Menakar Tingkat Kedewasaan Dari Cara Bertanding
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 10 April 2014 . in Dosen . 1329 views

Kedewasaan dianggap sesuatu yang penting dalam pergaulan hidup sehari-hari. Oleh karena itu, seseorang, organisasi, atau juga partai politik, dituntut agar berperilaku dewasa. Kedewasaan itu bisa dilihat dari cara berbicara, berperilaku, dan bahkan juga dalam bertanding. Pemilu legislatif yang baru saja dilaksanakan kemarin, Rabu, tanggal 09 April 2014, bisa berjalan lancar oleh karena rakyat pada umumnya sudah semakin dewasa.

Memang menurut laporan dari media massa, ada beberapa penyimpangan dalam pelaksanaan coblosan kemarin itu. Misalnya, ditemukan ada oknum yang membagi-bagi uang agar mencoblos caleg tertentu. Selain itu, ditemukan surat suara ternyata sudah dicoblos padahal belum digunakan, dan jenis penyimpangan lain yang tidak signifikan. Akan tetapi semua penyimpangan itu berhasil diselesaikan oleh pihak keamanan dan juga yang berwenang lainnya, sehingga tidak mengakibatkan terjadi keributan.

Suasana pemilihan umum yang berjalan lancar seperti itu menggambarkan bahwa bangsa ini sudah semakin dewasa dalam berdemokrasi. Umpama saja di banyak tempat dalam pelaksanaan coblosan terjadi kegaduhan, maka itu pertanda bahwa masyarakat belum mampu menunjukkan kedewasaannya. Namun ternyata, mereka telah menyadari bahwa menang atau kalah di dalam pertandingan atau berkompetisi adalah hal biasa. Suatu ketika seseorang atau partai politik menang dan kemenangan itu akan berulang diwaktu mendatang manakala berhasil menjaga kekuatan atau kelebihannya itu.

Tingkat kedewasaan hingga melahirkan ketenangan dalam berkompetisi dapat dilihat dari sejauh mana mereka bersedia mentaati peraturan yang ada, berlaku jujur, bekerja profesional, dan sabar. Selain itu, masing-masing pihak berhasil memahami dirinya sendiri dan juga kekuatan para pesaingnya. Dengan sikap seperti itu, umpama mendapatkan kekalahan maka akan segera menerimanya. Demikian pula bagi yang menang, mereka juga tidak akan terlalu sombong atau berbesar kepala. Sebab, kemenangan yang diraihnya itu memang wajar diterima oleh karena modal kekuatan dan usaha-usaha yang dilakukannya sudah maksimal.

Namun demikian sebenarnya tidak mudah kedewasaan itu diperoleh. Tingkat kedewasaan biasanya diraih lewat proses yang panjang. Bangsa Indonesia ini sudah berkali-kali menyelenggarakan pemilu. Dari pengalaman sebanyak itulah kedewasaan diperoleh. Diumpama sebagai seorang petinju, maka bangsa ini sudah berkali-kali naik ring. Sebagai petinju yang berpengalaman, ia telah mampu memahami aturan bertinju, membangun taktik dan strategi bermain. Selain itu, juga telah mengerti bagaimana menghitung kekuatan dirinya sendiri dan juga kekuatan lawan. Sebagai orang yang berpengalaman juga telah mampu mengembangkan pertandingan yang tidak saja untuk meraih kemenangan tetapi juga berusaha bisa bermain canmtik atau indah.

Menyaksikan pertandingan yang bersifat profesional dan apalagi masuk kategori kelas dunia, -----pertandingan tinju, sepak bola, bola basket, dan lain-lain, maka tidak pernah terjadi keributan. Sebab semua yang terlibat dalam pertandingan itu, baik pemain, wasit dan bahkan penontonnya, sudah meraih kedewasaan. Tingkat kedewasaan itu juga bisa dilihat, baik dari tatkala yang bersangkutan menerima kekalahan maupun sebaliknya kemenangan. Bahkan, setelah bertanding selesai, para pemain profesional dan apalagi tingkat dunia akan saling mendekat dan berpelukan untuk mengajak dan memulai bersatu kembali.

Gambaran ideal tersebut akan berbeda manakala dalam pertandingan itu ada pihak-pihak yang belum dewasa. Bagi yang menang, bisa saja semakin menyombongkan diri, agar pihak yang kalah lebih merasa sakit hati dan mengakui kelemahannya. Begitu pula sebaliknya, bagi yang kalah akan ribut mencari siapa yang patut dijadikan kambing hitam. Begitulah permainan atau pertandingan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang belum meraih kedewasaan. Atau, pertandingan yang tergolong masih belum masuk kategori berkelas.

Pemilu legislatif yang baru saja dilaksanakan kemarin, menunjukkan bahwa bangsa ini sudah dewasa. Bagi yang meraih jumlah suara unggul, mereka tidak menampakkan suasana yang berlebihan, dan begitu pula sebaliknya, bagi mereka yang kalah juga mampu menunjukkan hati legowo dan bahkan segera mengucapkan selamat kepada pemenangnya. Mungkin ada saja satu atau dua pihak yang kalah dan kemudian mencari kambing hitam atau sumber kekalahan itu. Namun, mereka yang berperilaku seperti itu sebenarnya hanya bertanda bahwa yang bersangkutan belum dewasa. Seharusnya apapun, sebagai tanda kedewasaan, hasil itu diterima, dan selanjutnya segera bangkit untuk menyongsong pertandingan lima tahun mendatang. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up