Di Malang ini, dan kiranya di kota-kota lainnya terdapat jama'ah shalawat yang diikuti oleh ribuan jama'ah. Jama'ah shalawat Riyadhul Jannah adalah salah satu di antara beberapa jama'ah lain yang ada di Malang. Baru beberapa tahun dirintis, sekarang ini jumlah jama'ahnya sudah luar biasa banyaknya. Oleh karena banyaknya jumlah jama'ah itu, maka kadangkala, hingga menjadikan jalan semakin macet.
Kemarin siang, setelah sholat jum'at, saya diundang oleh pengurus jama'ah shalawat Riyadhul Jannah untuk diajak rapat bersama, membahas kegiatan jama'ah ke depan. Selama ini, saya bukan termasuk pengurus, tetapi sekali-kali diundang untuk mengikuti acara shalawat dan diminta memberikan sambutan singkat.
Dalam kesempatan itu, saya mendapatkan penjelasan dari Pimpinan Jama'ah, Kyai Abdurrakhiem as Syadzili, bahwa keberadaan jama'ah ini yang sebenarnya dan utama adalah untuk kepentingan dakwah. Beliau menyebut bahwa lewat dzikir dan shalawat bersama-sama, maka masyarakat terutama dari kalangan menengah ke bawah, diajak untuk mengenal dan beribadah sesuai dengan tuntunan Islam.
Menurut penuturannya sendiri, Kyai Abdurrakhiem mendapatkan nasehat dari orang tuanya, bahwa dalam berdakwah tidak selalu bisa dilakukan dengan cara mudah. Pada umumnya, ---------kata ayah Kyai Abdurrakhiem, orang mengetahui bahwa agama Islam itu baik dan mulia. Mereka juga percaya bahwa siapa saja yang menjalankan ajaran Islam akan memperoleh keselamatan, baik di dunia maupun di akherat kelak.
Akan tetapi, kepercayaannya itu belum mampu menggerakkan hati mereka untuk menerima Islam yang sebenarnya. Menghadapi persoalan itu, masih menurut pengakuan Kyai Abdurrakhiem, mereka tidak perlu dipaksa. Manakala pemaksaaan itu dilakukan tokh akan ditolak dan mereka justru akan meninggalkan ajakan untuk menuju agama Allah itu. Pemaksaan tidak akan bisa dalam agama. Petunjuk yang diberikan oleh orang tuanya itu diikutinya dan sekarang telah diikuti oleh puluhan ribu jama'ah. Lewat kegiatan dzikir dan shalawat para jama'ah diajak mendekatkan diri pada Tuhan.
Pimpinan Shalawat Riyadhul Jannah juga menjelaskan bahwa, dari puluhan ribu jama'ah yang mengikuti kegiatan secara tekun, khusus' dan istiqomah tersebut pada umumnya berasal dari kalangan kelas menengah ke bawah. Bahkan dari sekian banyak itu, diketahui tidak sedikit dari mereka yang pada awal mulanya belum terbiasa menjalankan shalat lima waktu. Namun begitu, setelah aktif dalam kegiatan dzikir dan shalawat, mereka mau menjalankan kegiatan keagamaan. Sehari-hari, mereka itu ada yang bekerja sebagai petani kecil, pedagang kaki lima, buruh, tukang becak, kuli bangunan,penjual barang bekas dan lain-lain.
Sekalipun di antara jama'ah dzikir dan shalawat memang ada yang tingkat ekonominya lumayan, sehingga datang ke tempat kegiatan itu menggunakan mobil pribadi, akan tetapi sebagian besar menumpang angkutan umum, naik sepeda motor, dan bahkan banyak yang mengendarai truk atau pick up secara bersama-sama. Semua itu menunjukkan bahwa, memang mereka itu kebanyakan berasal dari kalangan kelas menengah ke bawah. Melihat kenyataan itu Kyai Abdurrakhiem merasa terpanggil untuk mengajak atau berdakwah lewat kegiatan dimaksudkan itu.
Sekalipun kegiatan itu sebenarnya belum terlalu lama, tetapi jumlah jama'ahnya sudah sedemikian banyak, dan ternyata semakin lama semakin bertambah. Hal itu menunjukkan bahwa berdakwah melalui kegiatan dzikir dan shalawat ternyata cukup efektif. Setidaknya kegiatan itu berlangsung seminggu sekali, dan mengambil tempat berpindah-pindah. Namun kegiatan ritual itu selalu didatangi oleh ribuan jama'ah. Bahkan, pada bulan Maulud, kegiatan itu dilaksanakan pada setiap malam, selama 40 hari tanpa jeda, dan ternyata jumlah jama'ahnya tidak pernah berkurang.
Puluhan ribu orang jama'ah datang di satu tempat kegiatan dengan membawa alas duduk sendiri-sendiri dan bahkan juga kue dan minuman yang diperlukannya. Di tempat dzikir dan shalawat bersama itu, mereka tidak ada yang berebut tempat, merasa berkedudukan lebih tinggi, dan atau lebih utama, kecuali pimpinan atau pemandunya, mereka disediakan tempat khusus yang posisinya lebih tinggi. Namun selalu dijelaskan oleh Kyai Abdurrakhiem, sebagai pimpinan jama'ah itu, bahwa mereka yang duduk di bagian bawah belum tentu derajadnya di hadapan Allah lebih rendah. Penjelasan itu terasa menyejukkan hati bagi semua yang mendengarkannya.
Hal yang mengharukan lagi, sesekali pimpinan shalawat Riyadhul Jannah mendapatkan pengakuan dari jama'ah, bahwa dengan tekun mengikuti dzikir dan shalawat maka hati mereka menjadi tenang, sejuk, damai. Selain itu, tidak sedikit dari mereka mengaku bahwa suatu saat bermimpi ketemu dengan Rasulullah. Mendengar kabar gembira seperti itu, Kyai Abdurrakhiem memperteguh keyakinan mereka bahwa, Allah tidak membeda-bedakan hamba-Nya. Siapapun yang berkemauan untuk mendekat, maka Allah akan mengabulkan keinginan itu. Rupanya, kegiatan dzikir dan shalawat menjadi media dakwah yang cukup efektif dan akhir-akhir ini ternyata kegiatan itu semakin berkembang. Wallahu a'lam



