Pengalaman Belajar Menulis
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 8 Mei 2014 . in Dosen . 3332 views

Tulisan berikut ini sangat sederhana, sehingga hanya tepat dibaca oleh orang yang berkeinginan menulis artikel, buku, atau lainnya, tetapi masih merasa belum bisa. Orang yang memiliki perasaan tidak mampu menulis itu, ternyata tidak sedikit. Bahkan, hal itu tidak saja dialami oleh orang yag belum menjadi mahasiswa, tetapi juga oleh orang yang sudah lulus sarjana. Ada saja orang sudah pernah membuat skripsi atau bahkan thesis, tetapi masih saja merasa belum bisa menulis. Aneh sekali.

Suatu saat, ketika sedang di kantor, saya kedatangan beberapa orang. Semula saya mengira mereka itu masih akan mendaftar menjadi mahasiswa, namun ternyata di antara mereka mengaku sudah lulus sarjana. Mereka mengaku, datang ingin bersilaturrahmi. Tetapi kemudian, di antara mereka ada yang bertanya, bagaimana caranya bisa menulis. Sudah lama, -----katanya, mereka berkeinginan bisa menulis, tetapi keinginannya itu belum bisa dilakukan.

Bagi saya, pertanyaan seperti itu bukan sesuatu yang aneh. Sering sekali, saya kedatangan orang atau juga mahasiswa yang hanya sekedar menanyakan persoalan sepele seperti itu. Mendapatkan pengalaman tentang banyaknya orang yang bertanya tentang bagaimana membuat tulisan itu, saya yakin, sebenarnya masih banyak lagi orang yang mengalami hal serupa, yakni kepingin menulis tetapi belum tahu cara melakukannya.

Pertanyaan tersebut, biasanya saya jawab dengan cara sederhana. Saya sarankan, agar mereka menulis tentang apa saja yang diketahui dan sekiranya bisa dan pantas untuk ditulis. Saya biasanya melarang mereka untuk menulis sesuatu yang tidak ketahui. Menulis apa saja yang tidak diketahui akan sulit sekali, atau bahkan siapapun tidak akan bisa melakukannya. Selain itu, saya juga menyarankan, agar ketika akan atau sedang menulis tidak perlu berharap hasil tulisannya bagus, melebihi kemampuannya.

Biasanya sekalipun masih sedang belajar, orang tergoda untuk membuat tulisan yang bagus. Keinginan itu tidak salah. Memang, itulah seharusnya. Akan tetapi, manakala keinginan itu diingat-ingat, dan selalu dipegomani, maka biasanya tulisannya tidak akan selesai. Menulis satu kalimat, satu alinea, atau satu lembar, lalu dibacanya dan kemudian terasa kurang bagus, kemudian dibuang. Menulis lagi, kemudian dilakukannya hal yang sama. Jika hal itu yang dilakukan, maka sampai kapan pun, tulisan yang diinginkan tidak pernah akan terwujud.

Tatkala sedang menulis, maka semestinya tidak perlu hasilnya segera dibaca berulang-ulang, sebelum tulisan itu selesai. Boleh saja dibaca sepintas, tetapi jangan habis waktunya untuk membaca ulang tulisannya yang belum selesai itu. Manakala itu yang dilakukan, selain akan menghabiskan waktu, juga akan tumbuh perasaan, bahwa tulisannya dinilai sendiri kurang bagus, dan kemudian segera berhenti menulis.

Ketika kegiatan dimaksud sedang berlangsung, maka lebih bagus, menulis saja apa yang dipikirkan, dan tidak perlu membayangkan bahwa tulisannya kurang sempurna dan bahkan tidak bagus. Menulis akan lebih mudah lagi, ketika sambil membayangkan bahwa, ia sedang berdialog, menjelaskan, atau memberi tahu tentang sesuatu kepada seseorang yang ada di depannya. Tatkala sedang menulis, maka semangatnya adalah memberi tahu atau menjelaskan dan sama sekali tidak sekedar merasa sedang membuat tulisan yang baik. Pada saat yang demikian itu, maka menulisnya akan lancar, dan bisa jadi hasilnya akan enak dibaca dan bagus.

Hambatan psikologis lainnya sehingga seorang tidak menulis adalah karena yang bersangkutan merasa dirinya tidak bisa menulis. Kejadian aneh, seseorang menceritakan kemana saja, bahwa dirinya bukan penulis yang bagus. Padahal cerita itu sebenarnya tidak ada gunanya bagi siapa saja, baik untuk dirinya maupun terhadap orang yang diberi cerita itu. Bahkan cerita itu, hanya akan meyakinkan dirinya sendiri bahwasanya ia tidak bisa menulis, dan akhirnya betul-betul menjadi orang yang tidak mampu menulis.

Memang agak ganjil, seseorang ingin bisa menulis tetapi selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwasanya ia tidak bisa menulis. Padahal seseorang bersemangat menulis dan akan menulis, ketika mereka yakin bahwa dirinya pandai menulis. Meyakinkan diri sendiri, bahwa dirinya bisa menulis, itulah sebenarnya hal yang harus dipunyai bagi siapa saja yang berkeinginan menjadi penulis.

Mengetahui bahwa dirinya mampu menulis, memang juga bukan perkara gampang. Seseorang biasanya tidak tahu bahwa sebenarnya dirinya pintar menulis. Namun oleh karena tidak pernah mau menulis, maka kepintarannya itu tidak pernah diketahuinya. Banyak orang tidak tahu, bahwa dirinya pintar menulis hanya oleh karena yang bersangkutan tidak pernah melakukannya. Padahal seseorang mengetahui bahwa dirinya bisa menulis adalah tatkala ia selesai menulis. Oleh karena itu, untuk bisa menulis, maka cara yang paling gampang adalah, mulai sajalah menulis, maka lama kelamaan akan menjadi terbiasa dan akhirnya akan menjadi penulis yang baik.

Pada awalnya, saya juga begitu. Berkeinginan bisa menulis, tetapi merasa tidak bisa menulis. Namun setelah saya mencobanya, ternyata saya bisa. Saya tidak pernah merasa hasil tulisan saya buruk. Perasaan negatif itu selalu saya hilangkan. Bersikap negatif terhadap diri sendiri, menurut pengalaman saya selama ini, hanya akan merugikan diri sendiri. Maka, kita perlu khusnudhan terhadap diri sendiri, bahwa sebenarnya, menulis itu mudah dan bisa melakukannya. Inilah pengalaman memulai menulis, sederhana, dan siapapun bisa, tinggal mau mencoba atau tidak. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up