Merawat Kedamaian Kampus Di Tengah Masyarakat Majemuk
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 29 April 2014 . in Dosen . 4383 views

Pendahuluan

Kedamaian itu sedemikian penting dan bahkan menjadi tujuan bagi semua orang. Siapapun di mana dan kapa saja selalu menginginkan hidup rukun, tenteram, dan damai. Kerukunan, ketenteraman, dan kedamaian bukan saja sekedar diperlukan, lebih dari itu adalah didambakan dan dicita-citakan oleh semua orang.

Bersyukur sekali, bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dari berbagai aspeknya, baik dari suku, adat istiadat, tempat tinggal, agama dan lain-lain. Namun demikian, bangsa ini ternyata berhasil membangun kerukunan, persatuan, dan kedamaian. Masyarakat Idonesia yang menempati wilayah tidak kurang dari 17.000 pulau besar dan kecil, sekalipun mereka itu pada kenyataannya sangat majemuk, tetapi dapat bersatu.

Rupanya bangsa ini dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Kuasaa berupa naluri untuk saling menjaga perasaan. Perbedaan bukan dijadikan alasan untuk bercerai berai, tetapi justru sebaliknya, untuk bersatu secara kokoh. Sungguh merupakan karunia besar, tatkala sedang bersama orang-orang yang berbeda, maka selalu muncul perasaan lebih berhati-hati, atau disebut ' tengganag rasa', jangan sampai perkataan dan apalagi perbuatannya mengganggu orang lain.

Kerukunan sebagai buah dari perasaan saling menjaga seperti itu, saya menyaksikannya di kampus-kampus perguruan tinggi, tidak terkecuali di Universitas Merdeka Malang, tempat kegiatan bersama di siang hari ini. Sekalipun di kampus ini, saya mengetahui, bahwa dilihat dari agama yang dipeluk oleh warganya beraneka ragam, yaitu ada Islam, hindu, kristen, katholik, dan budha, dan mungkin juga yang lain, tetapi tidak pernah terdengar perbedaan itu dijadikan alasan tidak bersatu. Politik kampus yang seringkali menjadi sebab kerenggangan komunikasi, ternyata tidak terjadi di kampus ini. kerukunan, kebersamaan, dan kedamaian selalu dikedepankan.

Oleh karena itu, bahwa sebenarnya persatuan, kebersamaan, dan kedamaian sudah terjadi dan terbangun sejak lama. Sekalipun tidak ada teori dari para ahli yang harus dipegangi untuk mewujudkan keadaan deal itu, akan tetapi anehnya gambaran yang diinginkan itu terwujud dengan sendirinya. Itulah sebabnya, saya mengataan bahwa bangsa ini telah dikaruniai jiwa yang dibutuhkan untuk membangun kehidupan bersama sekalipun masyarakatnya dalam keadaan berbeda-beda.

Atas dasar kenyataan itu, saya sengaja memilih kata dalam judul tulisan ini, ialah merawat kedamaian. Saya beragumentasi bahwa sebenarnya kerukunan, kebersamaan, dan kedamaian itu sudah ada sejak lama. Sekarang ini yang diperlukan adalah memelihara, menjaga, atau merawatnya. Persatuan itu harus dirawat, sebab dalam kenyataan empirik, sekalipun kecil dan sederhana, -------jika tidak hati-hati, ternyata bisa berpotensi mengganggu persatuan, kebersamaan, dan kedamaian yang sudahlama terpelihara.

Perbedaan Agama di Tengah Masyarakat Majemuk

Pada kenyataannya, agama di Indonesia ada bermacam-macam. Semua itu tumbuh dan berkembang. Namun demikian, di antara pemeluk agama yang berbeda-beda itu ternyata tetap mampu bersatu. Tempat ibadah dibangun, dan bahkan berdekatan. Di Malang ini misalnya, terdapat masjid, gereja, vihara, klenteng, dan pura, semua dibangun, dan bahkan berdekatan. Masing-masing tempat ibadah itu digunakan oleh pemeluknya tanpa ada gangguan dari umat yang berbeda agamanya. Bahkan, yang terjadi adalah saling mengamankan. Seringkali terdengar hal aneh, anak muda muslim ikut menjaga gereja tatkala di rumah ibadah itu sedang berlangung perayaan hari natal. Demikian pula, saya pernah melihat di Bali, anak-anak Hindu ikut menjaga keamanan jama'ah yang sedang shalat hari raya idul fitri atau idul adha.

