Salah satu kelemahan bangsa ini adalah dalam hal membangun kebersamaan atau bekerjasama. Sekalipun mungkin tidak mau disebut menganut faham individualisme, tetapi umumnya mereka lebih suka menyelesaikan persoalan secara sendiri-sendiri. Padahal, kebersamaan atau bekerjasama adalah kunci agar menjadi kuat dan akhirnya mendapatkan kemenangan.
Ajaran tentang kebersamaan itu sebenarnya sudah cukup banyak baik bersumber dari ajaran agama, pengalaman sejarah panjang kehidupan bangsa ini, maupun berbagai semboyan populer yang sering terdengar di tengah masyarakat. Dari sumber ajaran agama Islam misalnya, disebutkan sedemikian jelas, betapa pentingnya bersatu, tolong menolong dan bahkan juga agar saling menjalin kasih sayang di antara sesama. Namun demikian dalam kehidupan sehari-hari, ajaran yang sangat mulia itu seolah-olah tetap asing.
Umat Islam sendiri di mana-mana lebih suka bermadzhab, beraliran, berorganisasi, dan membangun kelompok-kelompok secara berbeda-beda. Masing-masing madzhab, kelompok, atau organisasi itu menampakkan perbedaan yang tajam, saling merasa paling benar, dan tidak menutup kemungkinan juga saling menjauh. Seolah-olah agama tidak mengajarkan konsep tentang betapa pentingnya bersillaturrakhiem, bekerjasama, dan kebersamaan.
Bangsa ini sebenarnya memiliki pengalaman sejarah tentang betapa pentingnya bersatu dan kebersamaan. Tatkala perjuangan melawan penjajah masih dilakukan secara sporadis dan bersifat kedaerahan, sekalipun sudah mengeluarkan segala kekuatan yang ada, tetap kalah atau berhasil dipatahkan oleh musuh. Baru setelah perjuangan itu dilakukan secara terorganisasi dan secara bersama-sama, maka berhasil menang. Penjajah yang berada di negeri ini sudah sekian lama dan memiliki kekuatan luar biasa berhasil dikalahkan, dan akhirnya mereka kembali ke negaranya. Persatuan dan kebersamaan menjadi kata kunci keberhasilan dalam meraih usaha-usaha besar sekalipun.
Peringatan tentang betapa pentingnya bersatu dan bekerjasama juga diungkapkan dalam bahasa pergaulan sehari-hari, misalnya : 'bersatu teguh bercerai akan runtuh'. 'Bersatulah, maka engkau akan kuat dan menang'. Kekuatan persatuan diumpamakan dengan sapu lidi. Sejumlah lidi akan menjadi sangat kuat manakala diikat, dan begitu pula sebaliknya. Akan sangat mudah putus, dan juga tidak ada gunanya manakala lidi itu dalam keadaan bercerai berai. Bahkan, falsafah bangsa ini juga menyebutkan betapa pentingnya persatuan, sehingga secara eksplisit disebut : 'Persatuan Indonesia'.
Ajaran tentang persatuan dan kebersamaan yang sedemikian fondamental itu ternyata belum berhasil mewarnai bangsa ini dalam kehidupan sehari-hari. Bangsa ini sangat mudah dipecah belah lewat berbagai alasan. Padahal umpama saja, persatuan dan kebersamaan itu berhasil dipupuk dan diimplementasikan, maka bangsa ini akan menjadi sangat kuat. Keadaan sebagian rakyat yang masih miskin seperti sekarang ini, salah satunya adalah merupakan akibat dari tidak adanya persatuan dan kebersamaan itu.
Lebih jelas lagi, sebagai misal, dalam kehidupan berekonomi, rakyat kecil mampu bersatu, maka kemiskinan itu bisa dihindari. Mereka sudah lemah tetapi masih ditambah lagi, ialah tidak mampu bersatu. Akhirnya menjadi semakin lemah. Hadirnya para pemodal besar dengan membuka usaha modern di mana-mana mengakibatkan rakyat kecil semakin tersisih. Munculnya toko-toko swalayan hingga di gang-gang kecil, menjadikan warung-warung atau toko-toko milik rakyat kecil gulung tikar. Hal yang sama juga dialami oleh para petani, peternak, nelayan dan seterusnya. Akibat tidak mampu bersatu dan bersama-sama, maka usaha rakyat kecil dengan mudah dihempas habis oleh pengusaha bermodal besar.
Umpama semangat bersatu dan bekerjasama berhasil dikembangkan, maka ekonomi rakyat kecil akan bisa ditumbuhkan. Misalnya saja, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka diidorong hanya akan membeli dan menjual di kooperasi yang didirikan bersama. Kebutuhan beras, daging, ikan, sayur mayur, buah, gula dicukupinya sendiri lewat kooperasi itu. Dengan cara itu, maka pengusaha bermodal besar justru tidak akan mampu bertahan. Namun sayangnya, mempersatukan rakyat itu yang tidak gampang. Mereka mudah dipecah belah, dan akhirnya menjadi kalah, atau semakin lemah. Oleh karena itu, usaha mensejahterakan rakyat kecil tidak cukup dilakukan dengan cara memberi modal dan ketrampilan, tetapi harus disadarkan tentang pentingnya bersatu dan menyelesaikan masalah secara bersama-sama. Islam mengajarkan berjama'ah. Wallahu a'lam



