain, masih berebut menang dan mendominasi. Memang, boleh-boleh saja, antar kelompok yang berbeda saling berkompetisi, tetapi seharusnya adalah kompetisi yang menghasilkan kebaikan atau kemajuan, dan bukan sekedar berebut kemenangan untuk menjatuhkan pihak lainnya. Fenomena seperti itu, akan mengganggu kesadaran berbangsa yang seharusnya dikedepankan.

Manakala persatuan bangsa ini berhasil diwujudkan, maka tidak akan ada lagi sekelompok orang bersama-sama keluar negeri hanya sebatas mencari pekerjaan dengan upah murah, atau juga usahanya tergusur oleh pemilik modal besar hingga akibatnya sekedar menyambung hidup saja kesulitan. Sebutan bersatu, setidaknya harus membuahkan suasana saling bantu membantu, membela, dan saling meringankan beban atas dasar kesadaran berbangsa itu. Manakala selama ini, masih terjadi kesenjangan yang amat lebar, belum ada kepekaan terhadap penderitaan yang lain, dan atau serupa itu, maka sebenarnya penghuni kepulauan nusantara ini masih sekedar berkumpul atau hidup bersama-sama, dan belum sampai pada tingkat bersatu yang sebenar-benarnya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up