Politik itu tetap politik. Politik tidak mengenal imbal balik, rasa sungkan, balas budi, kekeluargaan, dan sejenisnya itu. Nilai-nilai itu tidak selalu ada dalam berpolitik. Politik adalah kegiatan mencari kekuasaan, menggunakan kekuasaan, dan mempertahankan kekuasaan yang telah diperoleh. Dalam semua kegiatan itu, orang melakukan persaingan, dengan siapapun dan bahkan juga dengan cara apapun. Sebab semua orang, ternyata menyukai kekuasaan.
Kadang-kadang kita lihat perebutan itu hingga menjadi sangat aneh. Persaingan dalam mendapatkan kekuasaan bukan di antara orang yang berjarak jauh, misalnya antar bangsa, antar suku, antar wilayah, antar kelompok agama, dan lain-lain, tetapi ternyata juga dengan orang dekat, dan bahkan dekat sekali. Persaingan untuk mendapatkan kekuasaan ternyata bisa dengan siapapun yang sama-sama bernafsu untuk memperoleh itu.
Sejak diberlakukan pilihan kepala daerah secara langung di negeri ini, tidak jarang terlihat persaingan antar orang dalam mencari kekuasaan itu sedemikian dekat, misalnya antar saudara, antar tetangga, antar teman, antar isteri (bagi yang poligami), dan bahkan antar suami dan isteri. Aneh sekali, ada pemilihan kepala desa di suatu tempat, ternyata persaingan itu terjadi antara suami dan isterinya. Dengan demikian, persaingan dalam berpolitik rupanya menjadi sama halnya dalam bersaing mendapatkan harta dan atau yang semacamnya itu.
Kenyataan tentang adanya persaingan untuk berebut kekuasaan di antara orang-orang yang memiliki hubungan dekat adalah bukan merupakan hal aneh, atau bukan kejadian di alam demokrasi saja. Cerita dalam pewayangan dan juga kehidupan kerajaan-kerajaan di zaman dahulu, ternyata adanya saling berebut tahta adalah hal biasa. Bisa saja ayahnya sendiri, kakaknya, atau keluarga dekat diusir dan bahkan dibunuh untuk diambil kekuasaannya. Kisah tentang hal yang demikian itu tidak sulit dicari dalam sejarah politik dan terjadi kapan dan di mana saja.
Politik rupanya tidak mengenal imbal balik. Politik selalu diperebutkan. Pada zaman dahulu, perebutan itu dilakukan dengan cara beradu kuat, ketangguhan, dan beradu kedigdayaan. Siapapun yang tangguh dalam berperang, atau secara fisik dan mental mampu mengalahkan, maka dia itulah yang akan berhak menduduki kekuasaan. Namun lazim, kedigdayaan itu tidak berlaku permanen. Suatu saat ada pesaing baru yang mampu mengalahkannya. Tatkala hal itu terjadi, maka kekuasaan akan berpindah kepada orang yang berhasil mengalahkannya itu.
Di zaman modern dan berdemokrasi seperti sekarang ini, persaingan dalam berpolitik itu masih tetap terjadi. Hanya saja, manusia modern telah berhasil menciptakan permainan dalam perebutan kekuasaan itu. Di alam berdemokrasi, orang tidak diadu secara fisik, atau dari aspek ilmu pengetahuan yang dimiliki, atau dicari yang paling kuat dari aspek lainnya, melainkan dipilih oleh rakyat. Siapapun yang dipilih oleh rakyat, maka dia itulah yang diangkat sebagai pemimpin, atau sebagai penguasa dalam berpolitik.
Mengikuti sistem berdemokrasi, maka siapapun bisa mengajukan dirinya untuk dipilih oleh rakyat. Sebagaimana disebutkan di muka, persaingan itu bersifat terbuka. Siapapun boleh ikut, asalkan mau dan merasa mampu, serta memenuhi ketentuan yang berlaku. Pada saat sekarang ini misalnya, seorang calon pemimpin atau presiden harus diusung oleh partai politik dengan syarat-syarat tertentu. Manakala persyaratan itu tidak memenuhi, maka partai politik saling bekerjasama atau berkoalisi untuk sama-sama merebut kekuasaan itu.
Sekali lagi bahwa, politik adalah perebutan, yakni perebuan kekuasaan. Perebutan itu bisa jadi dengan siapa saja. Dalam politik ternyata, kawan dan lawan tidak pernah permanen. Sebelumnya, beberapa orang berposisi menjadi teman, tetapi kemudian menjadi lawan atau pesaing, dan begitu pula sebaliknya. Juga hal itu tidak aneh dalam berkoalisi. Di tingkat pusat beberapa partai politik sama-sama berkoalisi, tetapi di level lebih rendah menjadi pesaing. Dalam berebut kekuasaan, idiologi tidak menjadi halangan untuk berteman dan atau sebaliknya, saling besaing.
Dalam berpolitik yang terpenting adalah memperoleh kekuasaan. Jika masih ada yang tidak percaya, maka lihatlah sendiri. Partai politik yang sebelumnya berkoalisi ternyata pada saat kemudian bersaing berat. Demikian pula, orang-orang atau personal yang dahulu mendukung, mengkader, atau mempromosikan ternyata berbalik, berubah menjadi kompetitornya. Itulah politik, atau perebutan kekuasaan. Maka mungkin saja, Pak Jokowi dan Pak Prabowo, dulu berteman dalam pemenangan pemilihan gubernur DKI Jakarta, tetapi sekarang keduanya bersaing, sama-sama memperebutkan kursi prsiden. Hal itu, tentu tidak aneh, dunia politik memang begitu, tidak ada yang namanya balas budi atau imbal balik. Politik ya politik. Wallahu a'lam.



