Di saat banyak orang memperbincangkan tentang pelaksanaan ujian nasional, maka apa salahnya juga ikut-ikut berbicara tentang soal ujian untuk komunitas lain, ialah soal ujian untuk para pemimpin bangsa. Namun sudah barang tentu, soal ujian untuk para pemimpin bangsa pasti berbeda dari soal ujian untuk para siswa SMA, SMK, atau jenis sekolah lain yang sederajad. Perbedaan itu menyangkut beberapa hal, baik bentuk soalnya maupun cara mengerjakannya.
Soal untuk para siswa yang mengikuti ujian nasional biasanya berbentuk pilihan ganda. Bentuk soal itu dipilih agar lebih praktis, mudah mengoreksinya, dan juga disebut lebih obyektif. Namun kekurangannya, bentuk soal itu mudah dicontek, tidak mampu merekam kemampuan siswa secara menyeluruh atau berbagai aspek, dan bahkan, sekalipun disebut obyektif, bentuk soal pilihan ganda ternyata juga ada peluang seseorang bergambling menjawabnya.
Bentuk soal pilhan ganda juga rentan bocor. Akhir-akhir ini, munculnya isu jual beli kunci jawaban ujian nasional oleh karena menggunakan bentuk pilihan ganda itu. Oleh karena itu, pemerintah dalam hal ini kementerian pendidikan dan kebudayaan, merasa harus mengamankan soal ujian sedemikian ketat atas dasar pertimbangan bahwa, soal-soal itu berpeluang bocor, bisa dicontek, dan atau dimanipulasi dengan berbagai cara lainnya. Maka, agar tidak perlu melibatkan polisi, pengawas dari perguruan tinggi, dan lain-lain, kebijakan terkait ujian itu harus diubah, termasuk pembuatan soal ujiannya.
Pada saat sekarang ini, ujian nasional untuk SMA, SMK, dan yang sederajad sudah selesai diselenggarakan. Manakala akan diubah, dicari yang lebih cocok dengan zamannya, maka masih ada waktu cukup lama. Yang sudah selesai ya sudahlah, sebaiknya proses itu harus dilanjutkan. Para siswa yang telah mengikuti ujian nasional pasti menunggu hasilnya. Bahkan, mereka yang membuat kunci jawaban palsu dan kebetulan tertangkap oleh pihak yang berwajib agar diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. Demikian pula, bagi mereka yang stress karena mengikuti ujian itu, semoga segera pulih kembali.
Hal yang lebih relevan dengan sekarang adalah membicarakan tentang soal ujian untuk para pemimpin bangsa. Tentu bentuk soalnya berbeda. Soal ujian itu bersifat terbuka, siapapun boleh membaca dan ikut menjawabnya. Soal dimaksud juga tidak perlu disimpan dan apalagi diamankan oleh polisi. Mengerjakannya juga tidak perlu pengawas. Namun demikian, rakyat akan selalu melihatnya, bisakah para pemimpin bangsa menjawab soal-soal yang tidak dirahasiakan itu. Jumlah soal itu juga cukup banyak, sebanyak luasnya lapangan kehidupan ini. Tapi untung, menjawabnya boleh diambil prioritas. Soal-soal ujian yang bersifat mendesak boleh dijawab terlebih dahulu, sedangkan lainnya yang tidak mampu dijawab boleh ditinggalkan, asalkan tidak ditinggalkan semuanya.
Di antara soal-soal yang seharusnya dikerjakan oleh para pemimpin bangsa itu misalnya, bagaimana mengatasi kesenjangan yang masih sangat lebar antara yang kaya dan yang miskin? Bagaimana menjadikan pengangguran semakin berkurang? Bagaimana pendidikan semakin merata dan bermutu ? Bagaimana menjadikan agar para pemimpin bangsa sendiri menjadi amanah, tidak korupsi, bisa dipercaya, dan bersungguh-sungguh di dalam membela rakyat? Bagaimana agar sumber daya alam bisa memberikan kemakmuran seluas-luasnya kepada rakyatnya sendiri ? Bagaiman a agar warga bangsa ini sekedar mencari kerja tidak harus menjadi buruh dan atau babu ke negeri orang ?. Dan tentu saja, masih banyak lagi soal-soal ujian lainnya.
Para pemimpin bangsa, dalam mengerjakan soal ujian terbuka itu dibolehkan bekerjasama dengan teman-temannya atau siapapun, membuka buku atau literatur, dan bertanya ke sana dan kemari. Selain itu, juga dibolehkan membuka internet, membawa kalkulator, IPAD, laptop, dan apa saja lainnya. Tempat mengerjakan soal-soal ujian dimaksud juga boleh di mana dan kapan saja, asalkan masih menjabat atau berposisi sebagai pemimpin. Dibayangkan, menjawab soal ujian ini mudah, tetapi berdasarkan pengalaman, ternyata tidak demikian itu. Buktinya, soal-soal tersebut masih belum terjawab. Soal-soal ujian yang dijadikan contoh tersebut di muka masih relevan ditanyakan pada ujian setiap periode kepemimpinan bangsa ini.
Di zaman membanjirnya informasi seperti sekarang ini, umpama para siswa dilatih menjawab soal-soal ujian dalam bentuk terbuka dan juga lebih aktual seperti itu, maka ketika kemudian pada saatnya menjadi pejabat, pemimpin, atau tokoh masyarakat, maka mereka akan terlatih menjawab soal-ujian ujian yang sebenarnya selalu ditemui di dalam kehidupan. Namun pada kenyataannya, para siswa di sekolah, lebih banyak diberi bentuk soal ujian pilihan ganda. Padahal di tengah-tengah kehidupan masyarakat bentuk soal itu tidak akan ada. Maka akibatnya, ketika lulus dan terjun dalam kehidupan nyata, mereka gagap, bahkan sekedar mendapatkan pekerjaan saja mengalami kesulitan. Akibatnya, setelah lulus, mereka banyak yang menganggur. Pendidikan semakin banyak, tetapi aneh, jumlah pengangguran juga semakin naik.
Oleh karena itu, ke depan sangat diperlukan adanya revolusi pemikiran tentang penyelenggaraan pendidikan, sejalan dengan hadirnya revolusi teknologi informasi dan kumunikasi. Manakala apa yang dilakukan sekarang ini, dan apalagi yang akan datang, ternyata masih sama dengan 10 dan bahkan 20 tahun yang lalu, maka generasi ke depan bangsa ini akan semakin tertinggal. Resiko lainnya, para siswa dalam menjalani pendidikan akan merasa tertekan, takut, dan tidak mengerti fungsi pendidikan yang sebenarnya, kecuali sebatas untuk memenuhi kewajiban dalam menjalani hidup sebagai warga negara. Mereka akan mengira, bahwa hidup dan menjadi warga negara itu harus bersekolah. Padahal sebenarnya, bersekolah itu dijalani oleh karena kebutuhan bagi yang bersangkutan, dan memang menyenangkan. Wallahu a'lam.



