Memberi Nasehat Agar Sabar Dan Tabah
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 9 Mei 2014 . in Dosen . 1406 views

Sejak kemarin sore, hari Kamis, tanggal 8 April 2014, saya mendapatkan ungkapan rasa sedih dan prihatin dari banyak kalangan atas penetapan diri saya sebagai orang yang telah melakukan kesalahan dalam pembelian tanah kampus UIN Malang di Junrejo Batu. Mereka itu berasal dari teman, mahasiswa, alumni, para dosen, dan lain-lain. Saya sendiri pada waktu itu sedang di Bandung, memenuhi undangan Irjen Kementerian agama agar ikut berceramah di hadapan para pejabat di lingkungan Kementerian Agama provinsi Jawa Barat.

Saya memperoleh informasi yang kurang menyenangkan itu dari teman-teman wartawan yang menginkan untuk memperoleh komentar atas keputusan kejaksaan dimaksud. Sudah barang tentu, saya merasa sangat terkejut, sebab selama ini, saya sama sekali tidak merasa melakukan kesalahan, misalnya melakukan korupsi. Saya sangat mencintai perguruan tinggi Islam. Atas dasar kecintaan itu, maka seakan-akan hidup dan atau umur yang saya miliki, saya wakafkan untuk pengembangan UIN Malang.

Selama 16 tahun, saya memimpin kampus itu, dan menurut penilaian banyak orang disebut maju. Sudah barang tentu, kemajuan itu terjadi, oleh karena semua warga kampus, ------tidak terkecuali, sangat mencintai perguruan itu, hingga melahirkan jiwa perjuangan dan pengorbanan yang tinggi secara bersama-sama. Saya rasakan bahwa selama ini, teman-teman warga kampus lebih banyak hidup prihatin daripada menikmati hasil sebagai jerih payahnya. Saya memang selalu mengajak kepada mereka, agar bekerja keras, tulus, dan rela berkorban demi mewujudkan cita-cita bersama. Ajakan saya itu ternyata direspon dengan baik, sehingga hasilnya berupa kemajuan bisa dilihat itu.

Namun, saya sendiri, sampai hari ini belum tahu jenis kesalahan yang dianggap telah saya lakukan itu. Selama ini, saya belum pernah berpikir akan memperoleh kekayaan apa dari kampus, yang bersifat materi atau kebendaan. Dari bekerja dan berusaha keras itu, saya hanya ingin melihat ada perguruan tinggi Islm yang maju, berkembang, unggul, dan dapat dibanggakan oleh bangsa Indonesia secara keseluruhan. Selama ini, saya sedih melihat keadaan institusi yang berlabel Islam kurang membanggakan. Atas dasar kenyataan itu, saya mencoba mengajak teman-teman berpikir, membangun jiwa besar, dan bekerja keras untuk mewujudkan lembaga pendidikan Islam yang diinginkan itu.

Oleh karena itu, ketika beberapa bulan terakhir muncul informasi terkait pengadaan tanah yang kurang mengenakkan, maka perasaan saya pasti sedih dan merasa menderita. Pertanyaan saya adalah, apakah memang begitu keadaannya. Selama ini, saya memang kurang mempedulikan terhadap informasi negatif itu. Saya selalu berpandangan bahwa, dalam pengadaan tanah calon kampus UIN di Batu harus ditangani dengan kerja keras, sungguh-sungguh, dan tidak mudah menyerah, apalagi waktunya terbatas. Tanah yang terbeli hampir seluas 100 ha, semula dimiliki oleh lebih dari 450 orang. Bisa dibayangkan, alangkah beratnya bernegosiasi dengan orang sebanyak itu. Belum lagi bahwa untuk menyelesaikan administrasi jual beli itu, hingga tanah itu secara resmi menjadi milik UIN Malang, tidaklah sederhana.

Menyadari bahwa untuk membangun kampus itu pasti memerlukan anggaran besar, sedangkan sementara itu, pemerintah dalam keadaan terbatas, maka saya sudah mencoba untuk mengajukan bantuan ke beberapa pengusaha di Riyad. Hasilmnya sangat positif, sudah dua kali gambar bangunan menyeluruh, saya presentasikan di hadapan para pengusaha di negara muslim itu. Mereka tertarik, dan sebenarnya menyanggupi akan membantu menyelesaikan pembangunannya, sekalipun anggaran yang saya ajukan cukup besar, yaitu sekitar Rp. 1.650.000.000.000,- (satu trilyun enam ratus lima puluh milyard). Bagi mereka angka ini tidak terlalu besar, sebab mereka pernah beberapa kali membantu pembangunan kampus di negara-negara Islam, termasuk Universitas Al Ahar.

Itulah sebabnya, tatkala muncul isu adanya kekeliruan dalam pembelian tanah dimaksud, saya tidak terlalu hirau, oleh karena hal itu saya anggap sebagai persoalan yang tidak terlalu besar. Namun sebaliknya, bahwa ternyata, oleh beberapa pihak dianggap besar dan serius. Di situ kira-kira letak kesalahan saya yang dianggap fatal. Memang sebaiknya, sekecil apapun kesalahan itu harus dihindari. Pandangan tersebut saya pegangi, oleh karena selama ini, banyak anggaran yang saya peroleh dari bantuan para pengusaha di Timur Tengah. Misalnya untuk pembelian buku-buku berbahasa Arab yang jumlahnya amat banyak, pengadaan dua masjid di kampus, termasuk tiga masjid kampung dengan ukuran cukup besar yang berada sekitar calon kampus UIN di Batu.

Namun demikian, bahwa upaya-upaya pencarian kebenaran terhadap proses pengadaan tanah kampus UIN Malang di Batu, saya menyetujuinya, agar tidak akan ada kesalahan sekecil pun di kemudian hari. Adapun yang saya harapkan adalah, agar semua hal yang terkait dengan proyek pengadaan tanah itu tidak ada yang dikorbankan. Jangan sampai ingin menertibkan pagar kecil, tetapi justru harta yang lebih besar menjadi hilang. Demikian pula, saya khawatir banyak orang yang sudah sedemikian besar jasanya pada pengembangan kampus ini terkorbankan, baik nama dan kehormatannya. Saya berharap semuanya berakhir dengan baik, semua menjadi gembira dan kampus yang dicita-citakan, ialah menjadi perguruan tinggi Islam terbaik berhasil diwujudkan. Menghadapi kenyataan yang menyedihkan itu, sejak kemarin sore, saya mendapatkan banyak sekali ucapan sedih, rasa prihatin, dan juga menasehati saya, agar sabar dan tawakkal. Saya pun yakin dan terima kasih, nasehat itu amat penting dan akan menjadi kunci dari semua keberhasilan hidup, termasuk pengembangan UIN Malang. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up