Mahasiswa : Mengapa Masih Harus Tawuran
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 27 Mei 2014 . in Dosen . 3004 views

Tawuran memang biasa terjadi, tetapi bukan di kalangan mahasiswa. Tawuran biasanya dilkukan oleh para supporter pertandingan olah raga. Akibat tidak puas dari keputusan wasit, jago yang diunggulkan kalah, atau sorak sorai saling merendahkan, dan semacamnya, maka kejadian itu biasanya menyulut tawuran. Emosi yang sama-sama memuncak mengakibatkan bentrok. Tetapi aneh, tatkala tawuran dilakukan oleh para mahasiswa.

Peristiwa tawuran antar mahasiswa beberapa hari terakhir ini, terasa sulit dipahami. Mengapa mahasiswa masih harus tawuran. Seharusnya mereka berbeda dibanding bukan mahasiswa di dalam menyelesaikan masalah. Mahasiswa seharusnya memiliki cara berpikir obyektif, rasional, dan lebih dewasa. Maka menjadi aneh tatkala terdapat mahasiswa yang berperilaku layaknya orang yang tidak tersentuh pendidikan.

Kalau pun mahasiswa harus tawur, maka bentuk tawuran itu bukan menggunakan kekuatan fisik, melainkan akalnya. Kekuatan fisik hanya pantas digunakan oleh orang yang tidak berpendidikan. Mereka itu memang tidak terbiasa berpikir rasional dan obyektif. Sehingga yang digunakan adalah kekuatan fisiknya. Sebaliknya, adalah mahasiswa. Kekuatan fisiknya harus diganti dengan kekuatan nalarnya. Tawuran dengan kekuatan nalar dilakukan dengan bentuk berdebat, berdiskusi, dan sejenisnya secara teratur.

Selain itu, manakala mahasiswa harus tawuran, maka kapan mereka mengerjakan tugas-tugas penelitian, membaca buku, menulis artikel, kerja di laboratorium, dan sejenisnya. Biasanya untuk mengerjakan tugas-tugas itu, mahasiswa perlu bekerjasama. Sehingga, teman dianggap sebagai kekayaan. Tanpa teman, maka akan sulit melakukan kerjasama untuk menyelesaikan tugas-tugas yang banyak dan berat. Dengan demikian, teman semestinya dicari untuk diajak kerja bareng, dan bukan sebaliknya, diajak bentrok.

Siapapun yang terlibat tawuran, baik yang menang maupun yang kalah, dinilai sama, yaitu sama-sama jeleknya. Mereka dianggap masih berbudaya rendah, belum mampu menggunakan nalar, dan juga belum dewasa. Para mahasiswa seharusnya mampu menangkap betapa tinggi dan mulia penilaian masyarakat terhadap orang yang sehari-hari bergelut dengan ilmu pengetahuan. Masyarakat luas, apalagi mereka yang hidup di perkotaan, memposisikan mahasiswa sebagai komunitas yang terhormat dan mampu menghormati orang lain termasuk dirinya sendiri.

Oleh karena itu, menggunakan logika apapun kiranya tidak akan ketemu untuk membenarkan terhadap mahasiswa yang masih mau tawuran. Mahasiswa adalah manusia pilihan yang selalu mengedepankan akal dibanding emosi. Atas kelebihannya itu, mahasiswa seharusnya mampu menyelesaikan persoalan dengan akal sehat dan hati nurani. Manakala anggapan masyarakat itu meleset, maka mereka akan kecewa. Masyarakat akan menjadi tidak percaya lagi kepada mahasiswa, kepada dosen, dan bahkan kepada kualitas ilmu yang dipelajari. Resiko beratnya lagi, habislah kepercayaan orang terhadap perguruan tinggi di mana mahasiswa itu belajar. Mudah-mudahan akibat buruk itu tidak terjadi. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up