Mirip dengan hal tersebut itu, saya juga pernah mendapatkan pengalaman yang saya rasakan menarik. Tatkala di depan masjid jami' kota Malang, suatu saat diselenggarakan dzikir bersama, dan dihadiri puluhan ribu jama'ah, ternyata tidak dianggap menganggu oleh jama'ah gereja yang tempatnya bersebelahan dengan masjid itu. Padahal dzikir bersama itu diselenggarakan pada hari minggu, yakni saat kaum nasrani menjalankan kebaktian. Saya benar-benar merasa terharu, pada saat diselenggarakan dzikir bersama, untuk sementara gerejanya ditutup, kebaktiannya ditunda, dan bahkan pengurus geraja tersebut ikut duduk bersama-sama kaum muslimin yang sedang berdzikir itu

Saya mendengar adanya kenyataan seperti itu tidak saja terjadi di Malang, tetapi juga di berbagai tempat atau wilayah lain di Indonesia. Bahkan di beberapa tempat, saya mendengar informasi yang indah, yaitu misalnya tatkala ada kaum muslimin membangun masjid, maka kaum nasrani membantu,dan demikian pula tatkala ada kaum nasrani membangun gereja ada saja kaum muslimin ikut meringankan bebannya. Saling membantu antar umat beragama di negeri ini sudah menjadi hal biasa.

Selain itu, sudah cukup lama saya ikut terlibat dalam pengembangan perguruan tinggi Islam. Identitas itu menjadikan semua pimpinan, dosen, karyawan, dan mahasaiswanya muslim. Namun demikian, dalam menyelesaikan berbagai persoalan, saya merasakan ada kedekatan dengan kawan-kawan yang beragama lain. Bahkan tidak saja dekat, tetapi seringtkali saya juga mendapatkan kemudahan. Perbedaanm agama tidak menjadi halangan untuk saling membantu satu sama lain. Saya memiliki pengalaman terkait komunikasi dan kerjasama dengan teman-teman yang berbeda agama dimaksud, di antaranya adalah sebagai berikut.

Ketika ikut memimpin Universitas Muhammadiyah Malang dalam waktu yag cukup lama, saya banyak dibantu oleh teman-teman yang beragama hindu, kristen, dan juga yang lain. Saya masih ingat, pada saat ikut memimimpin perguruan tinggi Islam dimaksud, Kopertis Wilayah VII dijabat oleh Bapak IB Alit SH. Beliau beragama Hindu, akan tetapi demikian besar perhatiannya terhadap perguruan tinggi Islam. Di kantor tersebut juga ada pejabat bernama Ibu Reny Nadeak, seorang nasrani, Bapak Musthika Artha, beragama Hindu, dan lain-lain. Akan tetapi mereka itu, sama sekali, tidak pernah memberikan perlakuan berbeda terhadap perguruan tinggi yang berbasis Islam. Perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk berkomunikasi dan juga membantu.

Demikian pula, ketika saya memulai memimpin UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Mengawali masa jabatan itu, sebagai upaya menambah wawasan para staf pimpinan, saya menugasi mereka untuk melakukan studi banding. Pada waktu itu, saya anjurkan agar berstudi banding ke perguruan tinggi Kristen dan Katholik. Anjuran saya diikuiti. Mereka mendatangi Universitas Kristenb Petra Surabaya, Universitas Katholik Widya Mandala, Universitas Katholik Satya Wacana, Salatiga, Universitas Parahyangan di Bandung, UKI Jakarta, Universitas Atma Jaya di Jakarta, dan lain-lain. Sepulang dari studi banding itu, ternyata tumbuh semangat luar biasa, bahkan dari mereka muncul keinginan untuk mengejar ketertinggalan dari perguruan tinggi yang baru saja dikunjungi itu.

Berbekalkan semangat yang di antaranya tumbuh atau diperoleh dari kunjungan studi banding itu, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ternyata berkembang. Dan akhir-akhir ini keadaannya terasa berbalik, tidak sedikit pimpinan perguruan tinggi dari berbagai agama datang, berstudi banding. Saya sendiri akhirnya sering diundang untuk berceramah ke perguruan tinggi berbasis berbagai agama, yaitu misalnya ke STAKN Ambon, STAKN Palangkaraya, IHDN Bali, STAKN Manado, STAKN Toraja, STABN Wonogiri, STAKN Taruntung, dan lain-lain. Antar perguruan tinggi berbasis agama akhirnya terjadi saling mengenal dan bekerjasama.

