Menghadapi Kasus-Kasus Kenakalan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 19 Mei 2014 . in Dosen . 606 views

Di mana-mana anak nakal itu pasti ada. Demikian pula di kampus perguruan tinggi Islam sekalipun. Dunia itu isinya memang aneka ragam, ada yang baik dan demikian pula sebaliknya, ada yang buruk. Tuhan menciptakan malaikat, ialah makhluk yang tidak pernah berbuat menyimpang, sepanjang waktu selalu taat menunaikan perintah-Nya. Tetapi Allah juga menciptakan syaithan, yang sepanjang waktu, mereka selalu menggoda manusia untuk melakukan kejahatan. Itulah sebabnya, manusia ada yang nakal, dan bahkan selalu berbuat jahat. 

Manusia yang tergoda oleh syaithan, maka perilakunya selalu menyusahkan orang lain dan bahkan sehari-hari pekerjaannya membuat kerusakan. Mereka tidak sadar bahwa perbuatannya itu salah, tercela, dan berdosa. Godaan syaithan itu sedemikian halus, sehingga orang yang tergoda oleh mereka masih merasa benar, dan bahkan kesalahan yang dilakukannya dianggap sebagai kebenaran atau bentuk perjuangan membela kebenaran. Mereka berbuat salah, tetapi tidak sadar bahwasanya perbuatan itu salah. 

Bertahun-tahun memimpin kampus, saya selalu menemui mahasiswa yang nakal seperti itu. Mereka selalu membuat olah yang tidak mengenakkan, dan bahkan hingga keterlaluan. Pernah suatu saat, mereka berdemo dengan membuat tulisan yang amat menyakitkan hati. Tulisan itu misalnya, rektor korup, dan atau bahkan kalimat-kalimat lebih buruk lainnya. Anehnya, setelah berdemo itu, mereka tidak mengundurkan diri dari kampus dan mencari perguruan tinggi lain yang lebih baik. Mereka tetap belajar di situ, sampai lulus. 

Padahal umpama mereka mau kristis sedikit saja, apa yang dilakukan sebenarnya sudah salah. Manakala tahu bahwa rektornya korup, dosennya korup, kampusnya korup, maka pertanyaannya adalah, mengapa mereka belajar di lingkungan yang korup ? Tatkala mereka tetap bertahan di kampusnya itu, maka disadari atau tidak, akan mendapatkan pelajaran dari orang-orang korup, dan bahkan nantinya akan memperoleh ijazah yang ditanda-tangani pula oleh orang-orang yang korup. Terasa aneh, tetapi hal itu tidak pernah disadarinya. 

Saya bersyukur, orang-orang seperti itu ternyata jumlahnya sedikit saja, atau tidak banyak. Dari jumlah yang sedikit itu, atas sebab yang tidak saya ketahui, di antara mereka ada yang kemudian sadar, bahwa tindakannya itu salah, keliru, dan merasa berdosa. Pernah suatu ketika, mahasiswa yang saya kenal nakal itu datang ke kantor, meminta maaf atas kesalahannya. Ia tidak saya marahi, tetapi saya suruh pulang ke kampungnya untuk meminta maaf kepada kedua orang tuanya terlebih dahulu. Saya mengatakan kepadanya, bahwa dosanya terhadap orang tuanya sendiri atas kenakalannya itu jauh lebih besar dibanding dosannya kepada saya. 

Kepada mahasiswa yang saya sebut nakal itu, saya katakan bahwa, manakala sudah meminta maaf kepada kedua orang tuanya, maka secara otomatis, saya juga sudah memaafkan kesalahannya. Hanya saja saya berpesan, agar tatkala ketemu kedua orang tuanya tidak mencium tangannya, melainkan mencium kedua telapak kakinya. Dia sempat menanyakan, mengapa harus mencium telapak kaki yang hal itu tidak lazim. Untuk menjawab pertanyaan itu, saya menanyakan tentang pekerjaan kedua orang tuanya. Ternyata dijawab, bahwa kedua orang tuanya adalah petani miskin yang hidup di pedesaan. 

Mendengar pengakuannya itu, saya segera menjelaskan bahwa dengan mencium telapak kaki, dan bukan mencium tangan, agar ia tahu bahwa kedua telapak kaki kedua orang tuanya tebal dan keras. Telapak kaki yang seperti itu, -------saya katakan, bukan tanpa sebab. Telapak kaki yang keras itu adalah sebagai akibat dari sehari-hari, mereka berjalan dan bekerja di kebun, atau di tempat-tempat kasar untuk mencari rizki yang sebagian untuk membiayai anaknya, kuliah di kota. Namun sayang, anaknya tidak menyadari atas betapa berat beban yang ditanggung oleh kedua orang tuanya itu. Maka, untuk meminta maaf, mahasiswa nakal dimaksud, saya anjurkan mencium telapak kaki ibu dan bapaknya sendiri. 

Mendengar anjuran saya itu, ia langsung menangis. Rupanya, ia mulai menyadari atas kesalahannya. Tetapi, sekalipun menangis, mahasiswa yang bersangkutan tetap saja saya suruh pulang dan melakukan apa yang saya anjurkan. Dengan anjuran itu, saya ingin menjadikan mahasiswa dimaksud sadar akan kesalahan yang dilakukan selama ini. Hasil dari anjuran itu, ------paling tidak, bahwa ia kemudian menangis, adalah merupakan pertanda munculnya kesadaran atas kesalahan yang dilakukannya. Pada saat itu, saya berharap, peristiwa itu merupakan awal bagi yang bersangkutan berubah menjadi baik. 

Sebagai guru, saya berusaha untuk tidak menghukum dan apalagi mengeluarkan dari kampus. Saya selalu berkeyakinan, bahwa kejelekan itu suatu saat akan bisa berubah menjadi baik. Mereka melakukan kesalahan itu oleh karena belum mengerti saja. Memang, ada kalanya orang cepat mengerti, cepat paham, dan cepat menyadari atas kesalahan. Namun juga sebaliknya, penyadaran itu kadang memerlukan waktu lama. Nabi Muhammad memberikan contoh, bagaimana menghadapi orang nakal, dan bahkan nakalnya lebih parah dibanding mahasiswa nakal sekarang ini. Menghadapi orang yang berbuat buruk, Nabi mengajak bersabar, dan memohon kepada Allah agar mereka segera diberi petunjuk. Manakala petunjuk atau hidayah itu telah datang, maka pasti mereka akan berubah menjadi baik. Fungsi lembaga pendidikan adalah membuat perubahan, yaitu berusaha mengubah orang nakal menjadi baik. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up