Berkorban Untuk Sesuatu Yang Amat Saya Cintai
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 14 Mei 2014 . in Dosen . 835 views

Selama ini saya sangat mencintai pendidikan Islam. Oleh karena itu, apapun yang harus saya lakukan untuk memajukannya, maka dengan sekuat tenaga, saya berusaha melakukannya. Demikian pula, sebesar apapun resiko yang harus saya tanggung, maka saya dengan ikhlas akan menanggungnya. Bagi saya, pendidikan Islam adalah yang terbaik. Pendidikan Islam bukan saja mendidik agar seseorang berhasil lulus ujian dan kemudian mendapatkan ijazah, melainkan jauh lebih mulia dari itu, ialah mengajak para siswa mengenal dan mendekatkan diri pada Tuhannya.

Siapapun yang mengenal dan apalagi dekat dengan Allah, maka hidupnya selalu diwanai oleh keimanan yang kokoh, akhlak yang mulia, kaya akan ilmu pengetahuan dan mereka selalu beramal shalah. Bagi saya, tujuan ini sangat indah dan mulia. Konsep pendidikan Islam adalah untuk melahirkan manusia ideal itu. Namun memang perlu diakui bahwa, pada tataran implementatif, pendidikan Islam belum seindah itu. Maka, itulah perlunya, umat Islam sendiri memperjuangkannya secara lebih sungguh-sunguh lagi, tanpa henti.

Saya mendapatkan inspirasi, dorongan, dan semangat memperjuangkan lembaga pendidikan Islam hingga sepanjang hidup saya, adalah dari ayah dan ibu saya sendiri. Sebagai kyai kecil-kecilan di tingkat kampung, ayah memiliki madrasah, masjid dan beberapa ruangan untuk bertempat tinggal para santri-santrinya yang belajar kepadanya. Dari ayah saya yang sangat sederhana itu, terkait dengan pendidikan Islam, saya memperoleh pengalaman yang tidak pernah bisa saya lupakan hingga usia tua ini. Pendidikan Islam, dalam keadaan apapun, menurut ayah, harus dikembangkan. Bahkan, harus ada perjuangan dan pengorbanan untuk pengembangan pendidikan Islam.

Terkait dengan keharusan berjuang dan sekaligus berkorban untuk pengembangan pendidikan Islam, saya pernah mendapatkan contoh kongkrit, ------lagi-lagi, dari ayah dan ibu saya sendiri. Peristiwa yang tidak pernah saya lupakan itu adalah, suatu ketika, ayah menjual sebagian tanahnya. Ternyata, uang hasil penjualan tanah itu adalah untuk menambah lokal gedung madrasah dan perbaikan masjid. Peristiwa itu adalah sangat sederhana, tetapi bagi saya, hal itu memiliki makna yang luar biasa besarnya. Apa yang dilakukan oleh ayah dan ibu saya sendiri itu selalu menginspirasi saya, bahwa saya di mana dan kapan saja harus berani berjuang dan berkorban untuk mengembangkan pendidikan Islam.

Selain itu, ayah dan ibu sebagai orang desa, yang hanya belajar di pesantren dan itupun mungkin tidak terlalu lama, tetapi ternyata ia sanggup berjuang dan berkorban untuk mengembangkan lembaga pendidikan Islam, sekalipun keadaannya sangat sederhana. Setiap mengingat peristiwa itu, saya menjadi malu, umpama saja saya tidak melakukan hal yang sama. Saya malu tatkala ayah dan ibu harus menjual tanah dan sapi untuk membangun madrasah dan masjid, sementara itu misalnya, saya sebagai orang yang berpendidikan tinggi, menjadi guru besar, bahkan pemimpin pendidikan tinggi Islam, ternyata membeli tanah dan sapi dari uang madrasah atau kampus yang saya peroleh dengan cara yang tidak benar.

Contoh konkrit yang saya peroleh dari kedua orang tua itulah sebenarnya, yang menjadikan saya bersemangat dan mencintai pendidikan Islam, hingga apa saja harus saya lakukan, dan bahkan resiko apapun saya terima, termasuk resiko yang pada akhir-akhir ini saya alami. Berjuang untuk mengembangkan pendidikan Islam, bagi saya, tidak boleh mengenal berhenti, takut kecapekan, menyerah, dan hanya takut resiko. Mencintai apapun selalu harus selalu dibarengi dengan kesediaan berkorban. Kerja maskimal itulah yang sebisa-bisa saya lakukan, sebagai pertanda kecintaan saya terhadap konsep pendidikan yang saya pahami dari kitab suci dan tauladan dari utusan-Nya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up