Banyak orang mengenal saya sebagai pimpinan perguruan tinggi. Hal itu memang benar, saya pernah menjabat sebagai pembantu rektor I Universitas Muhammadiyah Malang selama 13 tahun, yaitu dari tahun 1983 hingga tahun 1996. Sebelumnya, pernah menjadi wakil dekan FKIP dan kemudian menjadi Dekan FISIP UMM. Kalau tidak salah ingat, saya ikut membesarkan perguruan tinggi milik Muhammadiyah tidak kurang dari 20 tahun lamanya.
Selanjutnya, sejak tahun 1997 hingga tahun 2013 saya diserahi tugas memimpin STAIN, kemudian berubah menjadi UIIS, dan akhirnya kampus itu berubah lagi menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Mungkin oleh karena begitu lama saya ikut memimpin perguruan tinggi itu, saya lebih banyak dikenal sebagai pimpinan kampus, baik kampus swasta maupun negeri.
Padahal sebenarnya, sebelum memimpin perguruan tinggi, saya pernah menjadi kepala MINU atau Madrasah Ibtidaiyah Nadlatul Ulama di kampung saya sendiri. Ayah dan ibu saya sebagai seorang kyai kecil-kecilan, semasa hidupnya, merawat madrasah. Mungkin pikiran ayah sederhana saja, yaitu daripada mencari orang jauh-jauh, maka anaknya sendiri diserahi tugas menjadi kepala madrasah, agar sekaligus berlatih memimpin lembaga pendidikan Islam. Tugas itu juga cukup lama, kalau tidak salah ingat, lebih dari lima tahun.
Dari pengalaman menjadi kepala MINU itu, saya seringkali membuat kelakar, bahwa pada umumnya madrasah di pedesaan itu memiliki tiga ciri penting, yaitu tahan hidup, sukar maju, dan kaya masalah. Madrasah selalu tahan hidup. Tidak pernah ada madrasah mati. Sebab, sekalipun muridnya tinggal puluhan saja, biasanya oleh para pengurusnya tetap dipelihara. Mereka mempertahankan madrasah dengan niat berjuang dan beribadah. Sedangkan berjuang dan beribadah dalam keadaan apapun tidak boleh berhenti.
Ciri madrasah berikutnya adalah sukar maju dan kaya masalah. Lembaga pendidikan madrasah, dan apalagi yang berstatus swasta, mereka biasanya mengalami kesulitan dalam mencari dana. Padahal tanpa dana yang cukup, madrasah tidak akan berjalan sempurna. Madrasah swasta, sebelum diberi BOS seperti sekarang ini, hanya mengharapkan dari SPP yang dibayar oleh siswa. Padahal di daerah-daerah tertentu yang taraf ekonomi masyarakatnya lemah tidak akan mungkin dibebani, harus membayar SPP yang tinggi. Ditentukan harus membayar murah saja masih selalu nunggak. Menghadapi persoalan seperti itulah, madrasah menjadi sulit maju, dan juga kaya masalah.
Dengan kerja keras dan ulet, saya bersyukur, madrasah yang saya pimpin oleh banyak kalangan di desa itu disebut maju. Madrasah itu memiliki murid hingga sekitar 400 siswa. Saya masih ingat, bahwa pada waktu itu, madarasah yang memiliki murid sebanyak itu jarang ditemukan. Sekarang ini, madrasah yang dulu saya pimpin masih hidup, hanya rupanya, lembaga pendidikan Islam ini kembali pada ciri khasnya, yaitu seperti yang saya sebut di muka, ialah sulit maju. Namun memang pada umumnya, madrasah di pedesaan sekarang ini kekurangan murid. Hal itu disebabkan, terlalu banyak jumlah madrasah dan atau jumlah anak usia sekolah semakin berkurang.
Hal yang tidak mudah saya lupakan, ketika menjadi kepala MINU, adalah cara yang saya tempuh dalam mencari dana untuk kepentingan madrasah. Pada waktu itu, saya lihat masyarakat pasti memiliki pohon kelapa. Maka, sebagai ganti membayar SPP, pada awal masuk, orang tua murid, saya ajak menginfaqkan dua batang kelapa. Kalau madrasah punya 400 siswa berarti akan memiliki 800 batang kelapa. Secara teoritik, cara ini sangat bagus, tetapi dalam kenyataannya sulit diharapkan hasilnya. Biasanya, setelah berjalan beberapa bulan, buah kelapa yang sudah diwakafkan itu, dipetik sendiri oleh pemiliknya masing-masing terlebih dahulu.
Gagal dalam mengumpulkan dana dari keharusan infaq pohon kelapa, saya mencoba cara lain. Para siswa, saya ajari menanam pohon pepaya di kebunnya masing-masing. Tugas ini saya berikan sekaligus menunaikan pelajaran prakarya. Setiap siswa, saya tugasi menanam milimal 20 batang pepaya, dengan rincian 10 batang untuk madrasah, dan 10 batang lainnya agar dipanen sendiri. Awalnya, usaha ini bagus, tetapi tidak lama kemudian juga tidak jalan. Entah kemana buah pepaya itu, sebelum waktunya dipetik, ternyata sudah hilang.
Kesulitan yang paling terasa di dalam mendapatkan dana madrasah adalah menemukan orang jujur. Akibat tidak adanya kejujuran maka hampir setiap usaha selalu gagal. Akhirnya, saya menemukan jenis usaha yang memaksa siapapun berbuat jujur. Saya menugaskan kepada setiap siswa, yang datang ke madrasah harus membawa sebatang pelepah kelapa atau jenis kayu bakar lainnya. Bahan bakar tradisional itu pada setiap bulan saya jual kepada perusahaan pembakar gamping. Hasilnya, saya gunakan untuk membiayai madrasah, dan ternyata cukup.
Memimpin madrasah di pedesaan, teryata tidak mudah. Kesulitan itu biasanya terletak pada upaya mencari sumber dana. Pengalaman lainnya bahwa, dalam hal-hal tertentu, mengurus madrasah, ternyata lebih sulit dibanding mengurus perguruan tinggi di kota. Namun di antara keduanya masih ada kesamaannya, ialah betapa sulit mencari orang yang benar-benar bisa dipercaya. Ternyata hati orang itu bisa berubah-ubah. Suatu saat kelihatan baik, ikhlas, sabar, dan jujur. Akan tetapi, pada saat yang lain, tanpa diduga, berubah menjadi sebaliknya. Keadaan seperti itulah yang menjadikan seorang pemimpin dituntut selalu berhati-hati dan atau waspada, jangan sampai menjadi korban dari orang yang berubah menjadi tidak jujur. Wallahu a'lam.



