Dalam sebuah pengajian, seorang mubaligh bercerita, baru saja pulang dari Hongkong, diundang oleh para TKI untuk memberikan ceramah agama di sana. Kedatangannya di Hongkong itu, dia mendapatkan pengalaman menarik tentang kehidupan agama. Di sela-sela kesibukan sehari-hari, bekerja mencari nafkah di negeri orang, ternyata para TKI selalu merasa haus siraman rokhani. Itulah sebabnya, mereka mendatangkan mubaligh untuk memberi ceramah.
Sepulang dari Hongkong, mubaligh dimaksudkan bercerita tentang kehidupan di negeri yang mayoritas penduduknya bukan muslim. Para TKI, sekalipun beragama Islam, pada setiap hari, harus masak yang bahannya dari daging babi. Itulah problem yang tidak mungkin bisa dihindari. Para TKI, menurut mubaligh itu, tidak mau ikut mengkonsumsi makanan yang dimasaknya sendiri, karena dianggap haram. Maka, betapa sulitnya sekedar mencari makanan halal di tempat kerja itu.
Problem lain bagi TKI muslim adalah tatkala akan menjalankan shalat lima waktu. Di semua tempat kerja dipasang CCTV, sehingga gerak-gerinya selalu diketahui oleh majikannya. Manakala para pekerja itu melaksanakan sholat, maka dianggap membuang-buang waktu sehingga akan mendapatkan teguran, dan bahkan juga sanksi pemecatan. Satu-satunya pilihan tempat shalat yang aman adalah di kamar mandi. Masih menurut cerita mubaligh itu, betapa beratnya menjalankan agama di masyarakat yang bukan muslim itu.
Dari kisah itu, saya hanya membayangkan bahwa, umpama kaum muslimin itu kuat dari berbagai halnya, misalnya dari pendidikan, ekonomi, sosial, dan lain-lain, maka kehidupan yang sedemikian berat itu tidak akan dialami. Andaikan umat Islam itu kaya, maka tidak akan mau menjadi TKI di tengah-tengah masyarakat yang sehari-hari mengkonsumsi daging babi dan juga sulit tatkala akan menjalankan shalat lima waktu. Sekedar mencari rizki saja, oleh karena dalam keadaan terpaksa, maka harus menjalani hidup serba darurat.
Kisah pahit itu, seharusnya menumbuhkan inspirasi, bahwa umat Islam harus pintar, kaya, dan unggul. Umat Islam tidak boleh memiliki pandangan bahwa rugi di dunia tidak mengapa asalkan tidak rugi di akherat. Seharusnya umat Islam didorong agar selalu berusaha untuk meraih kekayaan di dunia dan sekaligus juga kekayaan di akherat. Umat Islam harus menjadi yang terbaik, unggul, dan lebih kuat.
Sekalipun pada saat ini, umat Islam belum meraih posisi unggul dan menjadi yang terbaik, maka dari pengalaman pahit menjadi TKI itu harus menumbuhkan tekad untuk membalik keadaan, yaitu berusaha menjadikan generasi mendatang, --------para anak cucu, berubah tidak sebagaimana dialami oleh mereka yang hidup sekarang ini. Pengalaman bekerja sebagai TKI yang dirasakan tidak mengenakkan itu, seharusnya mendorong untuk mengubah jalan hidup, dan lebih-lebih terhadap generasi mendatang.
Tegasnya, pengalaman pahit menjadi TKI harus menginspirasi agar anak cucunya berubah, yaitu menjadi boss atau juragan. Harus tumbuh cita-cita bahwa pada saatnya nanti, orang dari berbagai negara lain berbalik datang ke sini untuk bekerja, dan kalau perlu sambil belajar tentang Islam. Memang itulah seharusnya, kehidupan kaum muslimin menjadi lebih unggul, sehingga mampu memberi dan bukan sekedar menerima. Disebutkan dalam hadits nabi bahwa, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Tangan umat Islam harus berposisi di atas dan menjadi lebih baik.
Demikian itulah kiranya, Islam menjadi rakhmat bagi seluruh alam, atau disebut sebagai rakhmatan lil alamien. Seharusnya, para muballigh tatkala memberi siraman rokhani kepada para TKI, yang ternyata mereka sangat membutuhkan itu, juga berhasil menumbuhkan kesadaran, bahwa Islam mengajak umatnya untuk menjadi unggul dan terbaik. Bahwa menjadi Islam seharusnya adalah sama artinya dengan berhasil meraih kehidupan yang ideal dari berbagai aspeknya. Wallahu a'lam.



