Tatkala Gambar Ka'bah Berada Jauh Dari Ka'bah
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 22 April 2014 . in Dosen . 2894 views

Di sekitar Ka'bah tidak pernah sepi orang. Selalu saja, di tempat yang mulia itu terdapat banyak orang, baik melakukan thawaf, membaca al Qur'an, sholat, dan juga mendengarkan ceramah. Terkait dengan kegiatan yang disebutkan terakhir, bahwa di Masjidil Haram pada saat tertentu diselenggarakan pengajian yang diikuti oleh banyak jama'ah. Maka, masjid yang di dalamnya terdapat bangunan Ka'bah itu, pada saat kapan pun, tidak pernah sepi.

Jumlah jama'ah selalu memuncak hingga juta'an orang pada saat datang musim haji. Pada saat itu, masjid tidak mampu menampung jama'ah lagi. Pada waktu musim haji, jama'ah sholat saja hingga jauh di luar Masjidil Haram. Saya pernah, shalat jum'ah di musim haji, oleh karena jauhnya, hingga tidak bisa mendengarkan suara imam. Padahal, pengeras suara di Masjidil Haram sedemikian bagus. Suara itu tidak terdengar, selain jauh, juga terganggu oleh bangunan di sekitar masjid.

Pada saat musim haji itu, sekedar mencari tempat untuk shalat, dan bahkan sekedar duduk saja, karena banyaknya orang, terasa sulitnya bukan main. Apalagi untuk menjalankan thawaf dan sa'i. Sebanyak orang itu berdesak-desakan, mereka sama-sama mencari tempat. Di berbagai kota, banyak orang mengeluhkan tentang kemacetan. Di sekitar Ka'bah, macet adalah hal yang sangat biasa. Kemacetan itu bukan ketika sedang naik kendaraan, melainkan ketika orang sedang berjalan kaki. Pada saat tertentu, sekedar bergerak saja, sulitnya bukan main.

Selama ini, saya tidak pernah melihat orang sebanyak itu sebagaimana di sekitar Ka'bah. Jutaan orang berkumpul di suatu tempat yang sama. Maka pasti, di antara mereka ada yang terganggu. Bisa saja, seseorang ingin bergerak, tetapi tidak ada jalan. Waktu sholat misalnya, karena terbatasnya tempat, maka badannya terhimpit, atau bahkan kepalanya terkena kaki orang yang sedang bergerak mencari tempat. Himpit menghimpit dan bahkan saling benturan badan antar orang adalah hal biasa.

Namun anehnya, tatkala terjadi benturan, saling menginjak kaki, terdorong, dan lain-lain tidak menjadikan mereka tersinggung atau apalagi marah. Selama beberapa kali datang ke Ka'bah, baik pada waktu haji atau umrah, saya tidak pernah melihat orang bertengkar atau konflik di sekitar Ka'bah. Orang yang sedag berada di sekitar Ka'bah, manakala dengan tidak sengaja mengganggu orang, -------membentur dan atau menginjak kaki orang lain, yang bersangkutan segera meminta maaf, lalu keduanya saling tersenyum. Tidak semua jama'ah haji bisa berkomunikasi dengan lesan, karena terhalang bahasa, sehingga komunikasinya sekedar dengan senyum itu.

Meminta dan memberi maaf bagi orang-orang yang sedang berada di sekitar Ka'bah tampak sedemikian mudah. Di antara orang yang tidak sengaja menganggu dan juga pihak yang terganggu saling menyadari bahwa dalam berinteraksi, berkomunikasi, dan bersama-sama, maka pasti terjadi singgung menyinggung, bergesekan, dan bahkan menyebabkan rasa sakit. Kejadian seperti itu oleh mereka dianggap sebagai hal biasa. Oleh karena itu, cara menyelesaikannya, ialah mudah dan sederhana, yaitu di antara mereka saling meminta dan memberi maaf. Di sana tidak ada gengsi, tinggi hati, ingin mencari menang sendiri, atau mengalahkan sesama.

Suasana yang sedemikian indah itu terjadi, oleh karena mereka yang datang dari negara yang berlain-lainan dan harus menempuh jarak yang jauh itu, adalah bertujuan sama, yaitu untuk beribadah. Mereka datang ke lingkungan Ka'bah di Masjidil Haram, baik dalam rangka berumrah, berhaji, atau sekedar shalat berjama'ah adalah sebagai upaya mendekatkan diri pada Allah. Mendekatkan diri kepada Dzat Yang Maha Mulia, Maha Suci, Maha Besar, Maha Pengampun, dan sifat-sifat mulia lainnya, tidak selayaknya yang bersangkutan melakukan tindakan yang tidak terpuji antar sesama. Mereka datang ke Ka'bah, selain untuk mendapatkan ampunan dan kasih sayang-Nya, juga agar berhasil membangun akhlak mulia pada dirinya masing-masing.

Merenungkan tentang suasana lingkungan Ka'bah di Masjidil Haram yang sedemikian indah itu, saya teringat gambar atau lambang ka'bah yang digunakan simbol partai politik Islam di negeri kita. Beberapa hari terakhir ini, setelah pilihan calon legislatif, ternyata pengurus puncaknya terlibat perbedaan pendapat hingga melahirkan konflik internal. Tentu media massa memberitakannya, sehingga kejadian itu diketahui masyarakat luas. Umpama umat Islam dalam berpolitik juga diniatkan sama dengan berkjunjung ke Ka'bah, yakni untuk beribadah, umpama terjadi konflik atau saling bergesekan, maka penyelesainnya tidak rumit. Pihak yang terlibat konflik akan segera saling berjabat tangan, lalu tersenyum bersama, sehingga persis orang yang sedang berada di sekitar Ka'bah, sebagaimana dijelaskan di muka. Manakala cara itu yang ditempuh, maka konfliknya segera selesai.

Konflik itu ternyata ada di mana-mana, tidak terkecuali di sekitar Ka'bah. Maka, kiranya wajar, atau bahkan lebih-lebih hal itu terjadi di arena politik. Politik di mana dan kapan saja selalu diperebutkan. Karena itu, adalah mudah dipahami, tatkala partai politik, berlambang apapun, termasuk ka'bah, terjadi konflik di dalamnya. Namun yang perlu dipahami, bahwa tidak semua konflik itu mubadzir, ada juga konflik yang berguna atau fungsional. Oleh karena itu, yang terpenting adalah tatkala terjadi konflik, maka harus segera diselesaikan, meniru orang yang sedang konflik atau setidaknya saling mengganggu di sekitar ka'bah. Di antara mereka, segera meminta dan memberi maa'f, lalu berjabatan tangan.

Seharusnya dipahami bahwa berpolitik adalah bermain taktik, siasat, dan atau strategi untuk mendapatkan keuntungan atau kemenangan. Maka, wajar saja seorang pimpinan tertinggi suatu saat mengambil kebijakan secara spontan, namun strategis untuk memanfaatkan momentum secara tepat. Oleh karena itu, anggaplah kejadian itu tidak ada yang salah, dan apalagi sampai rugi. Manakala hal itu dijadikan pegangan, maka konflik partai berlambang Ka'bah pada akhir-akhir ini akan justru menjadi penting, disebut sekaligus sebagai berdakwah, yaitu berda'wah bagaimana menyelesaikan konflik. Mudah-mudahan begitulah, sehingga konflik partai bergambar Ka'bah, -----------sekalipun jauh dari Ka'bah, masih tetap fungsional. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up