Pragmatisme Di Perguruan Tinggi
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 25 April 2014 . in Dosen . 3112 views

Orientasi pragmatisme mungkin saja dijalankan di bidang-bidang lain, seperti di bidang politik, hukum, ekonomi, dan lain-lain. Akan tetapi tidak semestinya dilaksaksanakan di lingkungan pendidikan dan apalagi di perguruan tinggi. Perguruan tinggi seharusnya berorientasi pada idealisme sebagai lawan dari budaya pragmatisme itu. Perguruan tinggi seharusnya selalu mengambil pilihan terbaik, sekalipun tentu, disesuaikan dengan kemampuan maksimal yang ada padanya.

Perguruan tinggi adalah merupakan institusi yang berkaitan dengan pengembangan ilmu. Tugas itu seharusnya tidak boleh ditunaikan tanpa berpegang pada prinsip-prinsip kebenaran. Siapapun yang bekerja di dalam wilayah keilmuan, maka harus bersedia menyesuaikan diri dengan tugas-tugas itu. Prinsip-prinsip yang dimaksudkan itu misalnya, harus obyektif, rasional, terbuka, dan bertanggung jawab. Atas dasar prinsip-prinsip itu, maka hasil-hasil kerjanya diharapkan memiliki bobot dan bisa dipercaya atas kebenarannya.

Namun pada akhir-akhir ini, rupanya orientasi pragmatisme juga sudah mulai menjamah di kampus-kampus perguruan tinggi. Alasan-alasan pragmatis, misalnya bahwa yang terpenting program berjalan, semua bisa diselesaikan, tuntutan formal terpenuhi, dan semua target diraih dan berhasil dipertanggung jawabkan. Padahal bisa jadi, semua yang dimaksudkan itu hanya sebatas kuantitatif dan formalitas belaka. Misalnya, berapa jumlah mahasiswa yang mendaftar dan diterima, berapa tahun mahasiswa menyelesaikan pendidikannya, berapa kali di kampus itu dalam setahun diselenggarakan wisuda, berapa alumni yang berhasil bisa diserap di lapangan kerja, dan seterusnya.

Sebaliknya, target-target yang bersifat kualitatif, seperti temuan-temuan baru, hasil penelitian yang tergolong ungggul, penerbitan karya ilmiah, jurnal yang berkualitas dan diakui oleh kalayak luas, dan lain-lain, sudah bukan menjadi ukuran. Akibatnya, perguruan tinggi hanya sebatas memproduk ijazah sarjana, baik S1, S2, maupun S3. Dengan begitu, perguruan tinggi hanya sebatas bagaikan mesin, yaitu menjalankan hal-hal yang terpola dan rutin, dan sebaliknya tidak ada inovasi dan sejenisnya. Gambaran seperti itulah yang disebut, bahwa perguruan tinggi sudah semakin berorientasi pada pragmatisme.

Bahkan, gambaran yang lebih memprihatinkan lagi, bahwa sekedar untuk meramaikan kampus, tidak sedikit perguruan tinggi membuka program-program yang orientasinya hanya sebatas formalitas. Misalnya, mereka membuka program kuliah sabtu minggu, klas jauh, kelas eksekutif, dan sejenisnya. Melalui program itu, sekalipun mahasiswa tidak terlalu banyak berada di perpustakaan, di laboratorium, terlibat dalam kegiatan ilmiah, dan lain-lain, namun secara mendadak seseorang ikut diwisuda, oleh karena yang bersangkutan ternyata secara formal telah menyelesaikan tesis atau bahkan disertasi.

Program-program formalitas seperti itu menjadikan tidak jarang pejabat di daerah-daerah yang tidak tahu kapan mereka ke kampus, ternyata sudah bergelar master, dan bahkan juga Doktor. Seharusnya prinsip-prinsip dalam upaya menggali kebenaran tidak boleh diabaikan dan atau dikalahkan oleh pertimbangan pragmatisme. Memberi peluang kepada seseorang, dan tidak terkecuali kepada pejabat tertentu untuk meraih gelar akademik dengan maksud agar kampusnya ikut mendapatkan nama besar pejabat yang bersangkutan tidaklah selayaknya dilakukan. Perguruan tinggi seharusnya selalu menjaga kebesaran nama yang disandangnya.

Pada jangka panjang, langkah atau strategis tersebut sebenarnya sangat merugikan lembaga yang bersangkutan. Disadari atau tidak, bahwa pragmatisme selalu membahayakan masa depan. Pragmatisme selalu mengorbankan idealisme, ruh, dan jiwa yang seharusnya selalu dijaga dan atau dipelihara. Namun demikian, banyak orang lebih memilih hal yang bersifat pragmatis, jalur pendek, mudah dan murah, sekalipun kualitasnya terbatas. Manakala orientasi pragmatisme itu ditoleransi, maka sebenarnya akan mengorbankan masa depan institusi yang bersangkutan. Perguruan tinggi seharusnya selalu menjaga idialisme, obyektifitas, rasionalitas, dalam keadaan dan suasana apapun.

Umpama kebanyakan perguruan tinggi sudah tidak mampu lagi menjaga idealisme, menjaga kualitas, oleh karena tuntutan masyarakat yang terlalu pragmatis itu, maka seharusnya terdapat beberapa perguruan tinggi yang bertugas menjaga idealisme dimaksud. Jangan sampai, semua lembaga pendidikan tinggi hanyut untuk memenuhi tuntutan masyarakat yang bersifat pragmatis. Pragmatisme selalu berorientasi jangka pendek, menginginkan keuntungan sesaat, mengabaikan kualitas, dan akibatnya merugikan masa depan. Kiranya, siapapun tidak mau merugi, apalagi merugi di masa depan sebagai akibat memilih orientasi pragmatisme itu. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up