Dialog Bersama STABN Wonoigiri
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 4 April 2014 . in Dosen . 719 views

Dua minggu yang lalu, tepatnya tanggal 20 Maret 2014, saya diundang oleh Ketua STAKN (Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri) Toraja untuk memberi kuliah umum di kampusnya. Pada kegiatan kuliah umum itu diikuti oleh pimpinan, dosen, dan para mahasiswanya. Sedangkan dua minggu setelahnya, yaitu pada hari Kamis, tanggal 3 April 2014, saya diundang oleh Ketua Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya, Wonogiri, Jawa Tengah.

Beberapa tahun terakhir, saya seringkali diundang oleh perguruan tinggi yang berlatar belakang agama yang berbeda-beda. Sudah beberapa kali, saya diundang oleh IHDN (Institut Agama Hindu Negeri ) Bali, SATKN Palangkaraya, STAKN Ambon, STAKN Manado, dan lain-lain. Pada umumnya mereka mengundang saya untuk memberikan ceramah atau kuliah umum di hadapan para pimpinan, dosen, karyawan,dan mahasiswanya.

Selain mengundang saya ke kampusnya masing-masing itu, para pimpinan perguruan tinggi yang berbeda-beda agama dimaksud juga pernah datang ke UIN Maliki Malang untuk studi banding. Mereka datang ke UIN Malang untuk melihat perkembangan atau kemajuannya yang diangap cukup pesat. Mereka itu secara terbuka ingin menggali pengalaman untuk memajukan institusi yang dimilikinya. Hubungan yang baik seperti itu menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang agama sudah tidak lagi menjadi halangan untuk saling bertemu, belajar, dan juga saling bekerjasama.

Kerjasama antar perguruan tinggi yang berbeda agama selama ini memang sudah terbangun dengan baik. Sebagai misal bahwa kegiatan sertifikasi dosen di kalangan perguruan tinggi Agama Hindu dan Agama Buddha selama ini diserahkan kepada UIN Maliki Malang. Tingkat kepercayaan di antara institusi yang berlatar belakang agama yang berbeda sudah cukup tinggi. Padahal umumnya, perbedaan dan apalagi menyangkut agama, dianggap menjadi hambatan dalam komunikasi. Tetapi pada kenyataannya sudah tidak demikian. Sekalipun mereka ada peluang bekerjasama PTN terdekat, namun ternyata, perguruan Tinggi Agama Hindu dan Budha justru mempercayakan kepada UIN Maliki Malang.

Pimpinan STABN Wonogiri, Jawa Tengah, mengundang saya dengan maksud untuk mengajak berdialog atau berdiskusi bagaimana mengembangkan peguruan tinggi berbasis agama, terutama terkait dengan kepemimpinan, manajemen, dan juga kurikulum. Dari diskusi itu, saya mendapatkan informasi bahwa, ternyata tidak mudah mengembangkan perguruan tinggi berbasis agama. Persoalannya, di samping anggaran terbatas, peminat masuk ke perguruan tinggi agama tidak banyak. Bahkan peminat masuk ke perguruan tinggi yang masih dalam pertumbuhan, selain jumlahnya terbatas, biasanya mereka itu berasal dari kalangan masyarakat bawah, baik dari ekonomi, sosial, dan lain-lain.

Saya juga menyampaikan bahwa, mengurus perguruan tinggi yang masih dalam ukuran kecil atau masih dalam fase pertumbuhan tidak kalah sulit dibanding mengurus perguruan tinggi yang sudah besar. Perguruan tinggi yang berada pada fase awal memiliki persoalan khas, yaitu seolah-olah berada pada lingkaran setan. Peminat kecil biasanya menyebabkan keuangan dan lain-lain serba terbatas. Keterbatasan itu membuahkan semangat kerja sulit ditumbuh-kembangkan. Selanjutnya, keadaan seperti itu melahirkan kualitas lulusan tidak sebagaimana diharapkan, dan akhirnya menjadikan kepercayaan masyarakat terhadap perguruan tinggi dimaksud rendah. Akibatnya, jumlah mahasiswa terbatas.

Persoalan yang berputar-putar dari satu titik ke titik berikutnya dan akhirnya kembali ke titik awal yang dimaksudkan itu, --------bagaikan lingkaran setan, harus dipotong. Terserah memotongnya di mana, tergantung kebijakan pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan. Gambaran yang saya kemukakan itu, ternyata dianggap benar. Dalam diskusi itu muncul informasi, bahwa peminat masuk ke STABN sementara ini masih terbatas, sehingga jumlah mahasiswanya juga masih sedikit. Keterbatasan lainnya juga menyangkut jumlah tenaga pengajar dan sarana serta prasarana pendidikannya.

Lewat diskusi itu, saya sampaikan bahwa semua pihak, baik pimpinan, dosen, dan karyawan harus membangun kebersamaan secara kokoh untuk memotong lingkaran setan yang membelit itu. Manakala, strategi itu berhasil dilakukan, maka STABN ke depan akan semakin maju, bersama-sama dengan perguruan tinggi negeri berbasis agama lainnya. Ketika itu, saya juga menyampaikan bahwa, untuk membangun Indonesia ke depan, keberadaan perguruan tinggi berbasis agama akan semakin penting dan strategis. Akan tetapi, untuk memajukan perguruan tinggi dimaksud, pimpinannya harus berani melakukan perubahan mendasar, baik terkait dengan manajemen, kepemimpinan, mindset, dan bahkan juga tatkala merumuskan bangunan keilmuannya. Semua itu memerlukan keberanian, kebersamaan, dan peran aktif dari semua pihak. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up