Perebedaan Mengukur Kehebatan Petinju Dan Kehebatan Perguruan Tinggi
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 20 April 2014 . in Dosen . 968 views

Antara petinju dan perguruan tinggi adalah sangat berbeda. Akan tetapi keduanya, -----andaikan mau, ternyata bisa dibandingkan. Misalnya, dari cara mengukur kehebatannya masing-masing, hingga layak disebut telah berprestasi, masuk peringkat dunia. Namun cara mengukur kehebatan petinju adalah berbeda dengan cara mengukur perguruan tinggi. Perbedaan itu cukup banyak, sedangkan kesamaannya, bahwa hasil pemeringkatan itu paling tidak sebagai simbol sukses, prestasi, dan kebanggaan.

Siapapun mengetahui, antara petinju dan perguruan tinggi adalah sangat berlainan, oleh karena itu, cara mengukurnya pasti berbeda. Mengakui Elyas Pical, Chris John, Muhammad Ali, Mike Tyson dan lain-lain sebagai telah meraih peringkat kelas dunia adalah mudah, yaitu dipertandingkan saja mereka itu dengan juara dunia. Manakala yang bersangkutan mampu mengalahkan juara dunia, maka secara otomatis dia sebagai pengganti pemegang posisi juara sebelumnya itu.

Namun sebenarnya, tidak sembarang petinju bisa dibandingkan dengan juara dunia. Seorang petinju yang baru bermain beberapa kali, dan belum memiliki prestasi istimewa, tidak akan ada promotor yang berani mempertandingkannya. Hanya orang-orang tertentu, dan sudah diketahui memiliki kelebihan saja yang dibolehkan untuk menantang petinju kelas dunia. Selain itu, sebutan kelas dunia juga ada beberapa versi, misalnya versi WBA, WBC, IBF, dan mungkin masih ada lagi. Peringkat organisasi tinju tersebut juga berbeda-beda, yang satu dianggap lebih hebat dan bergengsi dari yang lain.

Mengukur kehebatan perguruan tinggi lebih rumit dibanding mengukur kehebatan petinju. Seorang petinju tatkala bermain memiliki tatktik dan strategi dan bahkan juga seni. Akan tetapi taktik dan strategi itu tidak akan memiliki arti apa-apa, kalau ternyata yang bersangkutan segera berhasil dirobohkan oleh lawannya. Seindah apapun seni bertinju yang dimainkan, akan tetapi dia roboh dan tidak mampu meneruskan pertandingannya, maka yang bersangkutan akan dinyatakan kalah. Sebaliknya, petinju yang tidak memiliki seni bertinju asalkan mampu merobohkan juara dunia, maka dialah yang akan menggantikan posisi juara itu.

Akhir-akhir ini, mulai terdengar suara dari beberapa perguruan tinggi, mereka berkeinginan meraih prestasi bertaraf dunia. Keinginan itu, saya kira mulia sekali. Mereka berkeinginan mengangkat citra bangsanya melalui pengakuan kualitas perguruan tingginya. Keinginan menjadi perguruan tinggi kelas dunia itu juga datang dari perguruan tinggi yang berada di bawah pembinaan kementerian agama. Disebut-sebut, untuk sementara, dua perguruan tinggi yang diproyeksikan meraih peringkat kelas dunia, adalah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Kemauan dan atau cita-cita besar serta mulia itu, tentu tidak mudah untuk diraih. Ukuran perguruan tinggi kelas dunia bukan sebatas hal-hal yang bersifat fisik sebagaimana mengukur petinju, melainkan ada aspek-aspek prestasi non fisik yang tidak mudah dipenuhi. Perguruan tinggi kelas dunia tidak saja diukur dari luas tanah yang ditempati, keindahan tamannya, besar dan jumlah bangunan gedung, jumlah profesor, dosen, mahasiswa, besarnya anggaran, dan berbagai daya dukung lainnya. Selain itu, ada ukuran lain yang jauh lebih sulit dipenuhi, misalnya berapa hasil penelitian dan inovasi baru yang telah mendapatkan pengakuan luas atau hak paten, prestasi mahasiswa dan alumni, pengakuan masyarakat, dan lain-lain.

Penggunaan ukuran kehebatan perguruan tinggi yang bukan saja bersifat fisik itu, maka di sanalah letak akesulitannya untuk bisa segera dipenuhi. Misalnya, jumlah dosennya sudah cukup banyak dan begitu pula profesornya. Akan tetapi, umpama jumlah dosen dan profesor itu belum berhasil membuahkan karya-karya akademik yang bisa dinikmati kalangan luas, atau tegasnya dosennya tidak pernah meneliti, tidak pernah menulis, maka keberadaannya tidak akan memberi sumbangan besar bagi kampusnya. Adanya hanya memenuhi jumlah, sementara itu untuk disebut sebagai kelas dunia bukan sebatas memenuhi ukuran-ukuran fisik dan hal yang bersifat kuatitatif itu.

Sebenarnya, pikiran, perhatian, dan pekerjaan yang lebih tepat untuk meraih prestasi perguruan tinggi, selain mempertegas cita-cita menjadi juara, atau apalah namanya, adalah membenahi dan memperkokoh berbagai aspek yang ada di perguruan tinggi itu. Misalnya, bagaimana agar semua warga kampus merasa senang, bergembira, merasa aman, tidak tertekan, memiliki jiwa kebersamaan, semangat berjuang, selalu menjalin sillaturrahmi, saling memperkuat dan memperkukuh, dan seterusnya. Suasana batin seperti disebutkan itu, akan melahirkan kesadaran yang tinggi terhadap lembaganya. Selanjutnya, disengaja atau tidak, kesadaran itu akan membuahkan prestasi yang luar biasa.

Hal lain yang tidak kalah penting, sekalipun hal itu disebut sebagai buah dari suasana batin sebagaimana digambarkan di muka, adalah upaya meningkatkan kualitas segala pelayanan. Pelayanan kepada dosen, pelayanan kepada masyarakat, dan yang lebih penting lagi adalah pelayanan kepada mahasiswanya. Hal yang perlu dijawab misalnya adalah, bagaimana agar mahasiswa merasa terlayani dengan baik, kreatifitas dan aspiranya tersalurkan, suasana kampus menumbuhkan ispirasi baru, spiritualitasnya tumbuh, akhlak mereka terpelihara, semangat keilmuannya berkembang, dan berhasil mengembangkan profesionalitasnya masing-masing. Prestasi gemilang dari semua itulah akhirnya akan melahirkan pengakuan di kalangan luas, bahkan seluas kawasan dunia. Itulah yang disebut sebagai perguruan tinggi kelas dunia. Ayolah semua ini diwujudkan bersama-sama, dan jangan sampai ada potensi besar tetapi terlewatkan. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up