Janganlah Pendidikan Hanya Melahirkan Pengangguran dan Memenuhi Gedung Penjara
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 2 Mei 2014 . in Dosen . 827 views

Hal yang sangat memprihatinkan kita semua pada akhir-akhir ini, bahwa setelah dilakukan gerakan pemberantasan korupsi, ternyata para pelakunya terdapat orang-orang terdidik dan mereka itu telah menempati posisi-posisi penting, baik di lembaga eksekutif, legislative, maupun yudikatif. Maka artinya, lembaga pendidikan yang selama ini dipercaya mampu melahirkan orang-orang cerdas dan sekaligus bekarakter unggul ternyata belum sepenuhnya tercapai. Mereka yang tertangkap melakukan korupsi itu, adalah orang-orang terdidik dan bahkan hingga strata yang cukup tinggi.

Dalam memperingati hari pendidikan tanggal, 2 Mei 2014, pada hari ini, kiranya perlu sejenak berpikir secara mendalam tentang pendidikan yang diselenggarakan selama ini. Pendidikan merupakan wahana untuk menjadikan bangsa ini unggul, baik dari aspek moralnya, intelektualnya, maupun profesionalitasnya. Tatkala seseorang bermoral tinggi kiranya yang bersangkutan mampu menjaga dirinya dari perbuatan yang merusak dan merugikan siapapun.

Begitu pula bagi orang yang berintektual dan berprofesional tinggi seharusnya mampu memenuhi kebutuhan hidup bagi dirinya sendiri dan bahkan orang lain. Memang usaha yang dilakukan oleh pemerintah dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan sudah sedemikian nyata. Hasilnya juga sudah luar biasa, tetapi kiranya masih perlu perbaikan secara terus menerus.

Selama ini banyak orang mengatakan bahwa keadaan masyarakat sangat tergantung pada kualitas pendidikannya. Masyarakat menjadi sulit maju oleh karena pendidikannya tidak maju. Bangsa Indonesia dalam hal-hal tertentu sudah maju. Namun ternyata masih menghadapi persoalan mendasar, yaitu masih banyak pemimpin, tokoh, pemuka masyarakat yang gemar melakukan penyimpangan, korupsi misalnya. Jumlahnya cukup banyak dan berada di berbagai level kelembagaan, baik pemerintah maupun swasta. Secara jujur, harus diakui, bahwa orang yang gemar menyimpang itu adalah lulusan pendidikan yang diselenggarakn oleh bangsa ini juga.

Jumlah mereka yang menyimpang bahkan hingga diadili dan masuk penjara ternyata tidak sedikit, yaitu di hampir seluruh lembaga yang ada, -------tanpa terkecuali, baik di lembaga eksekutif, legislative, maupun di yudikatif. Manakala diteliti secara lebih mendalam lagi, orang yang tertangkap KPK atau kejaksanaan mulai dari tingkat pusat hingga ke daerah, mulai dari oknum kepala desa, camat, bupati, wali kota, gubernur, anggota DPR, DPRD, polisi, kejaksaan, kehakiman, pejabat perbankan, pengusaha, menteri, dan bahkan juga pengawas keuangan Negara. Maka artinya, penyimpangan atau korupsi itu dilakukan oleh semua kalangan tanpa terkecuali.

Manakala disebutkan bahwa pendidikan selalu berpengaruh terhadap watak, perilaku, dan karakter lulusannya, maka suka atau tidak suka, pendidikan kita belum sepenuhnya berhasil melahirkan orang yang berkarakter atau berakhlak mulia. Pendidikan kita masih menghasilkan orang-orang yang sedemikian mudah melakukan penyimpangan. Jika disebutkan bahwa pendidikan akan melahirkan orang cerdas dan juga berkharakter mulia, maka tujuan itu belum sepenuhnya berhasil diwujudkan. Mungkin saja, mereka sudah menjadi cerdas, tetapi senyatanya masih banyak yang hanya berhasil memenuhi gedung-gedung penjara.

Umpama benar bahwa, mereka yang masuk penjara itu disebabkan oleh faktor pendidikan yang kurang berkualitas, maka seharusnya bangsa ini berani untuk melakukan evaluasi secara mendasar dan menyeluruh tentang pelaksanaan pendidikan yang selama ini dijalankan. Pendidikan bukan sebatas mengisi otak anak-anak dengan berbagai informasi atau bahan pelajaran yang dikemas dalam bentuk kurikulum, melainkan yang justru lebih penting adalah memberikan pelatihan, pembiasaan, ketauladanan, percaya diri, rasaa tanggung jawab, dan menumbuhkan keingin menjadi manusia terbaik.

Untuk membangun manusia ideal seperti itu, sebagai bangsa yang religious, atau mempercayai adanya Tuhan dan utusan-Nya, maka apa salahnya mencari petunjuk dari ajaran agama, tentang bagaimana membentuk manusia unggul atau utama itu. Dalam Islam diajarkan bahwa menjadikan orang berkualitas unggul, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi, adalah melalui empat tahap, yaitu membing untuk melakukan thilawah, tazkiyah, taklimul kitab, dan hikmah. Sebagai bagian dari kegiatan thilawah itu adalah mengajak para terdidik untuk membaca alam semesta. Mempelajari fisika, kimia, biologi, sosiologi, sejarah, bahasa, dan lain-lain maka artinya adalah melakukan thilawah itu.

Akan tetapi, berthilawah harus dilakukan secara benar, yaitu setidaknya memulainya dengan menyebut asma Allah atau bismirabbika. Penyebutan asma Allah seharusnya dimaknai secara luas, bahwa di dalam mempelajari alam harus diniatkan untuk mengenal keberadaan, kebesaran, dan kemaha sucian Allah. Akhir daripada kegiatan itu seharusnya membuahkan keyakinan bertauhid. Bahwa di dalam kitab suci, manusia diperintahkan untuk mempelajari dan memikirkan ciptaan Allah yang sedemikian besar, luas, indah, dan bahkan tidak terbatas.

Selanjutnya, pendidikan menurut yang dicontohkan oleh Rasulullah, adalah melakukan pensucian diri, atau tazkiyatun nafs. Proses pendidikan setelah ber-thilawah diikuti dengan upaya pensucian hati, pikiran, dan juga jasmani. Lebih lanjut, para terdidik juga diperkenalkan dengan kitab suci dan bahkan diperkenalkan dengan nilai-nilai hikmah atau kearifan. Maka, wilayah pendidikan yang dicontohkan oleh Nabi sedemikianh sempurna. Dalam proses mendidik, nabi tidak saja mengajak memperhatikan alam, melainkan juga bentuk-bentuk kegiatan lain, hingga menyetuh semua aspek, baik aspek lahir maupun batin.

Oleh karena itu, ketika hasil pendidikan dirasa belum memuaskan dan dianggap jauh dari sempurna, maka sebenarnya penyebabnya adalah amat jelas. Ketidak sempurnaan hasil pendidikan itu adalah sebagai akibat dari semua proses yang seharusnya dilalui, ternyata belum mendapatkan perhatian sepenuhnya, dan baru dijalani dari sebagian kecil saja. Pendidikan Islam -----sebagaimana dicontohkan oleh Nabi, sedemikian sempurna, yaitu meliputi thilawah, tazkiyah, taklim, dan hikmah. Manakala semua proses itu dilalui, maka hasil pendidikan tidak hanya akan melahirkan pengangguran dan memenuhi gedung-gedung penjara. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up