Oleh karena seringkali diundang oleh perguruan tinggi agama selain Islam, yaitu Hindu, Buddha, Kristen, dan Katholik, maka tidak jarang saya mendapatkan pertanyaan tentang mengapa harus datang ke perguruan tinggi non Islam. Bukankah, perguruan tingi Islam sendiri masih banyak yang perlu mendapatkan perhatian. Pertanyaan itu lebih banyak lagi, ketika masih memimpin UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, saya memberi gelar kehormatan kepada Dr. Sinyo Hari Sarundayang, Gubernur Sulawesi Utara yang banyak orang tahu, bahwa dia adalah beragama Kristen.
Biasanya saya diundang ke kampus-kampus perguruan tinggi non Islam bukan atas permintaan saya sendiri. Setiap kali datang ke lembaga pendidikan tinggi itu, saya juga tidak diminta untuk berbicara tentang al Qur'an dan hadits nabi. Biasanya saya diminta untuk berceramah tentang manajemen dan kepemimpinan perguruan tinggi. Selain itu, seringkali saya juga diundang untuk berbicara tentang membangun hubungan atau komunikasi antar umat beragama agar kehidupan masyarakat majemuk menjadi selalu terpelihara.
Menurut perasaan saya, dengan undangan itu, saya sudah mendapatkan keuntungan yang luar biasa besarnya. Saya merasa tidak lagi dicurigai sebagai orang lain yang diangap akan mengganggu dan atau merugikan. Lebih dari itu, kedatangan saya oleh mereka juga diharapkan akan menguntungkan. Olerh karena itu, saya biasanya disambut dengan baik. Dalam ceramah, saya juga tidak dibatasi misalnya, hanya tentang hal-hal tertentu. Mereka membolehkan saya berbicara apa saja yang saya anggap penting untuk disampaikan.
Atas undangan dari berbagai perguruan tinggi non muslim dimaksud, saya merasa bahwa sebagai orang Islam dan sekaligus sebagai bagian dari perguruan tinggi Islam, saya telah mendapatkan pengakuan, dan bahkan penghormatan dari orang yang sebenarnya belum memahami Islam. Atas undangan dan kesediaan mendengarkan penjelasan yang saya berikan, mereka menjadi tahu bahwa Islam sebenarnya adalah agama yang memiliki landasan, sejarah, nilai-nilai, pesan-pesan, atau ajaran yang indah untuk membangun dan menjalani kehidupan ini.
Saya selama ini selalu yakin, bahwa mereka tidak beragama Islam bukan saja oleh karena belum mau memeluknya, melainkan juga oleh karena mereka tidak tahu tentang Islam. Mereka itu tidak pernah belajar tentang al Qur'an dan hadits nabi, tidak pernah membaca sejarah keindahan akhlak Muhammad saw., tidak pernah mendapatkan pendidikan Islam, dan bahkan mungkin juga tidak pernah mendapatkan ajakan untuk masuk atau memeluk Islam. Mereka itu tidak mengerti tentang Islam. Pengetahuan mereka tentang Islam amat terbatas, yaitu dari apa yang mereka dengarkan dan lihat dari kehidupan umat Islam sehari-hari yang belum tentu mencerminkan ajaran Islam yang sebenarnya.
Pada umumnya dalam kehidupan sehari-hari, tatkala orang berbeda agama, maka ada semacam batas atau bahkan penghalang untuk saling mendekat atau bertemu, sekalipun misalnya bertetangga. Kalaupun misalnya mendekat atau bertemu, di antara mereka saling menjaga untuk tidak berbicara persoalan agama yang kebetulan berbeda itu. Alasannya, mungkin sederhana, yaitu agar tidak saling menyinggung perasaan atau setidaknya agar tidak saling mengganggu. Keadaan yang di antaranya sepertri itulah, maka persoalan agama seringkali menjadi tertutup atau terbatasi untuk dibicarakan. Akibatnya, ajaran agama tidak nyampai pada orang-orang yang belum mengenal dan atau belum memeluknya.
Maka kedatangan saya ke kampus-kampus perguruan tinggi non Islam, seperti Hindu, Buddha, Kristen, dan Katholik, sekalipun dalam keadaan terbatas, saya berkesempatan mengenalkan tentang keindahan ajaran Islam. Lewat komunikasi itu, saya berkesempatan memberikan gambaran bahwa Islam itu datang dari Tuhan Yang Maha Esa, suatu ajaran yang amat indah, lembut, penuh kasih sayang, mengajarkan agar antar sesama saling mengenal, memahami, menghargai, dan bekerjasama dalam kebaikan. Dengan kehadiran saya ke kampus-kampus yang dimaksudkan itu, umpama saja sekedar berhasil melahirkan kesan bahwa Islam itu ternyata adalah baik, benar, dan indah, maka saya sudah merasa berhasil dan gembira. Begitu pula, tatkala memberikan gelar kehormatan kepada Gubernur Sulawesi Utara, saya ingin menunjukkan bahwa Islam itu adalah indah dan menghargai orang lain yang berprestasi.
Selama ini apa yang saya lakukan terasa semakin penting dan berguna, lebih-lebih ketika mereka kemudian mau bertanya tentang Islam, memberi komentar secara terbuka dan kemudian saya berkesempatan menjelaskan dan atau memberi informasi yang menurut hemat saya penting dan harus saya sampaikan. Atas kesan yang terbangun dengan baik itu, kemudian mereka juga datang ke UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk mengenal, dan bahkan juga ingin tahu tentang Islam. Selain itu, di antara dampaknya lagi, beberapa perguruan tinggi Hindu dan Buddha mempercayakan penilaian sertifikasi dosennya ke UIN Maliki Malang. Oleh karena itu, menurut hemat saya, bahwa untuk mengenalkan Islam kepada mereka yang belum kenal, maka cara tepat yang harus dilalui adalah lewat mendekat, dan bukan sebaliknya menjauh atau apalagi membangun sekat-sekat komunikiasi. Mendekat adalah kunci keberhasilan. Wallahu a'lam.



