Andaikan Pemimpinnya Mau, Indonesia Akan Menjadi Pusat Peradaban Islam
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 22 Mei 2014 . in Dosen . 2474 views

Indonesia selain kaya berbagai sumber daya alam, juga menjadi negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia. Jumlah penduduk yang besar itu tentu merupakan kekuatan luar biasa untuk membangun peradaban Islam, sebagai peradaban yang unggul. Hanya persoalannya adalah, mau dan mampukah umat Islam sendiri melakukan usaha-usaha untuk mewujudkan nilai-nilai mulia yang bersumberkan dari Tuhan, berupa kitab suci dan tauladan rasul-Nya. 

Untuk menjawab pertanyaan, yakni mau dan mampu itu ternyata tidak mudah. Diperlukan modal, misalnya umat Islam harus bersatu. Selain itu, umat Islam harus bersedia memahami Islam secara mendalam, lembaga pendidikannya harus diperbaiki kembali, ekonominya harus ditumbuhkan, dan demikian pula ajaran Islam harus merasuk pada sanubari umatnya. Pikiran, jiwa, dan hati kaum muslimin harus benar-benar mencerminkan isi ajaran Islam itu sendiri. 

Marilah kita evaluasi sejenenak untuk melihat kemungkinan apakah Islam bisa menjadi kenyataan yang sebenarnya di Indonesia. Umat Islam yang mayoritas di negeri ini ternyata tidak bersatu. Umat Islam terdiri atas kelompok-kelompok yang jumlahnya sedemikian banyak. Kita lihat saja partai politik yang mengaku sebagai partai yang memperjuangkan Islam. Mereka tidak bersatu dan lebih suka menjadi pengikut partai lain. Padahal umpama partai politik itu bersatu, Islam akan menjadi terasa dan tampak besar. Namun apa boleh buat, bersatu saja tidak bisa. Akibatnya mayoritas menjadi terasa minoritas. Lagi pula, seolah-olah persatuan bukan menjadi bagian dari ajaran Islam. 

Islam juga belum dipahami secara mendalam oleh umatnya. Islam baru sebatas dipahami dari aspek ritualnya. Hal itu bisa dilihat dengan jelas dari kajian Islam di kampus-kampus perguruan tinggi Islam, di madrasah-madrasah, dan bahkan di pondok- pondok pesantren. Di perguruan tinggi Islam selalu diperdebatkan hal-hal yang terkait dengan tauhid, fiqh, akhlak, tasawwuf, sejarah, dan semacamnya. Perdebatan itu tidak pernah berhenti, dan akhirnya Islam tidak dijalankan dalam kehidupanj sehari-hari, melainkan dijadikan bahan perdebatan belaka. 

Kajian Islam yang terbatas hanya dari perspektif ritual itu melahirkan kesan bahwa Islam hanya sebatas agama. Islam hanya dipahami sebatas kegiatan di masjid, seperti misalnya shalat, puasa, dan haji. Kementerian agama hanya dipahami sebagai lembaga yang mengurus persoalan di seputar pernikahan, masjid, madrasah dan lembaga pendidikan Islam. Institusi ini tampil manakala datang bulan puasa, pembangunan tempat ibadah, hari besar Islam, konflik antar agama, dan sejenisnya. Sebaliknya tatkala terdapat orang miskin, orang tidak berpendidikan, orang terbelakang, sarana dan prasarana sosial yang tidak mencukupi, dan sejensinya dianggapnya bukan berada pada wilayah Islam. Islam menjadi terkesan terbatas, yaitu hanya menyangkut urusan ritual. 

Begitu pula ekonomi umat Islam, keadaannya masih kalah jauh dibanding dengan umat lainnya. Tidak perlu jauh-jauh dan repot membuktikannya. Siapa yang punya toko-toko besar di berbagai kota di negeri ini. Mencari yang muslim kiranya sama sulitnya dengan mencari es di padang pasir. Belum lagi, pabrik-pabrik besar, perkebunan, pengusaha transportasi, penambang, dan lain-lain. Pemandangan sebaliknya, para buruh dan tenaga kasar dari usaha toko, dan perusahaan besar dan menengah itu biasanya diisi oleh orang-orang yang mengaku dirinya sebagai penganut agama Islam. Penganut agama Islam belum berhasil menjadi majikan, belum menjadi pemimpin atau khalifah, kaya ilmu, dan menjadi pencipta dalam berbagai lapangan kehidupan ini. Meraka baru berada di belakang, dan menempati posisi ditentukan, dan bukan yang menentukan. Ekonomi umat Islam belum bangkit. 

Membaca kenyataan selintas sebagaimana dikemukakan di muka, maka peluang menjadi kekuatan pembangkit dan pusat peradaban Islam, masih terasa sulit digambarkan. Namun demikian, hal itu tidak berarti tidak ada peluang, atau tidak ada kemungkinan. Peluang dan kemungkinan menjadi kekuatan unggul, dan sekaligus sebagai pengubah keadaan itu pasti ada, jika kita semua, dan apalagi para pemimpinnya memiliki kemauan. Saya melihat kemungkinan dan peluang itu, paling tidak, lewat pendidikannya. Pendidikan Islam harus diperbaiki, mulai dari madrasah hingga perguruan tingginya. Pendidikan Islam semestinya melahirkan orang-orang yang berpikiran besar, berjiwa besar, dan mampu berkarya besar sebagaimana para sahabat nabi, sebagai orang-orang yang dididik langsung oleh Rasulullah. Persoalannya sekarang ini adalah, bahwa pendidikan Islam masih terasa lemah. Lagi pula, sayangnya, para pemimpinnya belum banyak yang menyadari, dan belum tampak ada kemauan untuk bangkit, menunjukkan kehebatan Islam. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up