Memperjuangkan Cita-Cita Itu Tidak Mudah
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 21 Mei 2014 . in Dosen . 2515 views

Sejak kecil, cita-cita saya itu sederhana saja, yaitu ingin ikut memperbaiki pendidikan Islam. Kebetulan saja setelah lulus menjadi sarjana, saya berkesempatan bekerja di lembaga pendidikan yang berbasis agama itu. Tentu kesempatan itu tidak saya sia-siakan. Saya bertekad bekerja maksimal dan sebaik-baiknya. Saya bercita-cita, di usia senja nanti berkeinginan melihat apa yang telah saya lakukan sebagai bagian dari perjuangan itu. 

Setelah kurang lebih 35 tahun ikut memimpin perguruan tinggi, apa yang saya cita-citakan belum sepenuhnya berhasil, tetapi saya bersyukur, sedikit banyak, usaha itu sudah saya lihat hasilnya. Setiap melewati depan kampus Universitas Muhammadiyah Malang, saya merasakan kebahagaan. Entah orang mengetahui atau tidak, saya pernah ikut memimpin kampus itu. Saya pernah bekerja siang malam, tanpa mengenal lelah mewujudkan cita-cita membangun perguruan tinggi Islam itu. 

Selesai ikut memimpin UMM, saya ditugasi oleh menteri agama memimpin STAIN Malang. Tugas itu saya tunaikan sebaik-baiknya hingga selama 16 tahun lamanya. Dari kampus berbentuk sekolah tinggi hingga berubah menjadi UIIS, dan akhirnya menjadi UIN Malang seperti yang terlihat sekarang ini. Saya senang dan bersyukur, cita-cita ikut mengembangkan lembaga pendidikan Islam bisa saya jalani, sekalipun hasilnya, saya rasakan belum terlalu maksimal. 

Setelah melewati waktu 36 tahun ikut memimpin pengembangan perguruan tinggi Islam, saya rasakan amanah itu ternyata memang tidak mudah ditunaikan, terlalu banyak pekerjaan berat yang dikjalani dan juga resiko yang harus dihadapi. Mungkin kalau kepemimpinan itu dijalankan biasa-biasa saja, yaitu tidak terlalu berharap melakukan perubahan, bahwa yang terpenting program-programnya berjalan, dan seterusnya, maka beban dan resiko itu tidak akan ditemui. Semua akan selamat, namun hasilnya hanya akan tampak biasa-biasa saja. 

Sayangnya saya tidak memiliki jiwa menyerah pada keadaan seperti yang saya gambarkan tersebut. Saya selalu berkeinginan agar bisa merubah apa yang ada di depan saya menjadi lebih baik, lebih berkualitas, lebih sesuai dengan imajinasi ideal yang saya miliki. Kalau sesuatu bisa dirubah menjadi ideal, maka kenapa tidak segera dilakukan, sekalipun melakukannya pasti ada resiko. Pikiran sederhana ini selalu berkecamuk di akal dan hati saya. Saya harus melakukan perubahan, apapun cara dan jalan yang harus saya lalui, sepanjang tidak menyimpang dari aturan yang ada. 

Sebagaimana yang saya bayangkan, resiko memperjuangkan cita-cita itu memang selalu saya temui dan berat. Menyadari hal itu, maka untuk membangkitkan semangat teman-teman, saya selalu mengatakan bahwa berjuang itu berat, beresiko, dan masih harus diikuti oleh kesediaan berkorban. Berjuang dan berkorban harus diposikan bagaikan sekeping mata uang. Kedua belah mata uang selalu berbeda, tetapi harus menyatu. Berjuang harus diikuti oleh pengorbanan, dan berkorban hanya untuk perjuangan. Memang, ada saja orang yang mengaku-aku berjuang, tetapi tidak mau berkorban. Orang demikian itu sebenarnya bukan pejuang, melainkan sekedar menjadi broker. Bahkan ada juga orang yang mengaku berjuang, tetapi sebenarnya hanya membuat kerusakan belaka, sebagai akibat kelemahannya. Sebagaimana lazimnya, orang lemah tidak pernah tahu tentang letak kelemahannya. 

Sebagai contoh beberapa resiko yang pernah saya haapi adalah sebagai berikut : Pertama, dua kali saya didatangi oleh mahasiswa ke rumah dengan membawa pedang. Mungkin saja pedang itu tidak diniatkan untuk membunuh saya, tetapi sekedar untuk menakut-nakuti agar saya mau mengambil keputusan sebagaimana yang mereka maui. Pada waktu itu, sekalipun harus mati, saya tidak mau mengikuti kehendaknya. Saya menjelaskan baik-baik, hingga mereka mengerti. Kedua, saya pernah dimarahi oleh pejabat kementerian agama, hanya karena mendesak terus, dengan berbagai cara, agar mereka mau mengubah status STAIN menjadi UIN. Apa yang saya lakukan ketika itu dianggap mengganggu ketenangannya. Tatkala pejabat level bawah menolak, saya berusaha menemui pejabat level atasnya, dan demikian seterusnya. Strategi itu menjadikan mereka marah dan menghukum saya dengan memberikan nilai DP3 serendah-rendahnya. 

Ketiga, tatkala dimarahi oleh pejabat, saya pernah nekat menyatakan diri, yaitu umpama ada pilihan dan saya harus memilih salah satu, antara saya dibunuh dan atau usulan perubahan menjadi UIN dipenuhi, -------di hadapan pejabat dimaksud, saya memilih dibunuh dengan catatan usulan saya dipenuhi. Saya lebih mencintai UIN daripada kepentingan diri saya sendiri. Ketika itu, saya membayangkan bahwa, manakala perguruan tinggi Islam ini berhasil mengembangkan berbagai ilmu dan teknologi yang berbasis al Qur'an, maka akan menjadi pintu kemajuan umat, dan sekaligus akan menjadi contoh ideal lembaga pendidikan tinggi Islam di mana saja. 

Keempat, resiko itupun ternyata belum berhenti hingga saya mengakhiri memimpin kampus yang selama ini saya kembangkan. Saya dilaporkan ke kejaksaan, dituduh korupsi. Tuduhan itu tentu sangat menyakitkan, tetapi itu adalah resiko bagi siapapun, termasuk bagi saya, yang berjuang melakukan perubahan cepat. Berbagai resiko itu tentu saya terima apa adanya. Atas tuduhan itu, maka sementara orang mengatakan bahwa nama saya akan jatuh, pristise, kehormatan, dan harga diri saya hilang. Tentu, saya tidak mempedulikan itu semua. Semua itu adalah resiko dari memperjuangkan cita-cita yang saya yakini baik dan mulia. Dalam memperjuangkan sesuatu, saya tidak ingin memperoleh penilaian dari siapapun, kecuali semuanya saya niati : lillah ta'ala, sebagai bagian dari upaya memperjuangkan pendidikan Islam. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up