Komunikasi dan saling bekerjasama oleh kampus-kampus yang berbeda agama yang ada di Indonesaia sebenarnya memiliki dasar teologi masing-masing yang jelas. Bahwa semua agama memberikan tuntunan kepada umatnya agar saling berbagi kasih sayang, saling mengenal, mencinhtai sesama, untuk membangun kedamaian bersama. Tidak ada agama yang menganjurkan kepada umatnya agar membuat kerusakan dan apalagi meniadakan. Sementara itu, menjadi pemeluk agama tidak bisa dipaksa. Agama bersumber dari keyakinan. Sedangkan keyakinan berada di hati. Secara fisik orang bisa dipaksa, akan tetapi akan sangat sulit memaksa hati siapapun. Oleh karena itu, sangat beruntung menjadi bangsa Indonesia, negara memberi kebebasan bagi warganya untuk memeluk agama yang diyakininya masing-masing.

Merawat Kerukunan Antar Umat Beragama

Sekalipun kerukunan antar umat beragama di negeri ini sudah berjalan baik, tetapi upaya-upaya untuk merawatnya masih tetap perlu dilakukan, termasuk di kampus-kampus. Universitas Merdeka Malang yang sudah lama saya kenal berhasil memposisikan diri sebagai contoh tentang bagaimana seharusnya merawat kerukunan dan kebersamaan di kalangan masyarakat yang majemuk. Tentu prestasi itu harus dipertahankan dan diberikan apreasisasi yang tinggi. Di kampus ini, sebagaimana saya singgung di muka, para dosen dan mahasiswanya berlatar belakang agama yang berbeda-beda, tetapi tidak pernah terdengar terjadi konflik atau apa namanya terkait dengan persoalan agama.

Apa yang dikembangan oleh Universitas Merdeka Malang, terkait dengan kemajemukan, adalah sangat tepat. Dengan demikian, perguruan tinggi ini telah memberikan sumbangan besar terhadap bangsa ini di antaranya dalam mewujudkan kerukunan, kebersamaan, dan kedamaian. Tampak sekali bahwa kampus ini tidak melihat orang itu datang dari mana, tetapi selalu menunggu siapa saja yang akan berbuat baik dan terpuji dalam rangka membangun bangsa dan kemanusiaan pada umumnya. Sebagai perguruan tinggi, memang seharusnya selalu memposisikan diri secara tepat, yaitu selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, obyektifitas, kebersamaan, dan kedamaian.

Tanpa menutup mata, diakui bahwa memang masih ada sesekali, yaitu gesekan-gesekan antar pribadi, kelompok, pemeluk agama hingga melahirkan jarak komunikasi antar pemeluk agama. Kejadian dimaksudkan itu manakala dilihat secara saksama, adalah masih merupakan kewajaran. Jangankan antar orang atau kelompok yang keyakinan berbeda, sebatas sepasang suami isteri, kakak beradik, keluarga, antar tetatangga saja juga berkem ungkinan terjadi kesalah pahaman. Oleh karena itu, yang perlu dikembangkan adalah, bagaimana tatkala terjadi gesekan atau jarak komunikasi, maka seharusnya masing-masing pihak segera mendekat kembali. Umpama ada pihak yang dirasakan saling mengganggu, maka perlu segera menyadari bahwa kebersamaan, kerukunan, dan kedamaian adalah segala-galanya dan harus dikedepankan.

Untuk merawat atau memelihara kebersamaan, kerukunan, dan kedamaian itu, ----------dalam kesempatan ini, saya memberanikan diri untuk menyampaikan konsep dari sudut pandang atau perspektif Islam. Bahwa untuk membangun kedamaian, maka harus dimulai dari kegiatan taaruf (saling melihat atau bertemu). Kegiatan itu jika dilakukan secara terus menerus akan membuahkan apa yang disebut dengan tafahum atau saling memahami. Dari tafahum yang dipelihara secara terus menerus pula akan melahirkan sikap tadhammun atau saling menghargai. Sikap saling menghargai itu manakala berhasil dipelihara, maka selanjutnya akan melahirkan apa yang disebut tarakhum dan akhirnya, semua itu akan berujung pada hubungan taa'wun, yaitu saling tolong menolong atau saling memperkukuh antar sesama.

