Mengajar Bukan Sebatas Menjadikan Otak Siswa Sebagai Alat Perekam
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 6 Mei 2014 . in Dosen . 1767 views

Tidak sedikit guru dalam mengajar hanya berpedoman kepada kurikulum dan bahan ajar yang dipegangi secara kaku dan tidak berani keluar dari pedoman yang digariskan. Dalam memberikan pelajaran, guru juga hanya sebatas menyampaikan bahan pelajaran sebagaimana yang tertuang dalam buku pedoman. Bagi mereka itu, sebagai pegawai, bahwa yang terpenting adalah bahwa tugasnya sudah dijalankan, murid sudah mengikuti dan mendengarkan, selanjutnya diharapkan pada saatnya nanti, mereka bisa menjawab soal-soal ujian, baik ujian sekolah maupun ujian nasional.

Gambaran tentang apa yang dijalankan oleh guru dimaksudkan itu tidak lepas dari tuntutan birokrasi pendidikan yang selama ini digariskan. Para guru dianggap berhasil manakala target-target bahan pelajaran yang seharusnya disampaikan kepara para muridnya sudah ditunaikan. Lebih dari itu, guru dianggap berhasil ketika para siswa yang diajar mampu menjawab soal-soal yang diujikan. Tentang bagaimana para siswa berhasil mengembangkan imajinasi, berkreasi, dan seterusnya, seakan-akan bukan lagi menjadi tugas para guru. Seolah-olah guru tidak dituntut untuk mengembangkan kreatifitas para siswanya.

Manakala apa yang digambarkan tersebut itu benar, maka pertanyaan mendasar yang perlu direnungkan adalah, apa bedanya antara otak para siswa dengan alat perekam. Padahal otak siswa dalam pendidikan dan pengajaran seharusnya bukan sebatas dijadikan alat perekam. Demikian pula sekolah bukan sebatas sebagai studio rekaman. Di studio rekaman terdapat kaset-kaset kosong atau CD yang siap digunakan untuk mengcopy apa saja yang dimaui oleh pemiliknya. Sedangkan sekolah bukan sebatas itu. Melalui pendidikan dan pengajaran diharapkan para siswa memiliki pengetahuan dan kemudian mengolahnya hingga membentuk kepribadian, serta lebih lanjut memfungsikannya.

Atas dasar pandangan tersebut, maka pada waktu pengajaran berlangsung para siswa di kelas tidak boleh pasif, diam, atau sebatas mendengarkan sebagaimana kaset-kaset atau CD yang digunakan untuk merekam itu. Para siswa harus diaktifkan. Mengajar seharusnya dimaknai sebagai upaya mengaktifkan, menggerakkan, atau melatih pikiran para siswa. Oleh karena itu maka, cara mengajar yang lebih utama adalah memberi tantangan kepada mereka yang sedang diajar. Tantangan itulah sebenarnya yang akan mengaktifkan daya pikir, nalar, imajinasi dan kreatifitas. Siswa dianggap sukses dalam mengikuti pelajaran bukan sebatas mengenal dan bahkan hafal isi pelajaran, tetapi lebih dari itu adalah mampu memahami, dan bahkan semakin menyenangi pelajaran yang telah diberikan oleh gurunya.

Para siswa juga harus mengetahui, mengapa pelajaran itu harus dimengerti dan dikuasai. Pertanyaan mendasar, mengapa para siswa harus pandai matematika, biologi, fisika, astronomi, psikologi, sejarah dan seterusnya harus dijelaskan oleh guru. Kesadaran betapa pentingnya pelajaran itu sebagai bekal kehidupan kelak harus diketahui dan bahkan dihayati oleh para siswa. Bagi siswa madrasah misalnya, mereka harus mengetahui kegunaan belajar fisika, biologi, kimia, matematika, astronomi, sosiologi, psikologi, dan lain-lain. Para siswa madrasah harus mengerti bahwa sebagai manusia atau umat muslim diperintahkan oleh Tuhan melalui kitab suci-Nya, agar selalu memikirkan dan merenungkan penciptaan langit, bumi, dan segala isinya.

Pengetahuan tentang penciptaan langit dan bumi serta segala isinya itu dalam dunia ilmu pengetahuan terangkum di dalam pelajaran fisika, kimia, biologi, astronomi, sosiologi, psikologi, sejarah, bahasa dan sastra, dan lain-lain. Oleh karena itu, belajar semua mata pelajaran tersebut sama artinya dengan memenuhi perintah Tuhan yang disampaikan melalui kitab suci-Nya, yaitu al Qur'an dan hadits nabi. Selain itu, manusia sebagai orang yang berakal dan memiliki hati atau qolb, harus mengetahui tentang dirinya sendiri dan lingkungannya. Orang yang tidak mengetahui dirinya sendiri dan lingkungannya akan menjadi serendah-rendah orang. Bahkan, untuk mengetahui tentang siapa sebenarnya Tuhan, yang bersangkutan harus mengetahui tentang dirinya sendiri. Seseorang yang menyadari keberadaannya tentu akan terdorong untuk mengetahui asal usul, siapa dirinya, amanah apa yang harus ditunaikan di dalam kehidupan ini, dan akan ke mana kelak setelah mati atau mengakhiri kehidupannya di dunia ini.

Sepanjang waktu di sekolah, para siswa seharusnya diajak untuk memikirkan, merenungkan, dan bahkan melakukan penjelajahan tentang alam, manusia, dan kehidupan ini, disesuaikan dengan perkembangan kemampuannya. Dalam kaitan itu, kekuatan akal para siswa tidak boleh hanya diposisikan sebatas sebagai kaset, CD, atau alat perekam lainnya, tetapi seharusnya diajak untuk memikirkan dan mencari jawab atas berbagai persoalan yang diajukan oleh para gurunya. Proses pencaharian terhadap jawaban atas persoalan yang diajukan itu tidak mengenal berhenti, dan pada saatnya akan menghasilkan orang-orang cerdas, kreatif, imajinatif, dan bahkan pada taraf tertentu akan berhasil mengenal Tuhannya.

Tentang betapa pentingnya tantangan dalam proses pembelajaran, saya teringat beberapa lulusan UIN Malang yang kemudian menemukan tantangan dan kemampuan menjawabnya. Semula, lulusan yang saya maksudkan itu kemampuannya biasa-biasa saja. Bahasa asingnya kelihatan pas-pasan, baik Bahasa Arab, dan apalagi Bahasa Inggrisnya. Akan tetapi, setelah lulusan dimaksud memperoleh lapangan pengabdian yang menantang, yakni menjadi pimpinan partai politik dan bahkan kemudian terpilih menjadi kepala daerah, ternyata saya nilai kemampuannya menjadi luar biasa. Ia menjadi bupati yang sukses, dan saya menyaksikan sendiri, lewat rekamannya, ketika ia berpidato di Amerika Serikat, di hadapan para pemimpin puluhan negara, tampak begitu mengesankan. Saya menduga, ia berkembang pesat setelah memperoleh tantangan dan mampu menjawabnya. Oleh karena itu, umpama sejak di sekolah, para siswa tidak saja diposisikan sebagai alat perekam, berupa kaset, CD atau sejenisnya, maka kemampuannya akan tumbuh maksimal. Memang otak manusia seharusnya bukan sebatas diposisikan sebagai alat perekam, melainkan agar digunakan untuk merenung, berimajinasi, berkontemplasi, menganalisis, dan berkreatifitas seluas-luasnya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up