Banyak hal yang menjadikan bangsa, pada akhir-akhir ini, semakin sulit merasakan sesuatu yang bisa dibanggakan, dan bahkan justru sebaliknya. Banyaknya berita-berita tentang para pejabat pemerintah, politisi, pengadilan, perbankan, pengusaha, dan bahkan juga dari kalangan lembaga pendidikan terkena kasus korupsi, yang kemudian diadili dan dipenjarakan, maka secara jujur mendatangkan perasaan sedih dan malu.
Demikian pula, kasus-kasus tenaga kerja di luar negeri yang terkena hukuman tidak lazim dilihat dari kebiasaan di dalam negeri juga menyebabkan kegelisahan dan keprihatinan yang mendalam. Peristiwa itu secara langsung membuka mata kita bersama, bahwa bangsa ini sekedar menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya belum mampu. Akibatnya, mereka dengan terpaksa berbondong-bondong pergi ke luar negeri sekedar mendapatkan pekerjaan dengan upah murah.
Kesedihan dan keprihatinan disempurnakan dengan munculnya banyak kasus kenakalan anak-anak muda, konflik antar kelompok, narkoba, seks bebas, pornografi, dan bahkan penyimpangan yang dilakukan oleh oknum di perguruan tinggi seperti plagiasi, mendapatkan gelar atau ijazah tanpa kuliah, dan seterusnya. Selain itu, di bidang ekonomi, para pedagang kecil semakin kehilangan mata pencaharian lantaran tergusur oleh pengusaha modern dengan membuka toko swalayan yang seolah-olah tanpa terkendali.
Tidak terkecuali, keprihatinan itu juga dirasakan oleh para petani. Mahalnya pupuk dan biaya lainnya, menjadikan banyak petani, setelah mengkalkulasi hasil panennya, ternyata usahanya itu merugi atau tidak memberikan keuntungan yang memadai. Demikian pula, rakyat kecil yang menggantungkan hidupnya di laut. Banyaknya pengusaha besar bermodal raksasa, menjadikan nelayan kecil dengan perahu seadanya sulit mendapatkan penghasilan sekedar untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari.
Di tengah-tengah suasana yang memprihatinkan tersebut, ternyata para pemimpinnya masih berebut kuasa dengan berbagai caranya masing-masing. Seolah-olah mereka belum sadar bahwa tantangan ke depan bangsa ini semakin besar dan berat. Krisis energi dan pangan akan segera datang dan dampaknya akan semakin menyengsarakan semua orang. Manakala suber-sumber energi semakin habis, dan demikian pula para petani meninggalkan usahanya oleh karena selalu merugi, maka tidak ada pilihan lain kecuali harus meningkatkan jumlah import terhadap semua bahan kebutuhan itu.
Memperhatikan persoalan bangsa yang semakin sedemikian berat itu, maka pertanyaannya adalah, adakah peluang untuk bangkit agar ke depan bangsa ini memiliki sesuatu yang dibanggakan. Maka jawabnya hanya ada satu, ialah bisa dan harus bisa. Dalam sejarah, bangsa ini dengan kekuatan yang ada, ternyata mampu mengusir penjajah yang memiliki kekuatan sedemikian dahsyat. Melalui tekad bersama, ternyata kemerdekaan berhasil diraih dan akhirnya Indonesia menjadi negara merdeka. Maka artinya, manakala potensi bangsa ini dikelola secara tepat, akan berhasil menjadi kuat sebagaimana bangsa-bangsa yang telah maju lainnya.
Problemnya adalah mampukan membangun kembali kesadaran berbangsa sebagaimana pernah berhasil dilakukan tatkala berjuang merebut kemerdekaan dahulu. Kuncinya adalah di tempat itu. Memang beban itu amat berat, sehingga Presiden RI Pertama, Ir. Soekarno, juga pernah mengingatkan bahwa tugas mengisi kemerdekaan akan lebih berat, oleh karena musuh perjuangan itu bukan orang asing, melainkan adalah bangsanya sendiri. Dikatakan oleh Ir. Soekarno, bahwa musuh itu adalah kaum liberalis dan kapitalis. Mereka itulah sebenarnya yang menjadikan sebagian besar rakyat jatuh menjadi budak, atau babu. Namun rupanya, peringatan dari proklamator kemerdekaan yang sedemikian jelas itu belum tertangkap sepenuhnya oleh para pemimpin bangsa ini.
Oleh karena itu, modal dasar yang seharusnya dimiliki oleh bangsa ini agar segera bangkit adalah kesadaran berbangsa itu. Di fase awal ayat al Qur'an yang diturunkan adalah seruan berbangkit. Seruan itu menggunakan kata 'mudatsir' yang artinya adalah berselimut. Relevan dengan ayat al Qur'an yang turun pada fase awal itu, kiranya bangsa ini perlu segera membuang selimutnya, ialah telah merasa merdeka sekalipun sebenarnya masih dijajah, yaitu dijajah oleh berbagai keadaan yang tidak disadari.
Mengingat hal tersebut, saya teringat kata seorang guru yang sangat arif, mengatakan bahwa : 'seorang miskin jika merasa dirinya kaya, maka ia adalah benar-benar seorang miskin dalam arti sebenarnya'. Memahami kalimat itu, maka bangsa ini, tidak boleh tidak, harus tahu, bahwa pada saat sekarang ini sedang berada pada tantangan yang sedemikian dahsyat. Bermodal pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran itulah maka akan menjadi modal atau kekuatan untuk bangkit dan akhirnya berhasil meraih sesuatu yang benar-benar bisa dibanggakan. Wallahu a'lam.