Sebagai upaya mewujudkan konsep itu, saya pernah mencoba untuk memberikan penghargaan kepada seorang tokoh yang berhasil mengimplementasikan kepemimpinan masyarakat majemuk. Penghormatan itu berupa penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa kepada Bapak Dr. Sinyo Hari Sarundayang, Gubernur Sulawesi Utara. Pemberian penghormatan itu saya sampaikan berdasar atas pengamatan mendalam terhadap prestasi yang telah dihasilkan olehnya. Pada setiap berkunjung ke Maluku Utara, Ambon, dan juga Sulawesi Utara, saya selalu mendengar ungkapan atau informasi tentang indahnya apa yang dilakukan oleh Gubernur dimaksud, terkait dengan kepemimpinan masyarakat majemuk. Atas dasar informasi itu, saya mengundang beliau untuk memberikan ceramah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Setelah beliau memberikan ceramah, maka sebagai bagian dari upaya melakukan tadhammun atau menghargai terhadap orang yang berprestasi, saya menganugerahkan gelar akademik, yakni Doktor Honoris Causa kepada beliau. Saya bersyukur, beliau berkenan menerimanya, sekalipun sebelumnya, beliau sempat bertanya, apakah mungkin seorang Kristen mendapatkan gelar akademik tertinggi dari perguruan tinggi Islam. Atas pertanyaan itu, saya sampaikan bahwa Islam, mengajarkan agar menghargai kepada siapapun yang berprestasi untuk kemanusiaan. Dan, sebagai seorang muslim, saya menjalankan ajaran yang saya pandang mulia itu. Akhirnya, beliau menerima usulan saya itu.

Selama ini, --------sepengetahuan saya, pembinaan kerukunan antar umat beragama, banyak dilakukan lewat berbagai kegiatan, misalnya berupa dialog, seminar, dan kegiatan ilmiah lainnya. Menurut hemat saya, kegiatan dimaksud harus ditingkatkan, tidak saja berupa diskusi, berdialog, dan sejenisnya, tetapi seharusnya lebih dari itu, ialah misalnya berani saling menghargai atau mengakui prestasi seseorang tanpa melihat latar belakang yang bersangkutan. Selain itu, kerukunan menurut hemat saya, adalah bukan saja merupakan buah dialog, rumusan kata-kata, aturan, pedoman dan bahkan undang-undang sekalipun. Semua itu memang penting, namun di atas semua itu, masih ada seseuatu yang lebih strategis dan amat penting, ialah hati masing-masing orang. Manakala hati mereka sudah berhasil disatukan melalui proses ta'aruf, tafahum, tadhammun, tarakhum, maka akan membuahkan apa yang disebut dengan taawun hingga terjadi kebersamaan, kerukunan, dan kedamaian yang kokoh dan sempurna.

Penutup

Saya melihat bahwa persoalan kerukunan beragama selalu terkait dengan tingkat pemahaman para pemeluk terhadap agamanya. Gesekan yang kemudian melahirkan konflik, rentan terjadi pada masyarakat yang tingkat pemahaman agamanya masih perlu ditingkatkan. Dalam keadaan seperti itu, perguruan tinggi seharusnya mengambil peran-peran strategis, yakni memberikan bimbingan terhadap pemahaman agama, selain secara nyata, juga tauladan yang tepat.

Erat kaitannya dengan hal tersebut, saya selalu memberikan masukan, bahwa untuk membangun bangsa yang religius, maka generasi ke depan perlu didekatkan kepada tiga hal, yaitu pada kitab suci, tempat ibadah, dan tokoh atau pemimpin agamanya masing-masing. Upaya ini sekaligus sebagai bentuk nyata atau implementasi dari pendidikan karakter yang pada akhir-akhir ini dirasakan penting dan mendesak. Umpama masyarakat menjadi dekat dengan ketiga hal dimaksud, -----kitab suci, tempat ibadah, dan tokoh umatnya masing-masing, maka cita-cita ideal bangsa Indonesia, yakni menjadi masyaraat yang bertaqwa, damai, rukun, dan sejahtera, akan segera terwujud.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up