Menjadi pemimpin tangguh adalah harapan semua orang, baik dari pemimpin itu sendiri maupun dari orang-orang yang sedang dipimpinnya. Sseorang disebut sebagai pemimpin tangguh manakala yang bersangkutan tidak saja sanggup menjalankan tugas-tugas kepemimpinannya, tetapi juga mampu menghadapi berbagai tantangan dan bahkan hempasan-hempasan baik yang datang dari dalam maupun dari luar.
Tugas seorang pemimpin adalah menghidupkan, mnenggerakkan, dan mengarahkan semua orang yang dipimpinnya untuk memahami dan melakukan sesuatu untuk meraih cita-cita bersama semaksimal mungkin. Oleh karena itu pemimpin selalu bekerja bersama orang lain. Tidak ada pemimpin sukses yang selalu bekerja sendirian. Kekuatan pemimpin bukan saja berada pada dirinya sendiri, melainkan adalah justru pada orang lain yang sedang dipimpinnya.
Pemahaman kepemimpinan seperti itu menjadikan salah satu tugas seorang pemimpin adalah mengembangkan kuantitas maupun kualitas, menjaga dan mengayomi semua orang yang sedang dipimpinnya. Tugas itu akan berhasil ditunaikan manakala pemimpin yang bersangkutan memiliki kemampuan, kekuatan dan kelebihan dari berbagai aspek. Termasuk di antara kekuatan itu adalah kemampuan memahami perilaku, watak, dan karakter mereka yang dipimpinnya.
Orang tidak selalu berhasil digerakkan lewat cara tunggal atau seragam, oleh karena sifat semua orang selalu unik. Itulah sebabnya pemimpin selalin berpengetahuan luas juga harus arif. Ketangguhan seorang pemimpin biasanya diketahui lewat ujian dalam menghadapi tantangan atau persoalan nyata sehari-hari. Seseorang tidak akan disebut tangguh manakala belum teruji dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi secara nyata.
Boleh-boleh saja seseorang mengaku hebat dan tangguh, tetapi pengakuan itu tidak akan diperoleh sebelum yang bersangkutan menghadapi ujian dalam menyelesaikan masalah dan berhasil. Sebelum teruji, seseorang belum dipercaya. Sama halnya dengan kampanye para calon legislatif beberapa waktu yang lalu. Mereka menyampaikan janji-janji dan kelebihan yang akan diberikan, tatkala nanti benar-benar terpilih. Ketangguhan dan kehebatan itu akan dipercaya tatkala nanti pemimpin yang bersangkutan selesai menjabat. Sebaliknya, bukan sewaktu masih memulai menjabat.
Persoalan yang dihadapi oleh seorang pemimpin pasti tidak sama dengan soal-soal ujian di ruang kelas. Soal-soal dalam ujian sekolah selain datangnya sudah terjadwal, lingkup dan materinya terbatas. Sesulit apapun soal ujian di sekolah masih belum seberapa dibanding dengan soal yang dihadapi di tengah-tengah kehidupan nyata. Soal di tengah masyarakat yang dihadapi oleh seorang pemimpin lebih rumit, kadang komplek, datangnya bisa secara tida-tiba, dan juga tidak selalu tergambar atau terprediksi sebelumnya.
Menghadapi soal dalam kehidupan itu, seorang pemimpin tidak akan mengalami kesulitan manakala berhasil memahami persoalan yang sebenarnya, potensi yang ada pada dirinya, dan strategi menyelesaikannya. Kaitannya dengan kepemimpinan yang lebih penting adalah justru kemampuan mengenali potensi yang ada pada diri pemimpin itu. Seringkali dijumpai seorang pemimpin yang bukan saja tidak mengetahui persoalan yang sebenarnya, melainkan juga yang bersangkutan tidak mengetahui tentang dirinya sendiri.
Bagi seorang pemimpin mengetahui tentang potensi yang ada pada dirinya sedemikian penting. Potensi atau kekuatan itulah sebenarnya yang akan melahirkan kepercayaan, dukungan, dan bahkan loyalitas dari mereka yang dipimpinnya. Manakala semua potensi itu berhasil dikenali dan dihimpun, maka tugas pemimpin menjadi mudah dan ringan. Seorang pemimpin tidak perlu menyelesaikan persoalan sendirian, tetapi cukup memobilisasi semua potensi dan kekuatan yang ada padanya.
Pandangan kepemimpinan sebagaimana dimaksudkan itu akan membawa tugas-tugas pemimpin untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana agar semua potensi yang ada menjadi kuat, tangguh, dan tahan uji dari berbagai aspeknya. Manakala pemimpin berhasil menjadikan semua yang dipimpin sebagaimana yang digambarkan itu, dan apalagi mampu menunjukkan arah yang dituju, mengerti jalan yang harus dilewati, menyingkirkan hambatan, dan termasuk tantangan dan hempasan yang mungkin atau akan terjadi, maka pemimpin itu akan benar-benar tanggung. Sebaliknya, pemimpin akan menjadi sangat lemah, manakala berbagai potensi itu tidak dikembangkan dan bahkan diabaikan. Pemimpin seperti itu tidak saja gagal, melainkan justru akan semakin kaya masalah.
Pemimpin yang tangguh adalah pemimpin yang benar-benar mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapi atas modal atau potensi yang dimilikinya. Tentu modal dan kekuatan itu harus selalu diperkokoh dan dikembangkan, baik dari aspek kuatitas maupun kualitasnya. Yang sama sekali tidak dibolehkan dari seorang pemimpin, dan apalagi pemimpin di zaman demokrasi seperti sekarang ini adalah, merasa kuat dan hebat sendiri dengan mengabaikan orang lain. Ronggo warsito pernah memberikan nasehat yang sangat tepat dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu ' menang tanpo ngasorake, sugih tanpo bondo, ngluruk tanpo bolo, sekti tanpo aji-aji, kayungyung dening pepoyaning kautaman' Nasehat ini sederhana, tetapi manakala diimplementasikan bisa menambah ketangguhan bagi siapapun yang sedang memimpin. Wallahu a'lam.



