Salah seorang kenalan yang kebetulan baru saja mendapat amanah untuk memimpin lembaga pendidikan datang menemui saya. Kedatangannya itu rupanya untuk mendapatkan pengalaman tentang bagaimana menumbuh-kembangkan lembaga pendidikan yang selama belasan tahun saya pimpin. Mungkin selama ini, ia menilai bahwa saya telah berhasil memimpin kampus dan tampak berkembang. Rupanya, dia ingin menggali pengalaman saya itu.
Mendengar apa yang disampaikan itu, saya menangkap bahwa, dia memiliki semangat besar untuk memajukan lembaga pendidikan yang akan dipimpinnya. Atas amanah yang diterimanya itu, dia berharap bisa membuat perubahan. Pimpinan baru yang datang itu mengaku bahwa, sekalipun tidak bisa menyamai, dia ingin menjadikan lembaga pendidikannya tumbuih dan berkembang seperti yang dialami oleh UIN Maliki Malang.
Atas permintaan itu, tentu saja dengan senang hati, saya menceritakan pengalaman selama memimpin kampus, baik yang telah berhasil maupun yang belum bisa saya wujudkan. Saya mengatakan bahwa, memimpin itu sebenarnya adalah kegiatan di seputar menggerakkan orang, menunjukkan arah, memfasilitasi, menghilangkan rintangan atau hambatan yang mungkin timbul, menguatkan, dan sejenisnya itu.
Saya juga mengatakan secara terus terang bahwa, memang tugas sebagai pimpinan perguruan tinggi tidak sekedar menyelesaikan program tri dharma perguruan tinggi, yaitu meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Tugas pimpinan perguruan tinggi ternyata juga termasuk harus menambah kekurangan gedung kuliah dan perkantoran, laboratorium, membeli tanah, membangun jaringan kerjasama, bernegosiasi dengan berbagai pihak untuk kepentingan pengembangan kampus.
Bahkan, pimpinan perguruan tinggi, ------sekalipun berstatus negeri, juga harus melakukan negosiasi dengan berbagai pihak untuk memperoleh pendanaan yang cukup. Selain itu, juga harus membuat perencanaan agar suatu saat memiliki SDM yang cukup dan berkualitas, baik tenaga akademik maupun tenaga untuk menopang kegiatan administrasi. Semua itu harus direncanakan dan dimanage secara tepat.
Tentu saja, mengimplementasikan rencana yang telah disusun itu, ternyata tidak selalu mudah. Persoalan yang muncul bukan saja terletak pada sulitnya mendapatkan anggaran yang cukup, memenuhi kebutuhan SDM, dan semacamnya, tetapi juga terkait dengan menggerakkan orang yang dipimpin ternyata bukan perkara sederhana. Banyak orang yang seharusnya mau menunaikan tugas atau kewajiban sebaik-baiknya, tetapi ternyata justru sebaliknya. Ada saja staf dosen atau pegawai administrasi yang bekerja semaunya, seolah-olah mereka belum menyadari, bahwa bekerja harus profesional dan maksimal.
Pekerjaan menggerakkan orang ternyata bukan perkara mudah, sekalipun juga orang yang bekerja di perguruan tinggi. Pekerjaan sebagai dosen di perguruan tinggi tidak mudah diukur hasilnya. Mungkin saja, seorang dosen aktif datang dan mengajar di kampus, tetapi kedatangannya itu ternyata oleh mahasiswa dinilai belum memberi apa-apa. Mereka mengajar, tetapi apa yang diajarkan belum sesuai harapan mahasiswanya. Saya pernah membaca surat dari mahasiswa lewat kotak saran di kampus. Dalam surat itu, penulisnya menyebutkan bahwa, dosennya hadir, disiplin tepat waktu, tetapi sayang, ilmunya masih tertinggal, entah di mana.
Hal tersebut adalah merupakan contoh kecil yang menunjukkan bahwa tugas membuat perubahan, sekalipun di perguruan tinggi, bukanlah pekerjaan mudah. Mendengar cerita tentang pengalaman yang saya sampaikan panjang lebar tersebut, teman saya yang baru saja mendapatkan amanah memimpin lembaga pendidikan dimaksud kemudian bertanya, dari mana kira-kira memulai pekerjaan berat tetapi harus dilakukan itu. Dia menanyakan perubahan itu, apakah sebaiknya dimulai dari peningkatan kesejahteraan, kedisiplinan, atau apa lagi.
Pertanyaan dimaksud, saya jawab dengan sederhana, yaitu lewat pemimpinnya sendiri. Jika mau melakukan perubahan yang melibatkan banyak orang, maka cara termudah adalah memulai dari diri pimpinannya sendiri. Saya mengatakan, jangan sekali-kali mengubah orang lain, sementara dirinya sendiri belum berubah. Pimpinanannya sendiri sejak dilantik harus segera melakukan perubahan, mulai dari menata niat, tekad, pikiran, perasaan, dan cara memandang lembaga, termasuk terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Manakala hal-hal itu dilakukan, maka perubahan itu akan terjadi dengan sendirinya. Ajaran Islam juga mengatakan : 'ibda' binafsika'. Mendengar penjelasan saya, teman saya itu rupanya setuju, dan kemudian pamit pulang. Wallahu a'lam.



