Di mana-mana orang sudah sedemikian bersemangat membangun masjid. Oleh karena itu mencari tempat ibadah sudah sedemikian mudah. Termasuk bagi orang yang sedang bepergian, dan mau menjalankan shalat pada waktunya, tidak akan mengalami kesulitan. Di kanan kiri jalan, pasti terdapat masjid atau mushalla. Siapapun boleh numpang shalat secara gratis. Bahkan, sejak beberapa tahun terakhir, banyak pom bensin saja, juga dilengkapi dengan mushalla.
Masjid, selain jumlahnya cukup banyak, di beberapa kota, juga berukuran besar dan tampak mewah. Bangunan masjid jauh lebih mewah dibanding dengan jenis bangunan lain. Hal demikian itu menunjukkan, semangat keberagamaan sudah sedemikian tinggi. Mereka membangun masjid dari hasil gotong royong atau swadaya masyarakat. Panitia pembangunan masjid mengumpulkan uang lewat donatur atau sumbangan seikhlasnya. Tapi anehnya, tidak pernah ada pembangunan masjid mangkrak atau tidak selesai.
Persoalannya adalah, ternyata banyak masjid yang sepi jama'ah. Tempat ibadah itu baru banyak dikunjungi jama'ah hanya pada waktu shalat jum'at. Pada saat shalat lima waktu, kecuali shalat maghrib, banyak yang sepi, dan apalagi pada shalat subuh. Pada shalat maghrib pun, sekalipun jumlah jama'ah banyak, juga tidak sampai memenuhi ruang yang tersedia. Keadaan seperti itu menunjukkan bahwa masyarakat baru menyenangi membangun masjid tetapi belum terlalu menyukai menjadi isinya.
Keadaan yang demikian itu sempat menjadi perhatian seorang wali kota. Dalam ceramahnya, ketika menyambut pada acara pengajian, ia mengungkapkan rasa keprihatinannya. Ia melihat masjid berukuran besar-besar, tetapi ternyata minus jama'ah, apalagi pada waktu shalat subuh. Dikatakan oleh wali kota dimaksud, bahwa sepinya masjid adalah problem yang tidak mudah diatasi. Ia menyebut, pada shalat subuh, masjid berukuran besar, jama'ahnya tidak genap satu baris. Tidak seimbang antara semangat membangun masjid dengan memanfaatkannya.
Pada kesempatan pengajian itu, saya sampaikan bahwa menggerakkan umat untuk rajin ke masjid memang sulit. Apalagi, cara menggerakkannya hanya melalui himbauan, seruan, atau perintah. Akan lebih berhasil manakala gerakan itu lewat contoh. Saya mengatakan, dahulu masjid Rasulullah di Madinah selalu dikunjungi oleh jama'ah, oleh karena, Baginda Rasul selalu shalat berjama'ah dan dilaksanakan di masjid. Rasul selalu memberi contoh atau uswah. Dalam hal kebaikan, rasul tidak sekedar berpidato atau berceramah, melainkan menjalankan kebaikan itu.
Atas kebaikan yang dilaksanakan oleh rasulullah itu, maka masyarakat menirunya. Maka, itulah sebabnya, rasulullah disebut sebagai uswatun hasanah. Penjelasan, ajakan, seruan, dan sejenisnya adalah tetap perlu, tetapi contoh atau ketauladanan jauh lebih penting. Tauladan selalu datang dari atas, dari pemimpin, atau pemuka masyarakat. Manakala orang-orang yang berposisi di atas, yaitu mereka yang dituakan, dianggap pemimpin, ditokohkan menjalankan kebaikan secara konsisten atau istiqomah, maka umat yang di bawah akan mengikutinya.
Tentang masjid yang sepi jama'ah kiranya tidak sulit dicari sebabnya. Di antaranya, oleh karena para pemimpin umat belum mampu meniru perilaku rasulullah, yaitu selalu shalat lima waktu dengan berjama'ah dan dilaksanakan di masjid. Manakala ada masjid tingkat RT, RW, kelurahan, kecamatan sepi jama'ah, maka mungkin saja hal itu disebabkan para pejabat formalnya belum mau menjalankan shalat berjama'ah di masjid secara istiqomah. Ketua RT, RW, Lurah, Camat sudah membangun masjid tetapi belum mau menjadi isinya. Demikian pula jika hal itu diteruskan ke pejabat level atasnya, seperti bupati, walikota, gubernur dan bahkan atasnya lagi.
Semua pemimpin pasti menghendaki orang-orang yang dipimpinnya menjadi semakin baik. Kebaikan itu tidak akan terjadi manakala tidak diberi contoh. Termasuk mengisi masjid pun juga harus lewat contoh. Manakala wali kota ingin masjid-masjid di kotanya ramai jama'ah, maka seharusnya ia setiap waktu shalat juga shalat berjama'ah di masjid. Manakala hal itu tidak dilakukan, maka sama halnya memberi pembenaran bahwa yang terpenting adalah membangun masjid dan bukan mengisinya. Maka akibatnya, banyak masjid besar dan indah tetapi sepi jama'ah. Karena pemimpinnya belum sepenuhnya mampu memberi contoh terhadap apa yang diinginkannya sendiri, maka masjid pun sepi jama'ah. Wallahu a'lam.



